Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Minggu, 15 Januari 2012

Complete lyrics: http://www.directlyrics.com/tinie-tempah-written-in-the-stars-lyrics.htmlComplete lyrics: http://www.directlyrics.com/tinie-tempah-written-in-the-stars-lyrics.html

MELIHAT PARA PERINDU


Melihat para perindu membacakan diri
tak segan mengeluh pada situasi
entah jarak atau waktu yang menjadi penyepi
setiap perindu pasti akan masuk pada ruang sepi..

oh para perindu, bersahabatlah dengan waktu
setiap perindu punya harapan dan impian..
tapi tidak semua kesempatan jadi sahabat perindu

Sabtu, 14 Januari 2012

Saya Curiga Kampus Salah diagnosa Teman-teman




Fenomena kecil yang ku temui di dunia perkuliahan sangat menggelitik.  Sebagian besar mahasiswa awal masuk kampus mempunyai harapan adalah untuk menjadi profesional dibidangnya masing-masing. Melalui proses pengujian yang dianggap layak sehingga dapat mengikuti perkuliahan dan diterima sebagai mahasiswa di kampus tertentu. Ada banyak motif filter atau seleksi  calon mahasiswa. Yang paling terkenal sekarang adalah test komputerisasi. Mengikuti test tatap muka dengan sistem komputer ,kemudian setelah mengisi beberapa pertanyaan yang diajukan  dan pengumuman hasil test bisa langsung di ketahui atau dilihat langsung.
Terkait dengan metode penilaian automatic oleh komputer denngan kriteria baku yang sudah ditetapkan sudah dianggap cukup ampuh untuk membaca potensi mahasiswa untuk mengikuti disiplin ilmu tertentu.
Setelah proses penyeleksian selesai, mahasiswa syah secara teoritis mampu menempuh perkuliahan tersebut. Kemudian dalam beberapa kurikulum ada sistem filter tahap berikutnya seperti sistem drop out setelah menempuh 4 semester perkulaiahan. Dan berikutnya pada 7 tahun masa perkuliahan jika tidak mampu menempuh Standar IPK tertentu, dinyatakan gagal.
Itu sekilas tentang hirarki penggodokan potensi mahasiswa dikampus. Saya pribadi juga mengalami hal tersebut dan mungkin para pembaca pernah mengalami hal serupa diatas. Menurut pengalaman pribadi saya, sebagian besar mahasiswa mengalami kecelakaan akibat sistem tersebut. Dari beberapa teman yang sejurusan dengan saya, ketika ditanya “Kenapa Masuk Teknik Sipil?” jawabannya “pengen menjadi pegawai Negeri Sipil”. Ada juga jawaban lain yaitu “kemaren pengennya masuk arsitek, namun saya diterima di teknik Sipil”. Ini salah satu contoh yang kubilang sebagai sebuah kecelakaan sistem yang perlu dievaluasi. Selain itu, setelah berproses didalam dunia kampus, mahasiswa banyak terjun ke ruang-ruang organisasi kampus seperti UKM dan study Club. Pada tahapan ini, mahasiswa mengasa potensi yang terpendam dan itu diluar akademik. Seperti Pecinta Alam, Pers, Sepak Bola, dll.
Lantas pasti ada yang bertanya, salahnya dimana?
