Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Minggu, 10 Juli 2011

SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA



MASYARAKAT FEODAL INDONESIA

Feodalisme berasal dari kata feodum yang artinya tanah.Dalam tahapan masyarakat feodal ini terjadi penguasaan alat produksi oleh kaum pemilik tanah, raja dan para kerabatnya. Ada antagonisme antara rakyat tak bertanah dengan para pemilik tanah dan kalangan kerajaan. Kerajaan, merupakan alat kalangan feodal untuk mempertahankan kekuasaan atas rakyat, tanah, kebenaran moral, etika agama, serta seluruh tata nilainya.

Pada  perkembangan masyarakat feodal di Eropa, dimana tanah dikuasai oleh baron-baron (tuan2 tanah) dan tersentral. Para feodal atau Baron (pemilik tanah dan kalangan kerabat kerajaan) yang memiliki tanah yang luas mempekerjakan orang yang tidak bertanah dengan jalan diberi hak mengambil dari hasil pengolahan tanah yang merupakan sisa upeti yang harus dibayar kepada para baron. Tanah dan hasilnya dikelola dengan alat-alat pertanian yang kadang disewakan oleh para baron (seperti bajak dan kincir angin). Pengelolaan tersebut diarahkan untuk kepentingan menghasilkan produk pertanian yang akan dijual ke tempat-tempat lain oleh pedagang-pedagang yang dipekerjakan oleh para baron. Di atas tanah kekuasaannya, para baron adalah satu-satunya orang yang berhak mengadakan pengadilan, memutuskan perkawinan, memiliki senjata dan tentara, dan hak-hak lainnya yang sekarang merupakan fungsi negara. Para baron sebenarnya otonom terhadap raja, dan seringkali mereka berkonspirasi menggulingkan raja.
Kondisi pada masa feodalisme di Indonesia bisa diambil contoh pada masa kerajaan-kerajaan kuno macam Mataram kuno, kediri, singasari, majapahit. Dimana tanah adalah milik Dewa/Tuhan, dan Raja dimaknai sebagai titisan dari dewa yang berhak atas penguasaan dan pemilikan tanah tersebut dan mempunyai wewenang untuk membagi-bagikan berupa petak-petak kepada sikep-sikep, dan digilir pada kerik-kerik (calon sikep-sikep), bujang-bujang dan numpang-numpang (istilahnya beragam di beberapa tempat) dan ada juga tanah perdikan yang diberikan sebagai hadiah kepada orang yang berjasa bagi kerajaan dan dibebaskan dari segala bentuk pajak maupun upeti. Sedangkan bagi rakyat biasa yang tidak mendapatkan hak seperti orng-orang diatas mereka harus bekerja dan diwajibkan menyetorkan sebagian hasil yang didapat sebagai upeti dan disetor kepada sikep-sikep dll untuk kemudian disetorkan kepada raja, Selain upeti, rakyat juga dikenakan penghisapan tambahan berupa kerja bagi negara-kerajaan dan bagi administratornya.
Pada tahap masyarakat feodal di Indonesia, sebenarnya sudah muncul perlawanan dari kalangan rakyat tak bertanah dan petani. Kita bisa melihat adanya pemberontakan di masa pemerintahan Amangkurat I, pemberontakan Karaeng Galengsong, pemberontakan Untung Suropati, dan lain-lain. Hanya saja, pemberontakan mereka terkalahkan. Tapi kemunculan gerakan-gerakan perlawanan pada setiap jaman harus dipandang sebagai lompatan kualitatif dari tenaga-tenaga produktif yang terus berkembang maju (progresif) berhadapan dengan hubungan-hubungan sosial yang dimapankan (konservatif). Walaupun kepemimpinan masih banyak dipegang oleh bangsawan yang merasa terancam karena perebutan aset yang dilakukan oleh rajanya. 
Embrio kapitalisme mulai bersentuhan dengan masyarakat di Nusantara di awal abad ke-15, melalui merkantilisme Eropa.
2. Masuknya kapitalisme melalui Kolonialisme dan Imperialisme
Di negara-negara yang menganut paham merkantilisme terjadi perubahan besar terutama setelah Perkembangan teknologi perkapalan di Eropa Selatan semakin memberi basis bagi embrio kolonialisme/imperialisme dan kapitalisme, dimana mereka mencoba untuk mencari daerah baru yang kemudian diklaim sebagai daerah jajahannya dengan semboyan Gold, Gospel, dan Glory, mereka membenarkan tujuannya dengan alasan penyebaran agama dan dalam bentuk kapitalisme dagang (merkantilisme) dan sejak itu feodalisme di masyarakat pra-Indonesia mempunyai lawan yang sekali tempo bisa diajak bersama memusuhi dan melumpuhkan rakyat. Daerah operasinya terbatas di daerah pesisir dan kota besar, seperti Malaka dan Banten. Bentuk komoditinya bertumpu pada komoditi pertanian dan perkebunan, seperti tanaman keras atau rempah-rempah. Komoditi ini adalah kebutuhan pokok utama untuk industri farmasi di Eropa.
