Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

DARI SANANYA SUDAH BEGITU???


Oleh Ary Toteles

Sering kita mendengar keluhan tentang orang lain tentang sifat manusia. Ketika seorang kawan, keluarga atau sahabat yang mengeluh tentang sifat buruk seseorang, misalnya “Si A itu memang sifatnya begitu, sulit dibilang. MEMANG DARI SANANYA SUDAH BEGITU”. Atau contoh lain, “Si B itu karakternya sudah begitu, DARI SANANYA SUDAH BEGITU”.
Kalimat “dari sana sudah begitu” jika dilihat sepintas tidak punya masalah. Ketika mendengar kalimat tersebut, pikiranku langsung konekt dengan asal usul subyek tersebut.  Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah masalah kecil, namun bagi saya pernyataan ini sangat mengganggu pikiran saya. pada dasarnya kalimat “dari sana sudah begitu” merupakan pernyataan tentang sifat seseorang yang dinisbahkan kepada “asal-muasal” manusia tersebut. Pertanyaannya kemudian adalah Apa maksud kalimat itu? Apakah kata dari sana sudah begitu merupakan sebuah sifat mutlak saat penciptaan manusia tersebut? Atau sifat turunan bawaan orang tua? Kedua pertanyaan ini merupakan persoalan epistemology. Ketika kerancuan dalam memahami epistemology ini maka akan berdampak pada cara pandang kita terhadap “si manusia pemilik sifat – sifat buruk tersebut”. Pertama, ketika memahami sifat tersebut merupakan bawaan lahir, maka konsekuensi logisnya adalah menganggap bhwa sifat tersebut mutlak tidak bias dirubah. Kedua, ketika memaklumi sifat tersebut adalah bawaan orang tua, maka sifat tersebut sudah menjadi tabiat yang tidak dapat dirubah.

Sifat Fitrah dan Sifat Bentukan
Sifat Fitrah
Manusia mempunyai fitrah atau sifat bawaan lahir yang sama. Setiap manuisa yang berakal dan hati, memiliki potensi untuk “berubah” entah itu kearah baik maupun buruk. Secara epistemology, manusia mempunyai sifat yang sama yaitu sifat bawaan lahir yang suci.
Luwais Ma`luf dalam kitabnya al-Munjid mengemukakan bahwa fithrat adalah:[[1]]
"sifat yang dimiliki oleh setiap mawjud (ciptaan) pada awal penciptaannya”. Jadi, fitrah manusia berarti sifat atau keadaan manusia ketika ia dilahirkan ibunya. Ibn al-Atsir dalam kitab al-Nihayat, seperti dikutip Muthahhari, mengatakan bahwa fitrah adalah keadaan yang dihasilkan dari penciptaan.[[2]] Muthahhari mengomentari lebih lanjut bahwa fitrah merupakan bawaan alami, yaitu sesuatu yang melekat dalam diri manusia, bukan sesuatu yang diperoleh melalui usaha. Hanya saja, ungkapan fitrah digunakan biasanya khusus untuk manusia. [[3]]

Sifat Bentukan
Lingkungan dimana manusia itu beraktifitas sangat berpengaruh pada bentukan karakter manusia tersebut. Komponen yang berpengaruh pada bentukan sifat manusia adalah Pergaulan, kondisi alam, dan sikap orang tua . ketiga hal tersebut menjaadi barometer bagi pembentukan karakter manusia tersebut.
Bagaimana memandang Sifat Buruk manusia?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada dasarnya kalimat “Dari sananya sudah begitu” adalah menisbahkan sifat buruk itu pada asal-muasal manusia atau subyek pemilik sifat tersebut. Pertanyaan yang akan muncul berikutnya adalah Lantas dari mana asal-muasalnya? Apakah asalah sifat buruk itu merupakan sifat bawaan lahir atau penciptaan (manusia)? atau sifat buruk itu berasal dibentuk dari lingkungannya?
terkait asal-muasal sifat manusia telah dijelaskan diatas bahwa manusia memiliki dua jenis sifat yaitu sifat bawaan lahir (asal penciptaan) dan sifat bentukan (kondisi lingkungan). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka untuk menjawab pertanyaan apakah sifat buruk itu merupakan bawaan lahir? Jawabannya adalah tidak. Karena sifat bawaan lahir cendrung baik atau suci. Sedangkan sifat-sifat buruk manusia dibentuk oleh kondisi lingkungan dimana manusia tersebut berada.
Lantas bagaimana seharusnya menyikapi sikap buruk tersebut?
Diawal dikatakan bahwa ketika salah memahami asal muasal sifat manusia, maka akan berdampak pada cara pandang kita terhadap sifat-sifat tersebut. Pertama, ketika memahami sifat tersebut merupakan bawaan lahir, maka konsekuensi logisnya adalah menganggap bhwa sifat tersebut mutlak tidak bias dirubah. Kedua, ketika memaklumi sifat tersebut adalah bawaan orang tua, maka sifat tersebut sudah menjadi tabiat yang tidak dapat dirubah.
Setelah dikaji, ternyata sifat buruk merupakan bagian dari sifat bentukan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidup manusia tersebut berada. Jika, dipahami bahwa sifat buruk merupakan sifat bentukan yang dipengaruhi oleh lingkungan, maka konsekuensi logisnya adalah sifat buruk tersebut dapat dirubah. Artinya bahwa manusia (subyek) pemilik sifat tersebut berpotensi untuk dirubah sifatnya. sehingga kalimat “dari sananya sudah begitu” tidak perlu dilontarkan, karena secara sadar kita mengetahui bahwa sifat buruk tersebut masih berpotensi untuk dirubah atau sifat tersebut tidak mutlak pada subyek tersebut.


[1] Luwais Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughat wa al-Adab wa al-’Ulum, (Beyrut: Matba’at Katholikiyah, t.t.), hal. 588.

[2] Murtadha Muthahhari, op. cit.,  hal. 8.

[3] Ibid., hal. 20.

Senin, 21 Mei 2012

Ying dan Yang ..... Susah dan Senang..