Pada pertanyaan diatas, saya mempunyai dua jawaban. Yang pertama, Kita bisa melihat dari segi kenyamanan dan motivasi. Kemudian berikutnya hasil akhir setelah Berproses. Kedua jawaban ini mempunyai hubungan erat untuk menjawab atau menjadi evaluasi sebuah sistem pendidikan.
Terkait dengan contoh kasus diatas, Hobi mahasiswa tersebut adalah Menggambar bangunan, ternyata penilaian sistem bahwa mahasiswa tersebut lebih layak diterima pada Jurusan Teknik sipil. Menurutku ini sebuah ironi dalam penilaian komputerisasi. Motivasi seorang mahasiswa menjadi faktor penentu dalam menjalani proses pendidikan. Selain itu, hobi juga menjadi salah satu faktor pendukung kesuksesan mahasiswa dalam menjalani proses pembelajaran. Ketika mahasiswa merasa tidak nyaman dan tidak mempunyai motivasi untuk mengenyam pendidikan tersebut, maka jangan berharap hasil memuaskan dari mahasiswa tersebut. Artinya bahwa dengan hasil yang minim, kemudian akan berpengaruh pada nasib mahasiswa tersebut setelah lulus nanti.
Situasi kampus hari ini, dengan mengejar standar pendidikan atau kategori tertentu, memaksa mahasiswa untuk belajar lebih keras. Mendesain sistem sedemikian rupa agar mahasiswa mampu mencapai kualitas yang diharapkan. Sebagian besar kampus diyogyakarta sudah menerapkan suatu standar khusus sebagai nilai lebih dari kampus tertentu. Penerapan sistem demi sistem memang membuahkan hasil yang signifikan, namun dalam situasi seperti ini, perlu mempertimbangkan keseriusan mahasiswa. Standar drop out tidak lebih dari sugesti untuk mempercepat proses perkuliahan. Mahasiswa dianggap punya kemampuan yang merata, namun mereka lupa bahwa Hobi dan kenyamanan juga akan mempengaruhi kualitas mahasiswa tersebut. Ini bukan sebuah kepastian, bisa dibilang sebagai hipotesis sementara berdasarkan pengamatan pribadi. Sebagian besar kawan yang mengalami kecelakaan tersebut, masih bertahan dikampus, karena belum menyelesaikan persyaratan kelulusan. Ini merupakan satu effek dari sistem komputer yang tidak mampu mendeteksi “potensi dan motivasi” mahasiswa, sehingga kuliah tersendak. Selain berpengaruh pada proses perkuliahan, juga berpengaruh pada orientasi pasca kelulusan atau produktivitas mahasiswa nantinya. Tidak jarang kita menemukan para sarjana bekerja diluar bidang akademiknya atau bahkan nganggur. Aku melihat bahwa dari segi potensi maupun motivasi, mahasiswa yang mengalami kecelakaan akibat penilaian sistem komputerisasi membunuh kreativitas dan potensi mereka.
Terlepas dari semua interpretasi diatas, yang jelas teman-teman saya belum lulus sampai hari ini. Karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendalami ilmu yang mereka sukai, sebagian yang memang kurang mampu dalam penyerapan.  Dengan pembatasan masa studi perkuliahan, maka menjadi bagi mahasiswa yang kurang mampu (kempampuan otak).