Kolonialisme dan imperialisame merebak di mana-mana, termasuk di tanah Nusantara, Tahun 1469 adalah tahun kedatangan ekspedisi mencari daerah baru yang dipimpin raja muda portugis Vasco da Gama. Tujuannya mencari rempah-rempah yang akan dijual kembali di Eropa. Kemudian menyusul penjelajah Spanyol masuk ke Nusantara di tahun 1512. Penjelajah Belanda baru datang ke Nusantara tahun 1596, dengan mendaratnya Cornelis de Houtman di Banten.
Kolonialisme yang masuk pertama di Indonesia merupakan sisa-sisa kapitalisme perdagangan (merkantilisme). Para kapitalis-merkantilis Belanda masuk pertama kali ke Indonesia melalui pedagang-pedagang rempah-rempah bersenjata, yang kemudian diorganisasikan dalam bentuk persekutuan dagang VOC tahun 1602, demikian juga dengan Portugis, dan Spanyol. Para pedagang bersenjata ini, melakukan perdagangan dengan para feodal, yang seringkali sambil melakukan ancaman, kekerasan dan perang (ingat sejarah pelayaran Hongi).
Kekuasaan kolonial Belanda ini terinterupsi 4 tahun dengan berkuasanya kolonialisme Inggris sampai tahun 1813. Kolonialisme Inggris masa Raffles, adalah tonggak penting hilangnya konsep pemilikan tanah oleh kerajaan. Sebab dalam konsep Inggris, tanah bukan milik Tuhan yang diwakilkan pada raja, tapi milik negara. Karenanya pemilik dan penggarap tanah harus membayar landrente (pajak tanah) --pajak ini mengharuskan sistem monetar dalam masyarakat yang masih terkebelakang sistem moneternya, sehingga memberi kesempatan tumbuhnya rentenir dan ijon.
Di sisi yang lain, kalangan kolonialis-kapitalis juga memanfaatkan kalangan feodal untuk menjaga kekuasaannya. Hubungan antara para kolonialis-kapitalis dengan para feodal adalah hubungan yang saling memanfaatkan dan saling menguntungkan, sedangkan rakyatlah yang menjadi objek penindasan dan penghisapan dari kedua belah pihak Kapitalisme yang lahir di Indonesia bukan ditandai dengan dihancurkannya tatanan ekonomi-politik feodalisme, melainkan justru ada usaha revitalisasi dan produksi ulang tatanan ekonomi-sosial-politik-ideologi-budaya feodal untuk memperkuat kekuasaan kolonialisme. Karena adanya revolusi industri terjadi kelebihan produksi yang membutuhkan perluasan pasar; membutuhkan sumber bahan mentah dari negeri asalnya; membutuhkan tenaga kerja yang murah -- mulai melakukan kolonialisasi ke negara-negara yang belum maju. terlebih seusai berhasil menjatuhkan monarki absolut. Tapi pertumbuhan ini dimulai dalam bentuk paling primitif dan sederhana. Hal ini sangat berbeda dengan lahirnya kapitalisme di negara-negara Eropa dan Amerika. Di kedua benua tersebut, kapitalisme lahir sebagai wujud dari dihancurkannya tatanan ekonomi-sosial-politik-ideologi-budaya feodal. Contoh kasus yang paling jelas adalah adanya revolusi industri di Inggris yang mendahului terjadinya revolusi borjuasi di Perancis
3. Tumbuhnya Kapitalisme di Indonesia
Pada masa Van den bosch tahun 1830, pemerintah Belanda membangun sebuah sistem ekonomi-politik yang menjadi dasar pola kapitalisme negara di Indonesia.  Sistem ini bernama tanam paksa. Ini diberlakukan karena VOC mengalami kebangkrutan.Tanam Paksa merupakan tonggak peralihan dari sistem ekonomi perdagangan (merkantilis) ke sistem ekonomi produksi. Ciri-ciri tanam paksa ini berupa:
1.     Kaum tani diwajibkan menanam tanaman yang laku dipasaran Eropa, yaitu tebu, kopi, teh, nila, kapas, rosela dan tembakau; kaum tani wajib menyerahkan hasilnya kepada pemerintah kolonial dengan harga yang telah ditentukan oleh pemerintah Belanda;