Tao - "Yin Yang Earth"
 filosofis ajaran Tao, "Ying dan Yang" merupakan konsep keseimbangan hidup, yaitu menggambarkan suatu rotasi kehdupan manusia dimuka bumi. keseimbangan antara kedua sisi kehidupan yang berlawanan namun slaing membutuhkan... perihal ini munkin lazin kita temui dalam kehidupan sehari-hari... misalnya "siang dan malam, perempuan dan laki-laki, sedih dan bahagia, susah dan senang, dll...
sekilas kita melihat kedua sisi yang berlawanan sebagai unsur2 yang tak bisa bersatu.. namun secara kasat mata, kita perlu sadari bahwa hubungan antara kedua sisi itu ada pada penegasan masing-masing unsur. misalnya "laki-laki dan perempuan", tidak mungkin seseorang bsia sekaligus menajdi "perempuan dan laki-laki" dalam satu waktu. artinya kita melihat ketidak mungkinan pada kedua unsur tersebut untuk menyatu. namun untuk mengetahui laki-laki, kita perlu paham konsep perempuan. sehingga kondisi perempuan sebagai konfirmasi atas kebenaran kondisi laki-laki....
kehidupan sekilas demikian, hal yang kita bencipun kadang menjadi pemanis atau pewarna dalam kehidupan. sehingga tidak monoton.. kesenangan dalam kehidupan menjadi harapan setiap mahluk. hidup bahagia dengan segala kebutuhan terpenuhi. namun akan terasa asing ketika kita berada pada posisi senang, sementara kondisi "susah" sendiri belum pernah kita Alami..
Keberadaan yang satu menjadi konfirmasi bagi yang lainnya (yang berlawanan). sehingga terkesan berlawanan tapi hakikatnya saling membutuhkan..

Kita (manusia)


Republik Gelap
Menebar kasih dengan wajah alim
meraup untuk dari wajah lesuh penuh dosa

Menebar harapan pada para pemimpi
menuai kenikmatan diatas penderitaan imagi mereka

terus menipu
nyaman dalam gelap
ingin mencari terang..entah kemana

sudah mampu memikirkan terang
takut melangkah menuju terang

kita manusia…

Senin, 16 Januari 2012

Sopan, Sepatu, dan Baju Berkerak.

Cara Sopan ala indonesia paling timur
Saya akhir-akhir ini sangat terganggu dengan pemahaman teman-teman terkait dengan “kesopanan”.  Dibeberapa tempat, saya melihat standar “kesopanan dalam berpakaian” pun berbeda-beda. Misalnya, ketika diadakan pengajian, orang lebih cendrung berpakaian busana “Muslim”. Dalam hal ini, yang dibilang sopan, adalah penyesuaian antara cara berpakaian dengan konsep nilai pada acara (pengajian) tersebut. Ketika kita datang tanpa berbusana muslim, kita akan dibilang kurang etis atau tidak sopan karena tidak menghargai acara pengajian. Artinya segi pakaian juga kemudian diselaraskan dengan konsepsi nilai acara tersebut. Hal ini bisa saja berlaku pada acara-cara selain pengajian, seperti Rapat atau meeting. Jika menghadiri meeting atau rapat-rapat penting diperkantoran kita perlu mekai busana yang sesuai dengan konteks acaranya (rapat).  Dalam budaya anak muda pun kesopanan dalam berpakaian menjadi hal penting. Bahkan gaya berpakaian sebagai sebuah identitas yang menjadi keterwakilan sebuah pemahaman terkait aktifitasnya. .Disini saya juga melihat pemahaman kesopanan dalam berpakaian adalah kesesuaian antara “konsepsi nilai Acara dengan gaya berpakaian”. Sepertinya sudah menjadi budaya masyarakat indonesia secara umum. Terutama budaya masyarakat kota.
Perilaku dalam berpakaian sudah menjadi satu poros budaya baru. Bisa dibilang sebagai simbol (semiotik) identitas budaya tertentu. Corak budaya berpakaian sebagai keterwakilan satu tatanan sudah ada sejak dulu kala. Hal ini bisa kita temui khususnya diindonesia. Dari pluralitas budaya, akan kita menemukan pembeda. Status pembeda yang bisa kita lihat pada gaya berpakaian. Namun budaya lokal sangat konsisten dengan nilai yang mereka anut. Saya ambil contoh adalah orang papua, untuk menghadiri acara-acara adat (resmi), tidak terlalu bannyak kita melihat perbedaan. “koteka” sebagai pakaian adat tidak mengalami pergeseran nilai. Artinya bahwa, antara pemahaman nilai dengan acara yang dijalankan, tidak ada perubahan. Artinya kesopanan yang dimaknai dalam konteks tradisional mencerminkan sikap junjung nilai budaya yang dianut. Bukan saja masyarakat adat papua, begitu pula suku-suku lainnya yang masih menjaga kemurnian nilai budaya dan etika budaya yang dianut. Seperti dayak, batak, maluku, jawa, dan lainya. Namun ketika kita masuk pada masyarakat perkotaan, kita sulit menemukan konsistensi nilai yang dianut. Pakaian disinyalir sebagai salah satu “neraca kesopanan”, belum mewakili cara pandang yang dianut. Masih sebatas gaya hidup tanpa nilai tertentu. Dimana, budaya modern “masyarakat perkotaan” sewaktu-waktu bisa berubah seiring perkembangan zaman. Sehingga cara pandang terhadap kesopanan pun menjadi satu kebenaran yang diperoleh melalui kesepakatan. Ketidak-konsisten antara pemahaman nilai (ontology) dengan penerapan nilai melalui media Berpakaian (life style).

Kampus Islamku

Saya melihat (ketidak-konsisten antara pemahaman nilai dengan penerapan nilai) terjadi dilingkungan kampusku. dalam hal berpakaian, dikampusku mewajibkan bagi kaum pria untuk  berpakaian rapi dan sopan . disini kesopanan berpakaian yang dimaksud adalah memakai Kemeja yang berkerak, dan memakai sepatu. sedangkan perempuan mekai busana muslim yaitu jilbab dan menutup aurat. Kebetulan kampusku adalah salah satu sekola tinggi islam.
Sewaktu mengikuti proses perkuliahan, aku tanpa sengaja memakai topi dalam ruang kelas. Kemudian melihat perilakuku, dosen menegur agar membuka topi. Katanya tidak sopan memakai topi disaat mengikuti perkuliahan. Dengan kata lain, menurut pemahaman dosen tersebut, tidak boleh mekakai topi, karena tidak termasuk dalam adab menuntut ilmu. Sehingga ketika kita memakai topi saat mengikuti perkuliahan, akan dinilai tidak sopan.  Situasi seperti ini bukan terjadi sekali, dikelas yang berbeda, saya mengikuti perkuliahan dengan memakai baju kemeja namun tidak ada kerah nya. Jadi dilihat sekilas seperti kaus oblong. Saat dosen melihat, lagi-lagi dilarang, karena tidak sesuai dengan aturan kampus. Selain itu, dilain waktu, aku memakai sepatu kets merek “ALL STAR”. Waktu ke kampus, aku menginjak bagian belakang sepatu (bagian tumit). Saat masuk ruang ujian, aku diomelin oleh pengawas ujian. Setelah pikir-pikir, tidak ada yang salah dengan cara berpakaian saya.
Oklah anggap saja saya melanggar ketetapan aturan. Kebijakan kampus menetapkan cara berpakaian tersebut, menurut saya tidak konsisten dengan “keislaman”. Karena saya belum melihat manifestasi keislaman dalam segi berpakaian. Kembali pada hipotesis saya bahwa “kesopanan dalam berpakaian adalah kesesuaian antara konsepsi nilai acara dengan gaya berpakaian”. Jika kita mengacu pada cara pandang secara umum, tidak ada yang keliru pada aturan main tersebut. Lantas, yang jadi pertanyaan kemudian, korelasi antara nilai “Keislaman” ( dalam adab berpakaian disaat menuntut ilmu atau belajar) dengan kebijakan tersebut dimana? Sebagaian besar menjawab dengan enteng bawa yang terpenting itu menutup aurat. Sampai disini aku masih terima, walaupun secara umum islam tidak menitik beratkan pada motif atau type pakaian tertentu seperti kemeja atau baju berkerak. Yang jadi pertanyaan kemudian,  lalu bagaimana dengan “adab menuntut ilmu dalam islam”? apakah sudah terwakili dengan ketetapan aturan tersebut? Dalam islam, belajarpun tidak memakai alas kaki, pakaian tidak memakai kerahpun tidak masalah. Apalagi memakai topi atau sejenis kopiah. Ternyata ukuran kesopanan hanya sebatas bentuk luaran yang sifatnya aksidental. Padahal konsep kesopanan lebih luas dari pada yang dipahami oleh orang-orang kampus. Dalam pembahasan ini saya tidak sedang membahas nilai-nilai islam, namun lebih menitik beratkan pada pemaknaan terhadap kesopanan dalam berpakaian. Kesopanan dalam berpakaian yang dimaknai sangat dangkal, hanya sebatas “sepatu dan kerak baju”. Tanpa kedua hal tersebut kita diponis tidak sopan.