Saya Curiga Kampus Salah diagnosa Teman-teman
Ary Toteles


Jumat, 16 Desember 2011

Saat itu sebentar lagi tiba....
Jika sampai pada waktunya..
semua harus kulepas ....


saat itu sebentar lagi kusampai... 
jika sampai pada waktunya
aku harus tersenyum hadapi

 
saat itu, dimana senyum bisa jadi tangis...
saat itu, dimana tangis bisa jadi senyum...
kesiapan kita akan menentukan perubahan itu...
senyum dan menangis,,,, 
menyesal dan menikmati...
 
 
saat itu, sebentar lagi tiba,..
 
(refleksi Akhir Tahun) Ary Toteles  desember... 2011

Minggu, 04 Desember 2011

AKU (JIWA) BERTAMASYA KE BUMI


(Fatwa Alam 04)
I
aku
Sadar berkabut nafsu
Akpun begitu nyaman terperangkap
Hingga tak sanggup bangun
Akhirnya kumulai dengan mimpi nyata
II
Jalan-jalan itu sudah sepi
Satu persatu hilang telah pergi
Perlahan ku mengayung langkah
Sampai pada satu masa
III
Satu-satunya yang kutahu, aku sedang berjalan
aku yang sadar, tapi disini aku asing
Sadar belum mampu menyadari
Indra tak mengenal fenomena
Kulihat, kudengar, kurasa,
Aku lupa pada eksistensi ku.
IV
siapa aku?
darimana aku?
Kenapa aku disini?
Untuk apa?
Setelah ini aku hendak kemana?