2.     Perubahan (baca: penghancuran) sistim pengairan sawah dan palawija;
3.     Mobilisasi kuda, kerbau dan sapi untuk pembajakan dan pengang kutan;
4.     Optimalisasi pelabuhan, termasuk pelabuhan alam;
5.     Pendirian pabrik-pabrik di lingkungan pedesaan, pabrik gula dan karung goni;
6.     Kerja paksa atau rodi atau corvee labour untuk pemerintah;
7.     Pembebanan berbagai macam pajak.
Sistem ini juga merupakan titik awal berkembangnya kapitalisme perkebunan di Indonesia.
Pada pertengahan abad 19 terjadi perubahan di negeri Belanda, yaitu menguatnya kaum kapital dagang swasta --seusai mentransformasikan monarki absolut menjadi monarki parlementer dalam sistim kapitalisme-- terjadi pula perubahan di Nusantara/ Hindia Belanda. Perubahan  kapitalisme ini pun menuntut perubahan dalam metode penghisapan dan sistem politiknya: dari campur tangan negara, terutama untuk monopoli produksi, perdagangan dan keuangan. Politik dagang kolonial yang monopolistik ke politik kapital dagang industri yang bersifat persaingan bebas, sebagai akibat tuntutan swastanisasi oleh kelas borjuis yang baru berkembang. Maka pada tahun 1870 tanam paksa di hentikan. Namun borjuasi yang masuk ke jajahan (di Indonesia) menghadapi problem secara fundamental yaitu problem tenaga produktif yang sangat lemah. tenaga kerjanya buta huruf, misalnya. Oleh karena itu untuk mengefisienkan bagi akumulasi kapital, pemerintah belanda menerapkan politik etis. Dengan politik etis pemerintah hindia belanda berharap agar tenaga-tenaga kerja bersentuhan dengan ilmu pengetahuan (meski tidak sepenuhnya) tekhnologi untuk menunjang produktivitas dan untuk perluasan lahan bagi kepentingan akumulasi modal. Mulai munculah sekolah-sekolah walaupun diskriminatif dalam penerimaaan siswanya.
Penerapan politik Etis ternyata menjadi bumerang bagi Belanda sendiri. Politik etis menumbuhkan kesadaran baru bagi rakyat-rakyat dengan tersosialisanya ilmu pengetahuan akhirnya mampu memahami kondisinya yang tertindas. Gerakan-gerakan modern untuk melawan penindasan mulai dikenal: mulailah dikenal organisasi terutama setelah partai-partai revolusioner di Belanda berkomitmen (merasa berkewajiban) membebaskan tanah jajahan. Seiring dengan ini mulailah dikenal mengenai sosialisme, kapitalisme, komunisme, dsb. yang selanjutnya sebagaimana yang kita ketahui dengan baik, rakyat mulai membangun perlawanan (berontak).
Dampak yang paling nyata dari adanya kapitalisme perkebunan dan adanya pendidikan, perlawanan rakyat Indonesia -- yang dulunya hanya bersifat lokal, tidak terorganisir secara modern, dan tidak berideologi -- telah berubah secara kualitatif dan kuantitatif. Di mana-mana muncul secara massif dan menasional  perlawanan rakyat yang terorganisasikan secara modern dan memiliki ideologi yang jelas.
Revolusi di Cina dibawah Sun Yat Sen, kebangkitan kaum terpelajar Turki dan Revolusi Rusia (Oktober 1917) memberi pengaruh pada kesadaran kaum terpelajar negeri jajahan. Tahun 1908 berdiri sebuah organisasi Pemuda Boedi Oetomo, yang juga ditandai sebagai hari kebangkitan nasional. Pada bulan Juli 1917 mengubah Organisasinya menjadi sebuah partai politik. Hal yang sama terjadi dengan Sarekat Islam (SI). Dari titik ini kepartaian di Indonesia di bagi dua yaitu yang berkoorperasi--masuk dalam sistem kolonial-- dan yang menolak masuk ke dalam sistem kolonial tersebut. Yang masuk dalam ketegori koorporasi ialah BU dan SI sedangkan kelak yang masuk kedalam kategori non-ko ialah PKI dan PNI.