Sepatu, Kerak, dan Sopan.

Menurut saya, kampus sedang mereduksi nilai kesopanan atau adab berpakaian. Mereka membatasi konsepsi kesopanan hanya pada “sepatu dan Kerak baju”. Ketika kita berpakaian dilingkungan kampus Tanpa kedua hal tersebut (sepatu dan baju berkerak), akan diponis tidak sopan. Aku agak heran, dari kecil sampai hari ini, yang kupahami bahwa pakaian merupakan refresentasi dari cara pandang yang dianut. Seperti contoh sebelumnya yaitu “koteka masyarakat papua” dan dalam acara apapun mereka tidak membatasi.  Ternyata dikampusku (lebel islam)dalam aturan berpakaian, masih jauh dari nilai yang kita junjung. Dalam pemahaman yang dianut, mereka menjunjung nilai keislaman, namun pemahaman ini tidak mampu diturunkan kedalam semua aturan pendidikan. Dalam proses perkuliahan pun yang ada hanyalah “berdo’a” yang mencerminkan sikap keislaman. Selain itu, tidak ada satupun yang mewakili adab belajar yang sesuai dengan nilai keilslaman. Untuk menghadiri pengajian (proses belajar) atau ceramah, atau bahkan majelis dzikir, kita tidak dituntut untuk memakai kerak dan sepatu. Dari sini, saya melihat keterputusan antara pemahaman dan penerapan.

melihat perkembangan zaman, akhirnya manusia cendrung berimaginasi menyusuri masa lampau. modelnya pun beragam dan unik. salah satunya contoh sepatu dibawah ini, 
Sepatu Modern
model sepatu berbentuk kaki manusia akan terlihat seperti kaki telanjang. nah terkait dengan "eksistensi sepatu" , apakah kemudian dengan model seperti gambar diatas masih terlihat sopan?.
begitupun kemeja yang mempunyai motif yang tidak mempunyai kerah baju. akan kah konsep kesopanan itu berubah menurut perubahan model dan motif desain pakaian (baju, sepatu dll)??


dari mana aturan baju berkerah? dan sepatu?


saya akan mengajak pembaca menusuri jejak aturan tersebut. seperti pernyataan saya diatas bahwa Pakaian mewakili idenittas suatu tatanan budaya. kita lihat budaya mana yang hendak diwakili oleh kampusku.
1. Identitas Sebagai Kampus Islam
salah satu budaya bsana muslim, adalah baju yang sangat bercorak arab saudi. itupun saya jamin kita tidak akan menemukan baju berkerah seperti yang kita temukan pada umumnya. seperti jubah dan lainnya tanpa kerah baju lipat. kalau diindonesia lebih dinamis. seperti gambar dibawah ini :

cara berpakaian muslim sopan


2. identitas sebagai Bangsa Indonesia
seperti kita ketahui, sebagian besar baju adat indonesia tidak mempunyai kerah lipat. namu nakmpusku menetapkan bahwa berpakaian harus menggunakan kerah berlipat, padahal pakaian merupakan keterwakilan budaya. jadi pakaian berkerah tidak sedikitpun mewakili budaya bangsa indonesia. its Ok, telah terjadi akulturasi budaya, namun bukan berarti penetapan konsep nilai pun mereduksi nilai kesopanan yang dianut oleh masyarakat pribumi (baik secara keyakinan maupun adat istiadat). kalau pembaca hendak kroscek atau bandingkan, berapa banyak baju adat berkerah lipat, Baju-baju adat di indonesia pun sebagian besar tidak berkerah lipat.
SAYA TIDAK MEMBAYANGKAN, JIKA DEMI MENJUNJUNG TINGGI KESOPANAN, BAGAIMANA KALAU SETIAP MAHASISWA MEMAKAI BAJU ADAT  DAERAH MASING-MASING???


tulisan ini bukan menitik beratkan pada konteks keislaman, hanya kebetulan kasusnya adalah kampus islam, sehingga pembahasan lebih banyak pada "konteks kampus" dan konsistensi "konsep nilai" dan "penerapan Nilai" dalam hal ini yaitu Kesopanan dalam berpakaian.