Serangga Guruku


(Fatwa Alam 03)


Alam adalah rumah, setiap benda adalah penghuni. Yang diam bukan tak hidup, yang tidak bicara bukan tidak mampu memberi hikmah. (Ary Toteles)

Ini ceritaku tentang bagaimana seekor serangga kuanggap sebagai guru.................
Sebagai seorang anak bungsu yang manja, aku tidak cukup pandai membersikan tempat tidurku. Disaat bangun tidur, tempat tidur tak pernah ku rapikan. Atau pulang sekolah, seragam dan buku berserakan diatas kasur. Mmmm ini kebiasaan jelek yang bikin jengkel ibuku. Namun ibuku terus memanjakan aku dengan kebodohanku yang tidak disiplin dan jorok. Mungkin ibuku berharap aku bias berubah tanpa harus disuruh atau didikte. Hahaha..itulah kebiasaanku diwaktu sekolah..mmm
Sekarang, melanjutkan kuliah dikota gudeg… saat hendak merantau, ibuku selalu berpesan menjaga kebersihan. Katanya “nak, tolong tinggalkan kebiasaan jorokmu disini, selepas pesawat hendak terbang, titiplah sifat jelekmu di tanah Maluku. Ibu berharap kamu bias menjaga kebersihan, perhatikan tempat tidur. Sebentar di tanah orang, tidak ada yang membersihan dan merapikan kamarmu lagi nak…”..itulah harapan ibuku, agar aku bias disiplin. Mmm
Setiba di Jogjakarta, aku diterima di kampus swasta, jurusan teknik sipil.. rutinitasku seperti layaknya mahasiswa biasa, nah tapi yang jeleknya kebiasaan jorokku masih ikut sampai ke jogja. Hahahaha… mungkin lupa ditaro di ambon kali yaa..hahaha
Suatu hari, aku pulang dari kampus. Waktu itu aku tidak tidur seharian. saking capek beraktivitas, berharap sampe ke kos bias tidur pulas. Eh pas buka pintu kamar, ternyata para serangga lagi berpesta didalam kamarku. Mmm pusing lagi deh… aku coba paksakan tidur, namun para serangga kayanya udah ga mau kompromi, mereka (serangga) keenakan dikamarku, akhirnya akupun dijadikan objek permainan. Mmmm sunggguh suatu musibah…akhirnya akupun harus bertarung melawan para serangga,.akupun berdiri cari semprot baigon, ku hajar semua dalam kamarku.. hahahah hatiku senang, serangga bias kabur.. eh pas mau tidur, nafas sesak karna saking bau baigon ampe ga bias tidur..sial sial….saat itulah ku berjanji untuk perhatikan kamaerku…. Setelah cape seharia begadang, kemudian bersihkan serangga dari kamar, eh malah baigon jadi maslah..mmmm..tapi ku bersyukur dengan para serangga yang sudah memilih kamar ku yang jorok untuk tempat berpesta, akhirnya aku jadi sadar, dengan keberadaan serangga yang begitu banyak, itu pertanda kebersihanku sudah melampaui batas…
Para serangga itulah yang ajarin aku tentang kebersihan. mereka mencoba menegur aku agar selalu menjaga kebersihan kamarku. Serangga sebagai pembawa risalah, “keberadaan mereka adalah kritik atas lingkungan”. Aku melihat keberadaan serangga bukan sebagai  hewan kotor, namun itulah ciptaan allah sebagai tanda alam untuk mengajarkan manusia tentang kebersihan. “keberadaan serangga siuatu tempat adalah petunjuk bagi manusia kalau tempat yang dihuni serangga adlah tempat kotor”. Bukan berarti mereka kotor, namun mereka menjalani tugas sebagai pembawa risalah, layaknya para nabi, jika mendatangi suatu tempat, itu berarti tempat tersebut hendak dibersihkan. Bedanya nabi yang melakukan pembersihan, sedangkan serangga hanya sebagai tanda atau ayat-ayat yang tersirat..hihihi
Ku jadikan serangga sebagai guruku, karna dialah mahluk yang menyadarkan aku tentang pentingnya kebersihan..hahahahha… alhamdulillah syukur,,
(ary Toteles, di kamar kost 14 november 2011)

AKU DAN RUMPUT

(Fatwa Alam 02)