Di dalam kongres SI di Yogyakarta terjadi perpecahan antara faksi revolusioner dengan ulama-ulama kolot feodal yang menolak SI bergabung dengan organisasi-organisasi dunia yang ada hubungannya dengan organisasi komunis internasional. Perpecahan ini mendorong faksi revolusioner untuk membangun sebuah wadah yaitu Partai Komunis -- partai komunis pertama di Asia--dalam sebuah kongres di Bandung, Maret 1923 yang menggariskan perbedaan secara prinsipil dengan SI yaitu partai komunis mengemban dan mengembangkan suatu kebudayaan revolusioner serta mengumandangkan pengertian dan kebebasan. Partai ini lahir ketika imperialisme di tanah jajahannya telah melahirkan kaum buruh dan sekaligus di dalam masyarakat yang masih mempertahankan sisa-sisa feodalisme. Sementara organisasi-organisasi lain tidak mampu membaca dan memanifestasikan kesadaran perlawanan rakyat.
PKI terus menjalankan politik radikalnya yang berujung pada pemberontakan pertama besar-besaran di Indonesia yang dipimpin oleh partai politik, pada akhir tahun 1926 sampai januari 1927, dan menolak penjajahan secara sangat serius.     
Serikat buruh yang mula-mula berdiri adalah serikat buruh trem dan kereta api (VSTP) dengan markas di Semarang, berdiri 1918. Juru propaganda pribumi VSTP yang pertama, Semaoen, selain bekerja untuk serikat buruh juga menjadi ketua Sarekat Islam (SI) lokal Semarang.   Gerakan ini mencatat beberapa kesuksesan antara lain di bidang perserikatan buruh yang di mulai pada mei 1923.
Usaha perjuangan pembebasan rakyat secara nasional ini, menunjukkan betapa takutnya pemerintah Belanda terhadap aksi-aksi massa yang radikal dan progersif. Sekitar 13.000 pejuang dibuang ke Boven Digul oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Salah satu sebabnya adalah ketidak-mampuan kaum radikal dalam mengkonsolidasikan secara baik dan menyeluruh kekuatan-kekuatan potensial rakyat, yaitu kaum buruh, kaum tani dan kaum tertindas lainnya. Sehingga kekuatan kaum radikal sendiri tidak cukup kuat untuk menghadapi aparat militer Pemerintah Kolonial. Satu pelajaran yang harus kita ambil adalah bahwa perjuangan bersenjata adalah kebutuhan nyata massa dan merupakan kulminasi dari situasi revolusioner perlawanan rakyat terhadap watak negara kolonial, dengan aparat kemiliterannya, yang selama ini melakukan penghisapan/penindasan terhadap segala bentuk perlawanan rakyat. Dengan demikian, kekalahan perlawanan 1926/1927, adalah kekalahan gerakan pada umumnya.
Sejarah perjuangan ternyata bergerak maju. Kekalahan gerakan pembebasan nasional tidak serta merta menyurutkan perjuangan. Posisi PKI di ambil alih oleh PNI yang berdiri pada tanggal 4 Juli 1927 dibawah pimpinan Ir. Sukarno. PNI berwatak kerakyatan dan partai massa. Sisa-sisa kaum progresif yang masih hidup lalu bergabung dengan PNI, sebagai alat perlawanan kolonialisme.Dukungan yang luas atas PNI membuat penguasa harus mengirim para aktivis PNI ke penjara, termasuk Sukarno. Akhirnya, pada tahun 1929 pimpinan PNI mengambil keputusan untuk membubarkan diri. Tapi aktivitas revolusioner yang dilakukan oleh kaum radikal tetap dilanjutkan dengan gerakan bawah tanah. Di bawah kondisi yang represif, terbitan dan pertemuan gelap lainnya terus dijalankan.