Ary Toteles, 

Saya akhir-akhir ini sangat terganggu dengan pemahaman teman-teman terkait dengan “kesopanan”.  Dibeberapa tempat, saya melihat standar “kesopanan dalam berpakaian” pun berbeda-beda. Misalnya, ketika diadakan pengajian, orang lebih cendrung berpakaian busana “Muslim”. Dalam hal ini, yang dibilang sopan, adalah penyesuaian antara cara berpakaian dengan konsep nilai pada acara (pengajian) tersebut. Ketika kita datang tanpa berbusana muslim, kita akan dibilang kurang etis atau tidak sopan karena tidak menghargai acara pengajian. Artinya segi pakaian juga kemudian diselaraskan dengan konsepsi nilai acara tersebut. Hal ini bisa saja berlaku pada acara-cara selain pengajian, seperti Rapat atau meeting. Jika menghadiri meeting atau rapat-rapat penting diperkantoran kita perlu mekai busana yang sesuai dengan konteks acaranya (rapat).  Dalam budaya anak muda pun kesopanan dalam berpakaian menjadi hal penting. Bahkan gaya berpakaian sebagai sebuah identitas yang menjadi keterwakilan sebuah pemahaman terkait aktifitasnya. .Disini saya juga melihat pemahaman kesopanan dalam berpakaian adalah kesesuaian antara “konsepsi nilai Acara dengan gaya berpakaian”. Sepertinya sudah menjadi budaya masyarakat indonesia secara umum. Terutama budaya masyarakat kota.
Perilaku dalam berpakaian sudah menjadi satu poros budaya baru. Bisa dibilang sebagai simbol (semiotik) identitas budaya tertentu. Corak budaya berpakaian sebagai keterwakilan satu tatanan sudah ada sejak dulu kala. Hal ini bisa kita temui khususnya diindonesia. Dari pluralitas budaya, akan kita menemukan pembeda. Status pembeda yang bisa kita lihat pada gaya berpakaian. Namun budaya lokal sangat konsisten dengan nilai yang mereka anut. Saya ambil contoh adalah orang papua, untuk menghadiri acara-acara adat (resmi), tidak terlalu bannyak kita melihat perbedaan. “koteka” sebagai pakaian adat tidak mengalami pergeseran nilai. Artinya bahwa, antara pemahaman nilai dengan acara yang dijalankan, tidak ada perubahan. Artinya kesopanan yang dimaknai dalam konteks tradisional mencerminkan sikap junjung nilai budaya yang dianut. Bukan saja masyarakat adat papua, begitu pula suku-suku lainnya yang masih menjaga kemurnian nilai budaya dan etika budaya yang dianut. Seperti dayak, batak, maluku, jawa, dan lainya. Namun ketika kita masuk pada masyarakat perkotaan, kita sulit menemukan konsistensi nilai yang dianut. Pakaian disinyalir sebagai salah satu “neraca kesopanan”, belum mewakili cara pandang yang dianut. Masih sebatas gaya hidup tanpa nilai tertentu. Dimana, budaya modern “masyarakat perkotaan” sewaktu-waktu bisa berubah seiring perkembangan zaman. Sehingga cara pandang terhadap kesopanan pun menjadi satu kebenaran yang diperoleh melalui kesepakatan. Ketidak-konsisten antara pemahaman nilai (ontology) dengan penerapan nilai melalui media Berpakaian (life style).

Kampus Islamku

Saya melihat (ketidak-konsisten antara pemahaman nilai dengan penerapan nilai) terjadi dilingkungan kampusku. dalam hal berpakaian, dikampusku mewajibkan bagi kaum pria untuk  berpakaian rapi dan sopan . disini kesopanan berpakaian yang dimaksud adalah memakai Kemeja yang berkerak, dan memakai sepatu. sedangkan perempuan mekai busana muslim yaitu jilbab dan menutup aurat. Kebetulan kampusku adalah salah satu sekola tinggi islam.
Sewaktu mengikuti proses perkuliahan, aku tanpa sengaja memakai topi dalam ruang kelas. Kemudian melihat perilakuku, dosen menegur agar membuka topi. Katanya tidak sopan memakai topi disaat mengikuti perkuliahan. Dengan kata lain, menurut pemahaman dosen tersebut, tidak boleh mekakai topi, karena tidak termasuk dalam adab menuntut ilmu. Sehingga ketika kita memakai topi saat mengikuti perkuliahan, akan dinilai tidak sopan.  Situasi seperti ini bukan terjadi sekali, dikelas yang berbeda, saya mengikuti perkuliahan dengan memakai baju kemeja namun tidak ada kerah nya. Jadi dilihat sekilas seperti kaus oblong. Saat dosen melihat, lagi-lagi dilarang, karena tidak sesuai dengan aturan kampus. Selain itu, dilain waktu, aku memakai sepatu kets merek “ALL STAR”. Waktu ke kampus, aku menginjak bagian belakang sepatu (bagian tumit). Saat masuk ruang ujian, aku diomelin oleh pengawas ujian. Setelah pikir-pikir, tidak ada yang salah dengan cara berpakaian saya.
Oklah anggap saja saya melanggar ketetapan aturan. Kebijakan kampus menetapkan cara berpakaian tersebut, menurut saya tidak konsisten dengan “keislaman”. Karena saya belum melihat manifestasi keislaman dalam segi berpakaian. Kembali pada hipotesis saya bahwa “kesopanan dalam berpakaian adalah kesesuaian antara konsepsi nilai acara dengan gaya berpakaian”. Jika kita mengacu pada cara pandang secara umum, tidak ada yang keliru pada aturan main tersebut. Lantas, yang jadi pertanyaan kemudian, korelasi antara nilai “Keislaman” ( dalam adab berpakaian disaat menuntut ilmu atau belajar) dengan kebijakan tersebut dimana? Sebagaian besar menjawab dengan enteng bawa yang terpenting itu menutup aurat. Sampai disini aku masih terima, walaupun secara umum islam tidak menitik beratkan pada motif atau type pakaian tertentu seperti kemeja atau baju berkerak. Yang jadi pertanyaan kemudian,  lalu bagaimana dengan “adab menuntut ilmu dalam islam”? apakah sudah terwakili dengan ketetapan aturan tersebut? Dalam islam, belajarpun tidak memakai alas kaki, pakaian tidak memakai kerahpun tidak masalah. Apalagi memakai topi atau sejenis kopiah. Ternyata ukuran kesopanan hanya sebatas bentuk luaran yang sifatnya aksidental. Padahal konsep kesopanan lebih luas dari pada yang dipahami oleh orang-orang kampus. Dalam pembahasan ini saya tidak sedang membahas nilai-nilai islam, namun lebih menitik beratkan pada pemaknaan terhadap kesopanan dalam berpakaian. Kesopanan dalam berpakaian yang dimaknai sangat dangkal, hanya sebatas “sepatu dan kerak baju”. Tanpa kedua hal tersebut kita diponis tidak sopan.

Sepatu, Kerak, dan Sopan.

Menurut saya, kampus sedang mereduksi nilai kesopanan atau adab berpakaian. Mereka membatasi konsepsi kesopanan hanya pada “sepatu dan Kerak baju”. Ketika kita berpakaian dilingkungan kampus Tanpa kedua hal tersebut (sepatu dan baju berkerak), akan diponis tidak sopan. Aku agak heran, dari kecil sampai hari ini, yang kupahami bahwa pakaian merupakan refresentasi dari cara pandang yang dianut. Seperti contoh sebelumnya yaitu “koteka masyarakat papua” dan dalam acara apapun mereka tidak membatasi.  Ternyata dikampusku (lebel islam)dalam aturan berpakaian, masih jauh dari nilai yang kita junjung. Dalam pemahaman yang dianut, mereka menjunjung nilai keislaman, namun pemahaman ini tidak mampu diturunkan kedalam semua aturan pendidikan. Dalam proses perkuliahan pun yang ada hanyalah “berdo’a” yang mencerminkan sikap keislaman. Selain itu, tidak ada satupun yang mewakili adab belajar yang sesuai dengan nilai keilslaman. Untuk menghadiri pengajian (proses belajar) atau ceramah, atau bahkan majelis dzikir, kita tidak dituntut untuk memakai kerak dan sepatu. Dari sini, saya melihat keterputusan antara pemahaman dan penerapan.