Rumput berkata : Diam Berarti tidak manusiwai  !! (Ary toteles)
Rumput hanyalah tumbuhan kecil yang merayap pada tanah atau batang pohon. Kita bisa temukan rumput dimanapun dan mungkin kesehariannya kita sering berjalan melewati nya bahkan menginjaknya. Mungkin bagi sebagian dari kita (manusia) adalah hal biasa. Karena,Dengan berukuran kecil sehingga rumput sering diabaikan oleh pejalan kaki. Sebagai mahluk hidup, rumput pun jadi bagian dari kita. Berkembang biak dan punya konstribusi real bagi manusia. Diantaranya Menghiasi taman-taman, pekarangan, dam jalan-jalan. Mungkin itu sebagian yang kita pahami dari rumput dan manfaat praktis dalam kehidupan. Tetapi tetap saja rumput bagi sebagian manusia hanyalah tumbuhan liar yang tak memiliki nilai (Bukan Harga) jual . menurutku (dalam pengertian maknawi),  rumput tak ubahnya manusia. Mempunyai harapan  untuk hidup tenang dan damai. Mungkin jika mereka mampu berkata-kata, maka pasti mereka akan mengeluh pada manusia dengan berkata  “jangan Babat kami, jangan babat kami, kami kaum kecil mau ditata namun tidak mau digusur”. 
Saya melihat eksistensi rumput tak jauh beda dengan masyarakat kecil suatu Negara berkembang seperti Indonesia. Bernaung dibawah satu bendera kebanggaan dan tunduk pada aturan dasar yang tidak mereka sepakati. Namun mereka terus menjalani hari-hari dengan harapan dapat hidup nyaman dan tentram. . . memang kenyataan tidak selalu seindah harapan. Para penguasa selalu saja mendiskriminasikan mereka. Menjadikan mereka obyek pelampiasan hasrat berkuasa. Rakyat kecil layaknya rumput, tidak lebih dari pion-pion yang meramaikan panggung kehidupan tapi tak punya arti khusus dimata orang-orang besar. Satu-satunya posisi rakyat dimata orang besar adalah obyek ekperimentasi konsep untuk mencapai harapan mereka (kaum konglomerat). Rumput pun demikian, mreka hanya dijadikan pelampiasan hasrat keindahan manusia. Ketika tidak dibutuhkan maka mereka akan digusur.  
Fitrah manusia adalah mahluk berpikir dan memiliki kehendak bebas. Pada titik ini kita dibedakan dengan mahluk hidup pada umumnya (khususnya rumput). Keberadaan rumput disekitar kita merupakan hikmah sekaligus gugatan/kritik atas eksistensi kita sebagai manusia.  sebagai mahluk berpikir, kita punya harapan untuk damai dan merdeka.  Disisi lain, kita juga mempunyai kehendak bebas untuk bertindak untuk mewujudkan keinginan (kehendak) kita masing-masing.  Saat aku melihat rumput (dipotong,dibabat,diinjak), aku merenung dengan perilakunya (rumput) yang  hanya diam dan diam. aku yakin mereka (rumput) punya alasan untuk tumbuh dan mekar dimanapun. Tetapi kenapa mereka selalu diam disaat “kebebasan mereka digugat (digusur)” oleh imaginasi atas keindahan manusia. 
Aku                 :  wahai rumput, aku tau kamu ingin bebas diseluruh sudut bumi. tapi disaat kebebasanmu diusik oleh manusia (sang khalifah bumi), kenapa kamu diam?
Rumput           : inilah takdirku.
Aku                 :lantas kalau begini takdirmu, kenapa tuhan harus menciptakanmu?
Rumput           : Jika aku tidak diciptakan, siapa akan menjadi rakyat untuk kamu (manusia)? Kamu adalah khalifah (raja/pemimpin) di alam semesta dan  aku (rumput)adalah bagian dari alam. Diamku bukan tanpa hikmah. Ingatkah tuhan kita pernah berkata    : “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan selisih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal .(yaitu) orang-orang yang mengingat allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : ya tuhan kami, tiadalah engkau mencip[takan ini dengan sia-sia”.(Q.S.Ali Imran :190-191).
Aku                 : apa pelajaran yang hendak kau berikan kami (manusia)?
Rumput           : aku hanya menghadirkan keindahan, aku bisa dijadikan obat, aku bisa dijadikan alas untuk tidur.  aku diam, aku menerima perlakuan sesama mahluk tuhan dengan semena-mena. Keberadaanku layaknya masyarakat disebuah Negara dan kalian manusia sebagai pemimpin (khalifah dimuka bumi). Namun aku ketika diperlakukan buruk oleh manusia, aku hanya bisa diam dan setia menjalani fitrahku sebagai tumbuhan kecil dan tidak mampu berkehendak bebas. Namun kalian (manusia) berbeda denganku, fitrah kalian sebagai mahluk berpikir dan berkehendak bebas harus dimanfaatkan. Itu anugrah dari tuhanmu. Ketika sesama (penguasa/pemerintah Negara)  kalian berbuat tidak adil, maka jangan DIAM.kalian adalah khalifah dimuka bumi, kalian memiliki fitrah berkehendak bebas. Kita (mahluk hidup) semua membutuhkan kedamaian dan keadilan. Sebagai khalifah, berbuatlah selayaknya khalifah. Jika kalian diam (melihat ketidakadilan, penindasan, penjajahan) maka tidak manusiwai !!! Sampaikan pesanku (rumput) kepada seluruh rakyat Indonesia agar “bergeraklah melawan ketidak adilan, jangan diam karena diam bukan fitrah manusia. Kalian bebas dan merdeka”.
Rumput diam, member kita pelajaran untuk bergerak.
Rumput diam, member kita isyarat untuk terus berpikir.
Hanya dengan diam, rumput mengajarkan aku menjadi manusia.
 (Ary Toteles inspirasi dari hampraran Rumput di Puncak Merbabu, Boyolali 2010)