Ketika fasisme mulai merambah Eropa dan Asia, konsistensi perjuangan pembebasan tetap terjaga terus menerus. Sementara itu di Eropa, tahun 1939 Perang Dunia II meletus ketika Jerman dibawah Hitler menyerbu Polandia. Jepang lalu menyerbu Hindia Belanda dan mengusir kekuasaan Belanda digantikan dengan pemerintahan administrasi militer. Kerja paksa (romusha) diberlakukan untuk membangun infrastruktur perang seperti pelabuhan, jalan raya dan lapangan udara tanpa di upah. Serikat buruh dan partai politik dilarang. Yang diperbolehkan berdiri hanya organisasi boneka buatan pemerintah militer Jepang seperti Peta, Keibodan dll. Sebab-sebab dari timbulnya PD II adalah persaingan diantara negara-negara imperialis untuk memperebutkan pasar dan sumber bahan baku. Siapapun yang menang maka kemenangannya adalah tetap atas nama imperialisme. Jadi dapat disimpulkan bahwa Perang Dunia Kedua Adalah Perang Kaum Imperialis
4. REVOLUSI BORJUASI 1945
Pada tanggal 14 dan 16 Agustus 1945, Nagasaki dan Hiroshima di bom atom oleh tentara sekutu yang menyebabakan Jepang mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II, maka terjadi kevakuaman kekuasaan di tanah-tanah jajahan pemerintahan fasis Jepang termasuk Indonesia sementara tentara Sekutu belum datang. Maka pada tanggal 17 Agustus l945 Sukarno-Hatta yang masih ragu-ragu berhasil dipaksa oleh kaum muda untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan dimungkinkan karena adanya kevakuman kekuasaan. Momentum kekosongan kekuasaan negara ini yang membuat proklamasi dapat dibacakan berkat inisiatif dan keberanian dari kaum muda. Proklamasi pada tahun l945, juga didasari pada patriotisme bahwa kemerdekaan tidaklah boleh sebagai pemberian dari Jepang atau hadiah dari Sekutu, tapi berkat kepemimpinan dari para pejuang Indonesia.
Revolusi pembebasan nasional tahun l945 ternyata gagal menghasilkan demokrasi yang sejati bagi rakyat. Hal ini disebabkan karena kekuatan rakyat yang diorganisir oleh kaum radikal kerakyatan gagal mengambil kepemimpinan dalam perjuangan pembebasan nasional.Tampuk kekuasaan negara repulik Indonesia hanya pindah dari tangan para kolonialis-kapitalis ke tangan sisa-sisa feodalisme yang berhasil mentransformasikan diri menjadi borjuasi nasional (kapitalis local). Kekalahan start kaum radikal oleh borjuasi nasional dalam mengambil kepemimpinan politik untuk membentuk pemerintahan koalisi nasional kerakyatan dikarenakan penetrasi Amerika yang memperalat kekuatan-kekuatan politik yang ada di Indonesia. AS dengan dukungan beberapa sekutunya di Indonesia lalu membuat skenario teror putih dengan menghancurkan kaum radikal dan frontnya. Hasil dari revolusi borjuasi secara umum adalah pemindahan kekuasaan dari tangan para kolonialis-kapitalis Hindia-Belanda ke tangan para borjuasi baru sipil dan militer.
Program politik untuk menuntaskan revolusi borjuasi nasional yang belum tuntas dan harus dilanjutkan dengan revolusi sosial menjadi pemikiran  dan dijalankan oleh banyak kekuatan partai politik. Pada era demokrasi multi partai ini, terjalin sebuah kehidupan berbangsa yang demokratis karena keterlibatan partisipasi politik rakyat sangat besar di sini dan banyak-nya partai yang mempunyai orientasi yang pro-rakyat. Dalam masa damai era demokrasi multi partai ini, militer dan para pendukungnya tidak mampu berbuat banyak. Oleh karena itu, mereka sering melakukan sabotase ekonomi (lewat penyelundupan), ancaman kudeta, dan menciptakan pemberontakan separatisme, dengan tujuan untuk mengacaukan masa damai yang lebih menguntungkan kalangan sipil dan mayoritas rakyat. Kita catat misalnya dikepungnya Istana Merdeka pada tanggal 17 Oktober 1952. Dalam usaha kudeta itu militer bekerja sama dengan bandit-bandit ekonomi-politik dalam negeri, beberapa kekuatan politik kanan, dan agen rahasia luar negeri seperti CIA-Amerika dan MI-6-Inggris.
Militer Indonesia yang di kuasai tentara reguler jebolan KNIL dan PETA hasil dari rasionalisasi dan restrukturisasi yang menyingkirkan laskar-laskar rakyat berhasil memperkuat basis ekonomi-nya melalui program banteng pada tahun 1957. Program in merupakan usaha “penciptaan” kelas borjuasi nasional (kapitalis lokal). Program ini juga berisi nasionalisasi besar-besaran aset swasta asing dan ex perusahaan Belanda dengan melibatkan pengusaha pribumi dan jenderal-jenderal militer (TNI).  Program ini juga merupakan tonggak masuknya militer sebagai kapitalis dan munculnya pengusaha-pengusaha dari partai-partai politik.  Sistem ekonomi Orde Lama juga masih berada disekitar jalur industrialisasi. Dalam situasi ini masih terdapat ilusi tentang tentara yang konstitu sional dan pro-rakyat. Salah tafsir ini mengingkari bahwa ABRI, yang cikal-bakalnya rakyat, telah dikooptasi oleh kaum reaksioner, ini membuktikan tentara mempunyai tendensi-tendensi akan kekuasaan politik. Tendensi ini makin nampak jelas ketika dimasukannya ABRI sebagai golongan fungsional, jadi dapat dipilih tanpa pemilu. Ini semua merupakan bentuk kongkrit dari penjabaran konsep Jalan Tengah dari Nasution, bahwa ABRI harus menjadi kekuatan sosial-politik. konsep ini yang kemudian dikembangkan oleh Jendral Suharto menjadi Dwi Fungsi ABRI.