Satu Proses berbeda Nilai

Pesantrenisasi (Proses Belajar)



Ary Toteles

Minggu, 04 Desember 2011

AKU (JIWA) BERTAMASYA KE BUMI


(Fatwa Alam 04)
I
aku
Sadar berkabut nafsu
Akpun begitu nyaman terperangkap
Hingga tak sanggup bangun
Akhirnya kumulai dengan mimpi nyata
II
Jalan-jalan itu sudah sepi
Satu persatu hilang telah pergi
Perlahan ku mengayung langkah
Sampai pada satu masa
III
Satu-satunya yang kutahu, aku sedang berjalan
aku yang sadar, tapi disini aku asing
Sadar belum mampu menyadari
Indra tak mengenal fenomena
Kulihat, kudengar, kurasa,
Aku lupa pada eksistensi ku.
IV
siapa aku?
darimana aku?
Kenapa aku disini?
Untuk apa?
Setelah ini aku hendak kemana?

Serangga Guruku


(Fatwa Alam 03)


Alam adalah rumah, setiap benda adalah penghuni. Yang diam bukan tak hidup, yang tidak bicara bukan tidak mampu memberi hikmah. (Ary Toteles)

Ini ceritaku tentang bagaimana seekor serangga kuanggap sebagai guru.................
Sebagai seorang anak bungsu yang manja, aku tidak cukup pandai membersikan tempat tidurku. Disaat bangun tidur, tempat tidur tak pernah ku rapikan. Atau pulang sekolah, seragam dan buku berserakan diatas kasur. Mmmm ini kebiasaan jelek yang bikin jengkel ibuku. Namun ibuku terus memanjakan aku dengan kebodohanku yang tidak disiplin dan jorok. Mungkin ibuku berharap aku bias berubah tanpa harus disuruh atau didikte. Hahaha..itulah kebiasaanku diwaktu sekolah..mmm
Sekarang, melanjutkan kuliah dikota gudeg… saat hendak merantau, ibuku selalu berpesan menjaga kebersihan. Katanya “nak, tolong tinggalkan kebiasaan jorokmu disini, selepas pesawat hendak terbang, titiplah sifat jelekmu di tanah Maluku. Ibu berharap kamu bias menjaga kebersihan, perhatikan tempat tidur. Sebentar di tanah orang, tidak ada yang membersihan dan merapikan kamarmu lagi nak…”..itulah harapan ibuku, agar aku bias disiplin. Mmm
Setiba di Jogjakarta, aku diterima di kampus swasta, jurusan teknik sipil.. rutinitasku seperti layaknya mahasiswa biasa, nah tapi yang jeleknya kebiasaan jorokku masih ikut sampai ke jogja. Hahahaha… mungkin lupa ditaro di ambon kali yaa..hahaha
Suatu hari, aku pulang dari kampus. Waktu itu aku tidak tidur seharian. saking capek beraktivitas, berharap sampe ke kos bias tidur pulas. Eh pas buka pintu kamar, ternyata para serangga lagi berpesta didalam kamarku. Mmm pusing lagi deh… aku coba paksakan tidur, namun para serangga kayanya udah ga mau kompromi, mereka (serangga) keenakan dikamarku, akhirnya akupun dijadikan objek permainan. Mmmm sunggguh suatu musibah…akhirnya akupun harus bertarung melawan para serangga,.akupun berdiri cari semprot baigon, ku hajar semua dalam kamarku.. hahahah hatiku senang, serangga bias kabur.. eh pas mau tidur, nafas sesak karna saking bau baigon ampe ga bias tidur..sial sial….saat itulah ku berjanji untuk perhatikan kamaerku…. Setelah cape seharia begadang, kemudian bersihkan serangga dari kamar, eh malah baigon jadi maslah..mmmm..tapi ku bersyukur dengan para serangga yang sudah memilih kamar ku yang jorok untuk tempat berpesta, akhirnya aku jadi sadar, dengan keberadaan serangga yang begitu banyak, itu pertanda kebersihanku sudah melampaui batas…
Para serangga itulah yang ajarin aku tentang kebersihan. mereka mencoba menegur aku agar selalu menjaga kebersihan kamarku. Serangga sebagai pembawa risalah, “keberadaan mereka adalah kritik atas lingkungan”. Aku melihat keberadaan serangga bukan sebagai  hewan kotor, namun itulah ciptaan allah sebagai tanda alam untuk mengajarkan manusia tentang kebersihan. “keberadaan serangga siuatu tempat adalah petunjuk bagi manusia kalau tempat yang dihuni serangga adlah tempat kotor”. Bukan berarti mereka kotor, namun mereka menjalani tugas sebagai pembawa risalah, layaknya para nabi, jika mendatangi suatu tempat, itu berarti tempat tersebut hendak dibersihkan. Bedanya nabi yang melakukan pembersihan, sedangkan serangga hanya sebagai tanda atau ayat-ayat yang tersirat..hihihi
Ku jadikan serangga sebagai guruku, karna dialah mahluk yang menyadarkan aku tentang pentingnya kebersihan..hahahahha… alhamdulillah syukur,,
(ary Toteles, di kamar kost 14 november 2011)

AKU DAN RUMPUT

(Fatwa Alam 02)