ALAM WUJUD CINTA

(Fatwa Alam 1)

Katakanlah : “perhatikan apa yang ada dilangit dan bumi”.(QS.Yunus :101)
Dalam sejarah pemikiran manusia, alam menjadi topic utama dari pembahasan para filosof yunani clasik Sebagian besar manusia kala itu hanya berkutat pada maslah kekayaan dan jabatan atau bisa dibilang hal-hal praktis dari kehidupan.  hanya beberapa orang yang  sadar (bukan mitos) dengan fenomena-fenomena alam . kesadaran mereka menggiring pada satu titiuk permasalahan penting yang memerlukan jawaban rasional    Upaya mereka melahirkan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang harus diselesaikan oleh penghuni alam (khususnya manusia sebagai mahluk berpikir). misalnya : Dari mana datangnya dunia? kenapa kita ada didunia? Dari mana kita? Untuk apa kita disini? Dan mau kemana setelah mati? Hal ini yang mendorong para filosof untuk bekerja keras (berpikir) memecahkan sekian pertanyan tersebut. dari proses itulah lahirlah Banyak teori terkait dengan Epistemologi alam.
Berawal dari thales membuat pernyataan bahwa “yang terpenting adalah Air”. Thales berpendapat bahwa air adalah substansi dasar yang membentuk segala hal lainnya. Bumi pun menurut dia terapung diatas air. Anaximander memiliki argument lain untuk membuktikab bahwa bumi bukan subtansi dasarnya adalah air. Dia sendiri berpendapat bahwa unsure pembentuk alam adalah ada tanah, ada api, dan ada air. Masing-masing harus ada dalam takaran tertentu dalam pembentukan alam.  Sedangkan anaximenes berpendapat bahwa unsure pembentuk alam adalah udara. Obyek/benda dialam ini subtansinya berasal dari udara. Perbedaanya adalah kuantitas subtansi pada obyek tersebut. Berbagai hipotesis diutarakan hingga berakhir pada pendapat demokritus yang mengatakan bahwa bumi tercipta dari partikel-partikel kecil yaitu Atom. Teori ini bertahan lama dan diabad-abad berikutnya ditemukan bahwa ternyata atom bisa dibagi-bagi menjadi electron,neutron dan proton. Ini sejarah singkat tentang bagaimana pengaruh alam dalam sebagai sumber pengetahuan bagi manusia.
Sampai hari ini, kita masih bisa menemukan perdebatan-perdebatan seperti itu. Perkembangan aliran pemikiran menjadikan manusia memiliki banyak pilihan untuk menentukan nilai (aksiologi) yang hendak dipakai untuk memandang dunia. Jatuhnya pilihan pada suatu nilai (aksiologi) merupakan satu proses panjang. Beragam macam Nilai atau ideology yang dianut memiliki cara pandang dunia /alam (Ontologi) . Sehingga Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi kebenaran mutlak (bagi penganutnya). Pembakuan nilai-nilai tersebut manjadi suatu bencana baru bagi peradaban manusia. Awalnya hanya sebatas pertarungan gagasan dan pemikiran, berujung pada upaya saling mendominasi. Salah satu nya adalah Perang dunia I dan II. Itu merupakan effek dari pertarungan nilai yang dianut oleh manusia. Pada titik ini, kita tak bisa memponis siapa yang salah dan siapa yang benar. Mana yang harus dianut dan mana yang harus dihindari. Tergantung sejauh mana kontektual Ide (nilai) terhadap realita di lokalitas masing-masing.
diIndonesia, sebagian besar nilai yang dianut oleh rakyat terkesan tidak konteks dengan kondisi realitasnya. Paham marxis, nilai yang hendak dicapai adalah masyarakat tanpa klas. Karena bagi mereka (kaum marxis) system klaster dalam tatanan social merupakan satu bentuk penindasan dan subordinasi atas kehendak bebas manusia. Lantas yang jadi peertanyaan? Bagaimana bentuk pengklasifikasian kelas dalam pengertian marxisme? Hubungan kerja antara Pekerja (proletariat) dan Pemilik Usaha (borjuis) dalam suatu pabrik. Bagiku syah-syah saja, itu konteks dengan realitas eropa di abad 17 yaitu revolusi indurstri. Namun di Indonesia bukan Negara industry, yang ada hanyalah masyarakat petani dan nelayan. Dan sebagian besar memiliki tanah garapan (kebun) serta kapal pribadi untuk mencari ikan. Itu artinya kurang tepat jika komunisme hendak dipaksakan di Indonesia. Begitupun kapitalisme yang dibawah oleh kaum penjajah. Dalam etika protestan karya max weber, disana dikatakan bahwa yang kaya memiliki peluang lebih besar untuk mendapat kehidupan sejahtera di dunia dan diakhirat. Yang akhirnya missi keagamaan berapih ke missi pengumpulan harta dengan motif penjajahan serta politik adu domba (devide at impera). Salah satu kapitalisme adalah akumulasi modal sebesar-besarnya. Artinya dengan pengeluaran sedikit dan mendapat pemasukan yang sebesar-besarnya. Sehingga apapun dihalalkan untuk memperoleh keuntungan besar. Motif inipun tak sejalan dengan prinsip masyakat Indonesia yang kaya akan nilai kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan. Itu adalah salah satu bentuk pemaksaan sebuah nilai  (benar secara pemahaman) belum tentu konteks pada dengan realita. Apa yang terjadi dengan pemaksaan Nilai yang tidak konteksual di indonesia? Ada  pembantaian missal 1965 G 30 Sep, Perang Seroja, peristiwa malaria, dll. benturan nilai yang terjadi melahirkan ketidak-nyamanan, mengancam perdamaian, merusak kesepakatan, dan lain sebagainya. Peritiwa-peristiwa tersebut bertum,pu pada cara pandang yang dianut oleh manusia-manusia. Ada yang bertindak atas nama tuhan, ada pula yang berbuat untuk uang, dan ada yang berbicara atas nama ideology.  Semua itupun memakan banyak korban. Sementara yang Awam Berharap perdamaian abadi dan keadilan social, namun selalu tak mampu diwujudkan.