Militer yang ingin berkuasa penuh secara politik dengan konsep jalan tengahnya dan mendapat perlawanan yang keras dari kekuatan buruh dan tani lewat PKI. Puncaknya meletuslah peristiwa 65 yang lebih kita kenal dengan G 30 S/PKI. Dan militer akhirnya mengkudeta Soekarno dan membantai massa dan simpatisan PKI dan Soekarno.

5. Orde Baru dan Kapitalis Bersenjata
Konsolidasi kapitalisme di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari scenario lembaga-lembaga sistem kapitalisme dunia seperti IMF dan World Bank. Kapitalisme dengan syarat-syarat kekuatan produktif yang rapuh dibidang teknologi serta kurangnya dana segar untuk modernisasi menjadikan penguasa Orba harus bergantung sepenuh-penuhnya pada kekuatan modal Internasional Jepang, Amerika, Inggris, Jerman, Taiwan, Hongkong, dll. Pengabdian Orba pada modal semakin membuktikan bahwa pada prinsipnya negara Orba dibawah kekuasaan yang dipimpin oleh Jendral Soeharto adalah ALAT KEPENTINGAN-KEPENTINGAN MODAL.
Pada tahapan awal konsolidasi kekuasaannya,  Soeharto berhasil memanfaatkan pinjaman hutang luar negeri dan penanaman modal asing. Soeharto melahirkan orang kaya baru (OKB) dan tumbuhnya Kapitalis. Soeharto juga memberikan lisensi penuh kepada sekutu dan kerabatnya untuk monopoli Export-import, penguasaan HPH dan perkebunan-perkebunan kepada yayasan-yayasan Angkatan Darat. Sehingga seluruh aset ekonomi kekayaan negara dikuasai oleh kroni-kroni Soeharto. Dan Rezim Orba ini juga menggunakan kekuatan militernya untuk merefresif, membungkam dan meredam kekritisan dan protes dari rakyat. Senjatanya yaitu Dwi Fungsi ABRI dengan manifestasinya yaitu kodam, kodim, korem, koramil, babinsa/binmas. Juga badan extra yudisialnya seperti BIA, BAIS,dll.
Pada masa kekuasaan Rezim Orba ada beberapa perlawanan rakyat, tetapi organisasi perlawanannya lemah sehingga dapat dipukul dengan mudah seperti kasus Aceh, Tanjung Priuk, Lampung,dll. Di Gerakan Mahasiswanya sendiri Rezom Orba mengeluarkan kebijakan NKK/BKK yang jelas-jelas sangat meredam kekritisan mahasiswa, dan membuat mahasiswa jadi sulit untuk merespon kondisi masyarakat Indonesia.
Pada tahun 1997 terjadi krisis yang melanda dunia. Krisis ini diakibatkan oleh over produksi yang menyebabkan pengembalian modal mengalami kesulitan. Dampak dari krisis Global ini sangat berpengaruh sekali pada negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Ditambah lagi dengan jatuh temponya hutang luar negeri. Dampak dari krisis ekonomi di Indonesia awal dari keruntuhan Rezim Orba.
Runtuhnya Orba yang dimulai dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia. Dampak dari krisis ekonomi tersebut adalah naiknya harga sembako. Sehingga terjadi pergolakan dimana-mana yang menuntut diturunkannya harga sembako. Gerakan Mahasiswa yang selama ini vakum mulai bangkit melawan Rezim otoriter Soeharto. Tuntutan Mahasiswa dan Rakyat yang tadinya mengangkat isu-isu ekonomis meningkat menjadi isu-isu politis.
Pada tahun 1998 Gerakan Mahasiswa dan Rakyat berhasil melengserkan Soeharto dari kursi kekuasaannya. Soeharto digantikan oleh Habibie yang masih anak didiknya. Habibie hanya setahun berkuasa di Indonesia. GusDur naik sebagai Presiden RI dan Mega sebagai wakilnya melalui Pemilu 1999 yang katanya demokratis.