Rumput berkata : Diam Berarti tidak manusiwai  !! (Ary toteles)
Rumput hanyalah tumbuhan kecil yang merayap pada tanah atau batang pohon. Kita bisa temukan rumput dimanapun dan mungkin kesehariannya kita sering berjalan melewati nya bahkan menginjaknya. Mungkin bagi sebagian dari kita (manusia) adalah hal biasa. Karena,Dengan berukuran kecil sehingga rumput sering diabaikan oleh pejalan kaki. Sebagai mahluk hidup, rumput pun jadi bagian dari kita. Berkembang biak dan punya konstribusi real bagi manusia. Diantaranya Menghiasi taman-taman, pekarangan, dam jalan-jalan. Mungkin itu sebagian yang kita pahami dari rumput dan manfaat praktis dalam kehidupan. Tetapi tetap saja rumput bagi sebagian manusia hanyalah tumbuhan liar yang tak memiliki nilai (Bukan Harga) jual . menurutku (dalam pengertian maknawi),  rumput tak ubahnya manusia. Mempunyai harapan  untuk hidup tenang dan damai. Mungkin jika mereka mampu berkata-kata, maka pasti mereka akan mengeluh pada manusia dengan berkata  “jangan Babat kami, jangan babat kami, kami kaum kecil mau ditata namun tidak mau digusur”. 
Saya melihat eksistensi rumput tak jauh beda dengan masyarakat kecil suatu Negara berkembang seperti Indonesia. Bernaung dibawah satu bendera kebanggaan dan tunduk pada aturan dasar yang tidak mereka sepakati. Namun mereka terus menjalani hari-hari dengan harapan dapat hidup nyaman dan tentram. . . memang kenyataan tidak selalu seindah harapan. Para penguasa selalu saja mendiskriminasikan mereka. Menjadikan mereka obyek pelampiasan hasrat berkuasa. Rakyat kecil layaknya rumput, tidak lebih dari pion-pion yang meramaikan panggung kehidupan tapi tak punya arti khusus dimata orang-orang besar. Satu-satunya posisi rakyat dimata orang besar adalah obyek ekperimentasi konsep untuk mencapai harapan mereka (kaum konglomerat). Rumput pun demikian, mreka hanya dijadikan pelampiasan hasrat keindahan manusia. Ketika tidak dibutuhkan maka mereka akan digusur.  
Fitrah manusia adalah mahluk berpikir dan memiliki kehendak bebas. Pada titik ini kita dibedakan dengan mahluk hidup pada umumnya (khususnya rumput). Keberadaan rumput disekitar kita merupakan hikmah sekaligus gugatan/kritik atas eksistensi kita sebagai manusia.  sebagai mahluk berpikir, kita punya harapan untuk damai dan merdeka.  Disisi lain, kita juga mempunyai kehendak bebas untuk bertindak untuk mewujudkan keinginan (kehendak) kita masing-masing.  Saat aku melihat rumput (dipotong,dibabat,diinjak), aku merenung dengan perilakunya (rumput) yang  hanya diam dan diam. aku yakin mereka (rumput) punya alasan untuk tumbuh dan mekar dimanapun. Tetapi kenapa mereka selalu diam disaat “kebebasan mereka digugat (digusur)” oleh imaginasi atas keindahan manusia. 
Aku                 :  wahai rumput, aku tau kamu ingin bebas diseluruh sudut bumi. tapi disaat kebebasanmu diusik oleh manusia (sang khalifah bumi), kenapa kamu diam?
Rumput           : inilah takdirku.
Aku                 :lantas kalau begini takdirmu, kenapa tuhan harus menciptakanmu?
Rumput           : Jika aku tidak diciptakan, siapa akan menjadi rakyat untuk kamu (manusia)? Kamu adalah khalifah (raja/pemimpin) di alam semesta dan  aku (rumput)adalah bagian dari alam. Diamku bukan tanpa hikmah. Ingatkah tuhan kita pernah berkata    : “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan selisih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal .(yaitu) orang-orang yang mengingat allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : ya tuhan kami, tiadalah engkau mencip[takan ini dengan sia-sia”.(Q.S.Ali Imran :190-191).
Aku                 : apa pelajaran yang hendak kau berikan kami (manusia)?
Rumput           : aku hanya menghadirkan keindahan, aku bisa dijadikan obat, aku bisa dijadikan alas untuk tidur.  aku diam, aku menerima perlakuan sesama mahluk tuhan dengan semena-mena. Keberadaanku layaknya masyarakat disebuah Negara dan kalian manusia sebagai pemimpin (khalifah dimuka bumi). Namun aku ketika diperlakukan buruk oleh manusia, aku hanya bisa diam dan setia menjalani fitrahku sebagai tumbuhan kecil dan tidak mampu berkehendak bebas. Namun kalian (manusia) berbeda denganku, fitrah kalian sebagai mahluk berpikir dan berkehendak bebas harus dimanfaatkan. Itu anugrah dari tuhanmu. Ketika sesama (penguasa/pemerintah Negara)  kalian berbuat tidak adil, maka jangan DIAM.kalian adalah khalifah dimuka bumi, kalian memiliki fitrah berkehendak bebas. Kita (mahluk hidup) semua membutuhkan kedamaian dan keadilan. Sebagai khalifah, berbuatlah selayaknya khalifah. Jika kalian diam (melihat ketidakadilan, penindasan, penjajahan) maka tidak manusiwai !!! Sampaikan pesanku (rumput) kepada seluruh rakyat Indonesia agar “bergeraklah melawan ketidak adilan, jangan diam karena diam bukan fitrah manusia. Kalian bebas dan merdeka”.
Rumput diam, member kita pelajaran untuk bergerak.
Rumput diam, member kita isyarat untuk terus berpikir.
Hanya dengan diam, rumput mengajarkan aku menjadi manusia.
 (Ary Toteles inspirasi dari hampraran Rumput di Puncak Merbabu, Boyolali 2010)

ALAM WUJUD CINTA

(Fatwa Alam 1)