II.  Ketika tidak ada satupun Ideologi (Nilai) yang relevan?
Keterbatasan pemahaman kita terhadap alam, tidak serta merta menjadikan alam itu kerdil. (ary Toteles)
Dunia jika dipandang dari kaca mata cinta, maka yang tampak adalah sebuah kesatuan utuh dan tidak terpisahkan. Kita mampu membaca keberadaan wujud dan hakikat untaian ayat-ayat suci dalam gerak alam semesta.
Dengan cinta, kita berusaha lebih banyak menjadi mahluk pemikir untuk memahami sekian misterius yang belum terpecahkan secara filosofis. Terkadang kita lupa dengan keberadaan mahluk lain disekitar kita. Ke-aku-an sebagai manusia terlalu tinggi hingga  tak mampu melihat keberadaan sesame - mahluk lain dalam perspektif cinta aku sebut sebagai sesame yang menjadi bagian dari cinta.
 “ kita berbeda dalam segala hal kecuali dalam cinta…(soe hok  gie)”.
Kata-kata itu semestinya ditujukan untuk seorang kekasih, namun aku lebih senang jika kita gunakan kata-kata itu sebagai suatu asas atau dasar pijakan. Dalam untaian kalimat itu, Gie sedang berkata pada seluruh umat manusia bahwa kita belum mempunyai satu alternative perekat selain cinta. Karena dalam cinta, kita mampu menembus lapisan pembeda dalam masyarakat dan tidak ada sekat antara kita, tidak ada perbedaan diantara kita, sehingga yang tersisa adalah eksistensi cinta dalam masyarakat.
Cinta yang sering dipahami dalam konteks berhubungan khusus (asmara) antara “lawan jenis maupun sesame jenis”  adalah pemaknaan sempit atas cakrawala cinta itu sendiri. Karena cinta dalam makna ini akan menemukan inkonsistensi makna. Disatu sisi, semua manusia sepakat bahwa kata “cinta” harus sebagai nilai  pada diri manusia dan tak jarang di pahami sebagai  mantra perdamaian. Sehingga memperoleh ruang lingkup yang lebih luar.  disisi lain, jika kita mengamati pemahaman cinta dalam konteks “asmara”, tak jarang terjadi pendistorsian dan pendangkalan oleh subyek (pelaku asmara).  Hal ini terjadi karena salah memahami  makna cinta secara universal (pada pengertian pertama). Banyak mengatakan cinta itu virus mematikan, ada juga berpikir  cinta itu hanya membawa bencana. Biasanya bahasa-bahsa itu muncul ketika terjadi keretakan hubungan.  Disinilah inkonsistensi yang terjadi ada pemahaman cinta oleh sebagian besar manusia. Kegagalan dalam Upaya untuk memiliki sesuatu yang dicintai, akan megakibatkan rasa sakit. Sehingga muncul istilah cinta itu menyakitkan. Padahal jika kita tela’ah secara jujur, cinta itu sendiri tak pernah berwujud. Lantas bagaimana cinta itu bsia menyakitkan? Bukankah sakit itu perspektif dari diri kita sendiri? Jelas rasa sakit itu lahir dari persfektif kita terhadap kegagalan kita mengejar cinta (sesuatu yang kita suka). Sesuatu itu sendiri bukan hakikat dari cinta.
Problem pemaknaan cinta pada episode asmara saja yang hanya melahirkan kekeliruan. Selain dari problem itu, aku piker cinta lebih konteks untuk semua manusia dimanapun dan kapanpun. Tidak dibatasi pada ras, agama, dan Negara.  Disini kita akan melihat bahwa cinta melampaui apa yang kita pahami. Keterbatasan kita tak akan membatasi ruang lingkup cinta. Karena itu adalah satu nilai tanpa batas dan tidak mampu dibatasi. Seperti keberadaan kita di alam semesta. Dari pijakan kaki, pulau, benua, sampai planet, dan galaksi. Kita tak mampu menjangkau semuanya dengan keberadaan materi yang terbatas. Apakah cinta masih relevan untuk dijadikan alternatif bagikegagalan ideology?? Jawabannya, cinta tidak akan sampai pada pembakuan tmenjadi ideology. Dia hanya sanggup dijadikan cara pandang (ontology). Karena cinta sudah lebih dulu diterima oleh seluruh mahluk (bukan saja manusia) sebagai nilai kehidupan. cinta sebagai cara pandang, sudah dijalani oleh mahluk hidup secara berkesinambungan. Hanya saja sebagian besar manusia sebagai mahluk berpikir  belum menyadari hal ini. Contoh, seorang karl marx begitu terpuruk tanpa Jenny istri nya. Yang dibilang karl marx dengan tertindas dan tersiksa adlah bukan pada pengklasifikasian kelas, tapi ada pada kehilangan cintanya (jenny) dan Diakhir hayat banyak puisinya untuk memuja jenny. Demikian pula seekor hewan menganut cara pandang cinta. Mereka sejatinya akan berdamai dengan hewan selain mereka, jika tidak diusik. Berdamai disini kupahami sebagai sebuah bentuk aplikatif dari nilai Cinta. Sebatang pohon pun akan demikian, ketika kita merawat mereka, memberi pupuk dan member air sesuatu kebutuhan, maka dengan sendirinya pohon itu akan berbagi apa yang dia punya kepada kita seperti buahnya. Selain itu juga sebatang pohon pun sanggup berbagi cinta dengan hewan lainya, minimal member makan dan tempat untuk berteduh.