6. Indonesia dalam alam Neo Liberalisme.

Neo liberalisme adalah salah satu bentuk baru kapitalisme. Jurus neolib ini dilahirkan oleh kapitalisme Internasional dikarenakan pada saat itu dunia sedang mengalami krisis global. Persaingan pasar bebas menurut kapitalisme Internasional adalah jawabannya. Sehingga kesepakatan WTO pada November 1999 di Seattle Amerika adalah tahun 2003 sebagai tahun diberlakukannya pasar bebas di Indonesia. Dampak dari pasar bebas di Indonesia ini akan mematikan perekonomian rakyat kecil di Nidonesia. Karena produksi Indonesia belum mampu bersaing dengan produksi luar negeri, karena keterbatasan teknologi.
Rezim Mega-Hamzah yang saat ini memimpin Indonesia ternyata tidak mampu berbuat banyak untuk menolak Neolib ini. Karena pemerintahan GusDur-Mega masih sangat bergantung pada pinjaman hutang luar negeri terutama IMF dan World Bank.
Sementara rakyat Indonesia menuntut kepada Rezim yang baru naik, yang katanya mendapat legitimasi dari rakyat untuk menuntaskan agenda-agenda Reformasi total, yang beberapa pointnya yaitu pemberantasan KKN, pemulihan ekonomi, cabut dwi Fungsi TNI/Polri(ABRI), Pengadilan Soeharto & kroninya serta sita asset-aset kekayaannya untuk subsidi kebutuhan rakyat. Dan sampai saat ini Rezim Mega-Hamzah belum mampu. Bahkan pemerintahan Mega-Hamzah membuat konsesi dengan sisa kekuatan lama (sisa Orba dan militer). Inilah yang membuat terhambatnya proses demikratisasi di Indonesia. Rezim yang diharapkan rakyat banyak juga menggunakan militer sebagai pendukung kekuasaannya. Ini terbukti bahwa Rezim Mega-Hamzah sama saja dengan rezim Orba. Bahkan militer berkali-kali mencoba ingin berkuasa kembali di Indonesia dengan mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu RUU PKB, dll (terakhir mereka mencoba untuk mengaburkan tuntutan pencabutan Dwi Fungsi TNI/Polri dengan isu TNI/POLRI mempunyai hak untuk memilih dan dipilih lewat Pemilu), dan ini justru didukung oleh Rezim. Ini berarti mereka memberi peluang untuk terjadinya kembali praktek-praktek militerisme di Indonesia.

7. Hal-hal yang harus kita lakukan untuk merubah Indonesia.
Untuk merubah Indoneisa, kembali kepada cita-cita kemerdekaan rakyat Indonesia yang sesungguhnya, yaitu membangun suatu masyarakat yang adil dan makmur. Kita harus menghancurkan dulu sistem kapitalisme yang sangat menindas tehadap hak-hak kaum pekerja yang menjadi mayoritas dari rakyat Indonesia. Kita harus membangun Organisasi-organisasi perlawanan rakyat untuk menentang segala macam system yang tidak berpihak pada rakyat. Dan kita juga harus mampu mempelopori membentuk system yang berpihak kepada rakyat. Sistem  yang berpihak kepada rakyat yaitu system Demokrasi Kerakyatan. Kita harus merebut demokrasi sejati, untuk itu kita harus mentaskan revolusi demokratik di Indonesia. Kita harus menegakkan demokrasi sepenuhnya di Indonesia. Demokrasi Tanpa Penindasan.


Rosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi




Sumber                 : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor         : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan,  Januari 2004
Versi Online        : Indomarxist.Net,  3 Februari 2004

 * * *
Banyak sudah tulisan yang memahat nama agung perempuan ini, seorang pemimpin partai revolusioner Jerman (SPD); jurnalis dan penulis tersohor, sekaligus pemikir Marxis terkemuka. Rosa Luxemburg, tak hanya di Jerman, namanya abadi pula dalam perjuangan revolusioner di Polandia dan Rusia. Sebarisan karya-karya besarnya menjadi bagian dari penggerak perubahan sejarah. Seumur hidupnya, dengan sepenuh-penuh jiwanya, ia teguh berjuang demi tegaknya sosialisme.
Berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolsyevik yang dengan gemilang meledak di Rusia, rezim Hitler menamatkan riwayatnya. Tengah malam pada Januari 1919, setelah menjalani perburuan panjang, beserta Wilhelm Pieck dan Karl Liebknecht, -- kawan-kawannya-- ia ditangkap tentara Jerman. Dalam perjalanan ke penjara mereka disiksa habis-habisan. Batok kepala Luxemburg dihantam dengan popor senjata, remuk. Belum selesai di situ, kepala perempuan yang sarat pikiran-pikiran radikal ini dihujani berpuluh-puluh peluru.