Katakanlah : “perhatikan apa yang ada dilangit dan bumi”.(QS.Yunus :101)
Dalam sejarah pemikiran manusia, alam menjadi topic utama dari pembahasan para filosof yunani clasik Sebagian besar manusia kala itu hanya berkutat pada maslah kekayaan dan jabatan atau bisa dibilang hal-hal praktis dari kehidupan.  hanya beberapa orang yang  sadar (bukan mitos) dengan fenomena-fenomena alam . kesadaran mereka menggiring pada satu titiuk permasalahan penting yang memerlukan jawaban rasional    Upaya mereka melahirkan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang harus diselesaikan oleh penghuni alam (khususnya manusia sebagai mahluk berpikir). misalnya : Dari mana datangnya dunia? kenapa kita ada didunia? Dari mana kita? Untuk apa kita disini? Dan mau kemana setelah mati? Hal ini yang mendorong para filosof untuk bekerja keras (berpikir) memecahkan sekian pertanyan tersebut. dari proses itulah lahirlah Banyak teori terkait dengan Epistemologi alam.
Berawal dari thales membuat pernyataan bahwa “yang terpenting adalah Air”. Thales berpendapat bahwa air adalah substansi dasar yang membentuk segala hal lainnya. Bumi pun menurut dia terapung diatas air. Anaximander memiliki argument lain untuk membuktikab bahwa bumi bukan subtansi dasarnya adalah air. Dia sendiri berpendapat bahwa unsure pembentuk alam adalah ada tanah, ada api, dan ada air. Masing-masing harus ada dalam takaran tertentu dalam pembentukan alam.  Sedangkan anaximenes berpendapat bahwa unsure pembentuk alam adalah udara. Obyek/benda dialam ini subtansinya berasal dari udara. Perbedaanya adalah kuantitas subtansi pada obyek tersebut. Berbagai hipotesis diutarakan hingga berakhir pada pendapat demokritus yang mengatakan bahwa bumi tercipta dari partikel-partikel kecil yaitu Atom. Teori ini bertahan lama dan diabad-abad berikutnya ditemukan bahwa ternyata atom bisa dibagi-bagi menjadi electron,neutron dan proton. Ini sejarah singkat tentang bagaimana pengaruh alam dalam sebagai sumber pengetahuan bagi manusia.
Sampai hari ini, kita masih bisa menemukan perdebatan-perdebatan seperti itu. Perkembangan aliran pemikiran menjadikan manusia memiliki banyak pilihan untuk menentukan nilai (aksiologi) yang hendak dipakai untuk memandang dunia. Jatuhnya pilihan pada suatu nilai (aksiologi) merupakan satu proses panjang. Beragam macam Nilai atau ideology yang dianut memiliki cara pandang dunia /alam (Ontologi) . Sehingga Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi kebenaran mutlak (bagi penganutnya). Pembakuan nilai-nilai tersebut manjadi suatu bencana baru bagi peradaban manusia. Awalnya hanya sebatas pertarungan gagasan dan pemikiran, berujung pada upaya saling mendominasi. Salah satu nya adalah Perang dunia I dan II. Itu merupakan effek dari pertarungan nilai yang dianut oleh manusia. Pada titik ini, kita tak bisa memponis siapa yang salah dan siapa yang benar. Mana yang harus dianut dan mana yang harus dihindari. Tergantung sejauh mana kontektual Ide (nilai) terhadap realita di lokalitas masing-masing.
diIndonesia, sebagian besar nilai yang dianut oleh rakyat terkesan tidak konteks dengan kondisi realitasnya. Paham marxis, nilai yang hendak dicapai adalah masyarakat tanpa klas. Karena bagi mereka (kaum marxis) system klaster dalam tatanan social merupakan satu bentuk penindasan dan subordinasi atas kehendak bebas manusia. Lantas yang jadi peertanyaan? Bagaimana bentuk pengklasifikasian kelas dalam pengertian marxisme? Hubungan kerja antara Pekerja (proletariat) dan Pemilik Usaha (borjuis) dalam suatu pabrik. Bagiku syah-syah saja, itu konteks dengan realitas eropa di abad 17 yaitu revolusi indurstri. Namun di Indonesia bukan Negara industry, yang ada hanyalah masyarakat petani dan nelayan. Dan sebagian besar memiliki tanah garapan (kebun) serta kapal pribadi untuk mencari ikan. Itu artinya kurang tepat jika komunisme hendak dipaksakan di Indonesia. Begitupun kapitalisme yang dibawah oleh kaum penjajah. Dalam etika protestan karya max weber, disana dikatakan bahwa yang kaya memiliki peluang lebih besar untuk mendapat kehidupan sejahtera di dunia dan diakhirat. Yang akhirnya missi keagamaan berapih ke missi pengumpulan harta dengan motif penjajahan serta politik adu domba (devide at impera). Salah satu kapitalisme adalah akumulasi modal sebesar-besarnya. Artinya dengan pengeluaran sedikit dan mendapat pemasukan yang sebesar-besarnya. Sehingga apapun dihalalkan untuk memperoleh keuntungan besar. Motif inipun tak sejalan dengan prinsip masyakat Indonesia yang kaya akan nilai kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan. Itu adalah salah satu bentuk pemaksaan sebuah nilai  (benar secara pemahaman) belum tentu konteks pada dengan realita. Apa yang terjadi dengan pemaksaan Nilai yang tidak konteksual di indonesia? Ada  pembantaian missal 1965 G 30 Sep, Perang Seroja, peristiwa malaria, dll. benturan nilai yang terjadi melahirkan ketidak-nyamanan, mengancam perdamaian, merusak kesepakatan, dan lain sebagainya. Peritiwa-peristiwa tersebut bertum,pu pada cara pandang yang dianut oleh manusia-manusia. Ada yang bertindak atas nama tuhan, ada pula yang berbuat untuk uang, dan ada yang berbicara atas nama ideology.  Semua itupun memakan banyak korban. Sementara yang Awam Berharap perdamaian abadi dan keadilan social, namun selalu tak mampu diwujudkan.

II.  Ketika tidak ada satupun Ideologi (Nilai) yang relevan?
Keterbatasan pemahaman kita terhadap alam, tidak serta merta menjadikan alam itu kerdil. (ary Toteles)
Dunia jika dipandang dari kaca mata cinta, maka yang tampak adalah sebuah kesatuan utuh dan tidak terpisahkan. Kita mampu membaca keberadaan wujud dan hakikat untaian ayat-ayat suci dalam gerak alam semesta.
Dengan cinta, kita berusaha lebih banyak menjadi mahluk pemikir untuk memahami sekian misterius yang belum terpecahkan secara filosofis. Terkadang kita lupa dengan keberadaan mahluk lain disekitar kita. Ke-aku-an sebagai manusia terlalu tinggi hingga  tak mampu melihat keberadaan sesame - mahluk lain dalam perspektif cinta aku sebut sebagai sesame yang menjadi bagian dari cinta.
 “ kita berbeda dalam segala hal kecuali dalam cinta…(soe hok  gie)”.
Kata-kata itu semestinya ditujukan untuk seorang kekasih, namun aku lebih senang jika kita gunakan kata-kata itu sebagai suatu asas atau dasar pijakan. Dalam untaian kalimat itu, Gie sedang berkata pada seluruh umat manusia bahwa kita belum mempunyai satu alternative perekat selain cinta. Karena dalam cinta, kita mampu menembus lapisan pembeda dalam masyarakat dan tidak ada sekat antara kita, tidak ada perbedaan diantara kita, sehingga yang tersisa adalah eksistensi cinta dalam masyarakat.
Cinta yang sering dipahami dalam konteks berhubungan khusus (asmara) antara “lawan jenis maupun sesame jenis”  adalah pemaknaan sempit atas cakrawala cinta itu sendiri. Karena cinta dalam makna ini akan menemukan inkonsistensi makna. Disatu sisi, semua manusia sepakat bahwa kata “cinta” harus sebagai nilai  pada diri manusia dan tak jarang di pahami sebagai  mantra perdamaian. Sehingga memperoleh ruang lingkup yang lebih luar.  disisi lain, jika kita mengamati pemahaman cinta dalam konteks “asmara”, tak jarang terjadi pendistorsian dan pendangkalan oleh subyek (pelaku asmara).  Hal ini terjadi karena salah memahami  makna cinta secara universal (pada pengertian pertama). Banyak mengatakan cinta itu virus mematikan, ada juga berpikir  cinta itu hanya membawa bencana. Biasanya bahasa-bahsa itu muncul ketika terjadi keretakan hubungan.  Disinilah inkonsistensi yang terjadi ada pemahaman cinta oleh sebagian besar manusia. Kegagalan dalam Upaya untuk memiliki sesuatu yang dicintai, akan megakibatkan rasa sakit. Sehingga muncul istilah cinta itu menyakitkan. Padahal jika kita tela’ah secara jujur, cinta itu sendiri tak pernah berwujud. Lantas bagaimana cinta itu bsia menyakitkan? Bukankah sakit itu perspektif dari diri kita sendiri? Jelas rasa sakit itu lahir dari persfektif kita terhadap kegagalan kita mengejar cinta (sesuatu yang kita suka). Sesuatu itu sendiri bukan hakikat dari cinta.
Problem pemaknaan cinta pada episode asmara saja yang hanya melahirkan kekeliruan. Selain dari problem itu, aku piker cinta lebih konteks untuk semua manusia dimanapun dan kapanpun. Tidak dibatasi pada ras, agama, dan Negara.  Disini kita akan melihat bahwa cinta melampaui apa yang kita pahami. Keterbatasan kita tak akan membatasi ruang lingkup cinta. Karena itu adalah satu nilai tanpa batas dan tidak mampu dibatasi. Seperti keberadaan kita di alam semesta. Dari pijakan kaki, pulau, benua, sampai planet, dan galaksi. Kita tak mampu menjangkau semuanya dengan keberadaan materi yang terbatas. Apakah cinta masih relevan untuk dijadikan alternatif bagikegagalan ideology?? Jawabannya, cinta tidak akan sampai pada pembakuan tmenjadi ideology. Dia hanya sanggup dijadikan cara pandang (ontology). Karena cinta sudah lebih dulu diterima oleh seluruh mahluk (bukan saja manusia) sebagai nilai kehidupan. cinta sebagai cara pandang, sudah dijalani oleh mahluk hidup secara berkesinambungan. Hanya saja sebagian besar manusia sebagai mahluk berpikir  belum menyadari hal ini. Contoh, seorang karl marx begitu terpuruk tanpa Jenny istri nya. Yang dibilang karl marx dengan tertindas dan tersiksa adlah bukan pada pengklasifikasian kelas, tapi ada pada kehilangan cintanya (jenny) dan Diakhir hayat banyak puisinya untuk memuja jenny. Demikian pula seekor hewan menganut cara pandang cinta. Mereka sejatinya akan berdamai dengan hewan selain mereka, jika tidak diusik. Berdamai disini kupahami sebagai sebuah bentuk aplikatif dari nilai Cinta. Sebatang pohon pun akan demikian, ketika kita merawat mereka, memberi pupuk dan member air sesuatu kebutuhan, maka dengan sendirinya pohon itu akan berbagi apa yang dia punya kepada kita seperti buahnya. Selain itu juga sebatang pohon pun sanggup berbagi cinta dengan hewan lainya, minimal member makan dan tempat untuk berteduh.