I.                     Alam Adalah WUJUD Cinta
Setiap aku mendengar kata alam, maka yang kupahami adalah Bumi dan langit. (Ary Toteles)
Jika alam sering diandaikan sebagai sebuah rumah, maka Langit adaah atap alam, dan bumi (tanah) sebagai alas. Aku memandang langit sebagai bapak, dan bumi adalah ibu.
Kenapa Langit Sebagai Ayah? Karakter sejati seorang ayah adalah melindungi rumah dan seisinya. Mencari nafkah untuk anak dan istri, member naungan untuk anak dan istri. Begitupun langit selalu melndungi Isi bumi dari energy  matahari dengan lapiran atmosfernya sehingga bumi (ibu) mendapat keseimngaan untuk mememelihara penghuni alam  (rumah). Memberi naungan bagi seluruh penghuni alam.
Kenapa bumi menjadi ibu? Karakter ibu sejati adalah member kasih sayang kepada anak, menyusui (kehidupan), member kehangatan (kehidupan), memngajarkan anak (ilmu), dan selalu member apa yang dikehendaki anak (kebahagiaan). Begitu pula yang dilakukan bumi kepada penghuni alam. Pohon tumbuh diatas bumi, samudra mengaliri bumi, manusia berpijak pada bumi, semua mahluk pun demikian. Bahkan burung yang terbang pung akan menghampiri bumi jika hendak istrirahat. Bumi tak pernah mengeluh kepada manusia, bahkan dalam keadaan marah (bencana) adalah pendidikan bagi mahluk agar menjaga dan merawat alam (rumah) mereka. Manusia, hewan, dan tumbuhan mendapat pendidikan dari bumi. Dalam al-qur’an, “
satu rumah dalam keseimbangan tugas masing-masing penghuni. Berbagi tanpa pamrih, maka itu yang dinamakan cinta. Yaaa cinta yang kupahami adalah ikhlas melayani dan memberi  kepada sesuatu yang kita cinta. cinta yang utuh dari langit (ayah) dan bumi (ibu) menjalani tugas dengan keseimbangan yang sempurnah bagai kedua pasnagan memadu cinta tanpa henti. Wujud cinta dari kedua pasangan (suami dan istri) adalah kesatuan utuh misalnya rumah tangga (dalam pengertian luas bisa berbentuk Negara, suku, agama, dan lainnya). wujud cinta dari hubungan langit (ayah/laki-laki) dengan bumi  (ibu/perempuan) adalah alam semesta menjadi satu kesatuan utuh. Kenapa alam? Karena alam adalah nama lain dari langit dan bumi atau cinta itu sendiri. Bagaimana buah cinta (alam)? Seperti sebuah rumah tangga, anak sebagai buah dari cinta. Lantas bagaimana dengan alam? Apa buktinya? Yah tetap saja kehidupan.  Keseimbangan cinta akan melahirkan anak. Lantas buah dari keseimbangan cinta (alam) itu apa? Tak dipungkiri buah dari keseimbangan alam (cinta) adalah kehidupan yang adil dan sejahtera.
                Nilai filosofis yang dihadirkan oleh alam kepada kita adalah bahwa Hubungan (disposesi) antara Langit dan bumi secara kesinambungan melahirkan kehidupan di muka bumi. Alam (cinta) itu akan utuh jika langit dan bumi terus berhubungan. Pesan kepada kita, bahwa nilai filosofis dari sebuah cinta adalah menjaga hubungan (disposesi) dengan sesuatu yang kita cintai.
Lantas apakah dengan jalan memiliki? Tidak harus memiliki. Karena secara nyata, Langit dan bumi yang kita lihat tak pernah bersentuhan. Bumi tak pernah menjadi pasak untuk langit, begitupun langit tak pernah berpijak (bersentuhan) dengan bumi. Artinya artinya keduanya tak pernah saling memiliki dalam pengertian bersama dan bersentuhan.
jika tidak memiliki, bagaimana kita menjaga hubungan itu? Langit dan bumi pun mengajarkan kita untuk menjaga hubungan dnegan tidak bersentuhan. Yang ada hanyalah sebuah kepercayaan. Disaat langit mengapung diudara, maka bumi percaya langit tak akan jatuh (runtuh) menimpa bumi. Selain itu, bumi pun percaya bahwa langit masih terus membantunya untuk menjaganya dari serangan (sinar matahari, meteor, benda-benda lainnya) dari luar luar angkasa. Dan itu terbukti selama ribuan tahun. Kita pun demikian, perl;u sebuah kepercayaan untuk menjaga hubungan (intiza) dengan sesuatu yang kita cinta/suka.


(renungan akhir, 01 desember  2011, ary toteles)