I.                     Alam Adalah WUJUD Cinta
Setiap aku mendengar kata alam, maka yang kupahami adalah Bumi dan langit. (Ary Toteles)
Jika alam sering diandaikan sebagai sebuah rumah, maka Langit adaah atap alam, dan bumi (tanah) sebagai alas. Aku memandang langit sebagai bapak, dan bumi adalah ibu.
Kenapa Langit Sebagai Ayah? Karakter sejati seorang ayah adalah melindungi rumah dan seisinya. Mencari nafkah untuk anak dan istri, member naungan untuk anak dan istri. Begitupun langit selalu melndungi Isi bumi dari energy  matahari dengan lapiran atmosfernya sehingga bumi (ibu) mendapat keseimngaan untuk mememelihara penghuni alam  (rumah). Memberi naungan bagi seluruh penghuni alam.
Kenapa bumi menjadi ibu? Karakter ibu sejati adalah member kasih sayang kepada anak, menyusui (kehidupan), member kehangatan (kehidupan), memngajarkan anak (ilmu), dan selalu member apa yang dikehendaki anak (kebahagiaan). Begitu pula yang dilakukan bumi kepada penghuni alam. Pohon tumbuh diatas bumi, samudra mengaliri bumi, manusia berpijak pada bumi, semua mahluk pun demikian. Bahkan burung yang terbang pung akan menghampiri bumi jika hendak istrirahat. Bumi tak pernah mengeluh kepada manusia, bahkan dalam keadaan marah (bencana) adalah pendidikan bagi mahluk agar menjaga dan merawat alam (rumah) mereka. Manusia, hewan, dan tumbuhan mendapat pendidikan dari bumi. Dalam al-qur’an, “
satu rumah dalam keseimbangan tugas masing-masing penghuni. Berbagi tanpa pamrih, maka itu yang dinamakan cinta. Yaaa cinta yang kupahami adalah ikhlas melayani dan memberi  kepada sesuatu yang kita cinta. cinta yang utuh dari langit (ayah) dan bumi (ibu) menjalani tugas dengan keseimbangan yang sempurnah bagai kedua pasnagan memadu cinta tanpa henti. Wujud cinta dari kedua pasangan (suami dan istri) adalah kesatuan utuh misalnya rumah tangga (dalam pengertian luas bisa berbentuk Negara, suku, agama, dan lainnya). wujud cinta dari hubungan langit (ayah/laki-laki) dengan bumi  (ibu/perempuan) adalah alam semesta menjadi satu kesatuan utuh. Kenapa alam? Karena alam adalah nama lain dari langit dan bumi atau cinta itu sendiri. Bagaimana buah cinta (alam)? Seperti sebuah rumah tangga, anak sebagai buah dari cinta. Lantas bagaimana dengan alam? Apa buktinya? Yah tetap saja kehidupan.  Keseimbangan cinta akan melahirkan anak. Lantas buah dari keseimbangan cinta (alam) itu apa? Tak dipungkiri buah dari keseimbangan alam (cinta) adalah kehidupan yang adil dan sejahtera.
                Nilai filosofis yang dihadirkan oleh alam kepada kita adalah bahwa Hubungan (disposesi) antara Langit dan bumi secara kesinambungan melahirkan kehidupan di muka bumi. Alam (cinta) itu akan utuh jika langit dan bumi terus berhubungan. Pesan kepada kita, bahwa nilai filosofis dari sebuah cinta adalah menjaga hubungan (disposesi) dengan sesuatu yang kita cintai.
Lantas apakah dengan jalan memiliki? Tidak harus memiliki. Karena secara nyata, Langit dan bumi yang kita lihat tak pernah bersentuhan. Bumi tak pernah menjadi pasak untuk langit, begitupun langit tak pernah berpijak (bersentuhan) dengan bumi. Artinya artinya keduanya tak pernah saling memiliki dalam pengertian bersama dan bersentuhan.
jika tidak memiliki, bagaimana kita menjaga hubungan itu? Langit dan bumi pun mengajarkan kita untuk menjaga hubungan dnegan tidak bersentuhan. Yang ada hanyalah sebuah kepercayaan. Disaat langit mengapung diudara, maka bumi percaya langit tak akan jatuh (runtuh) menimpa bumi. Selain itu, bumi pun percaya bahwa langit masih terus membantunya untuk menjaganya dari serangan (sinar matahari, meteor, benda-benda lainnya) dari luar luar angkasa. Dan itu terbukti selama ribuan tahun. Kita pun demikian, perl;u sebuah kepercayaan untuk menjaga hubungan (intiza) dengan sesuatu yang kita cinta/suka.


(renungan akhir, 01 desember  2011, ary toteles)