Mayatnya lantas dilempar ke sungai. Leo Jogiches, kawan karib sekaligus kekasihnya,  terus mencari-cari hingga akhirnya ia sendiri tertangkap dan dibunuh tentara Jerman, sebelum berhasil menemukan mayat Luxemburg. Baru pada bulan Mei, mayat Luxemburg ditemukan mengapung, tersangkut di tiang pancang jembatan, di sebuah sungai di pinggiran kota Berlin.
Remuk, dan sudah membusuk. Toh, orang masih mengenali Rosa Luxemburg, masih mengenali sebelah kakinya yang cacat. Surat-surat indah, artikel, polemik yang ditulis pada kawan-kawannya, pada Leo Jochiches yang sering dipanggilnya “Julek”,  adalah jejak-jejak berharga yang tertinggal sampai abad ini. Dia dikebumikan pada Juni di Friedrichsfeld berdampingan dengan kekasihnya. Juga bersama dengan jasad para revolusioner lainnya.
 
Keturunan Yahudi Yang Tersisih
 
Lahir pada bulan Maret 1871 di Zanosc, sebuah kota kecil di tenggara negara Polandia. Kelahirannya tepat beberapa hari sebelum kaum buruh di Paris mendeklarasikan Komune Paris, bentuk pertama pemerintahan sejati rakyat. Dia bungsu dari lima bersaudara dari keluarga kelas menengah keturunan Yahudi, yang mengenal makna tersingkir dan tertindas sejak belia.
Pada usia dua tahun keluarga mereka pindah ke ibukota, Warsawa. Di situ pula awal mulanya Luxemburg mengidap penyakit serius. Tulang-tulang tubuhnya tak tumbuh sempurna. Kakinya cacat. Dari tempat tidurnya ia belajar membaca. Sampai akhirnya Luxemburg kecil terlihat menonjol kecerdasannya. Seiring itu pula, jiwa pembebasnya yang terbentuk semenjak belia makin kokoh terbangun. Hasilnya, saat ia tamat sekolah dasar menjadi lulusan terbaik, namun dewan guru menolak memberikan penghargaan tersebut karena dinilai  “terlalu suka menentang pihak yang berwenang".
Menatap Luxemburg secara fisik, alangkah jauh dari gambaran keperkasaan pahlawan besar. Tubuhnya teramat kurus dan cenderung tidak proporsional, ukuran lengannya terlalu pendek.Tulang panggulnya tak rata, sehingga ia harus berjalan dengan kaki timpang. Toh, ia memiliki pesona tersendiri; binar matanya amat tajam, terpancar energi dan keyakinan luar biasa. Itulah yang mampu menundukkan  orang.
Tumbuh dengan jiwa pembebas, dengan semangat benci terhadap kezaliman, jelas bukan datang dari langit. Keluarganya lah yang mati-matian berjuang sebagai warga Yahudi yang tersisih, yang ikut membentuk keyakinannya. Ayahnya seorang terpelajar, memiliki pabrik kayu, yang memperkenalkannya dengan literatur politik. Ia mulai belajar tentang demokrasi modern. Sedang, sang ibu mewarisinya dengan kebijakan manusia. Seperti yang ditulisnya pada kawannya, Sophie Leibknect, Luxemburg mengatakan, ibundanya yang menganjurkan dirinya untuk membaca Injil sebagai sumber kebijakan manusia.   
Luxemburg tertarik dengan politik sejak di sekolah menengah, ia bergabung dalam pergerakan revolusioner bawah tanah, dan menjadi anggota salah satu sel Partai Proletariat, yang bersekutu dengan kelompok Narodnik (populis) di Rusia. Dua tahun sesudahnya ia mulai dicari-cari petugas, terancam ditangkap. Untuk menghindar dari pemerintahan otoriter Alexander III, ia  lari ke Swiss, pada tahun 1889.
Disana ia  belajar di Universitas Zurich, di bidang ilmu alam, ekonomi dan hukum. Ia ikut pula dalam perjuangan kelas pekerja, aktif dalam kehidupan politik  para imigran dari Polandia dan Rusia. Kota Zurich itu sendiri merupakan kiblat bagi kaum kiri untuk belajar, seperti dua orang Marxis termasyur dari Rusia, Plekhanov dan Akselrod. Rosa sempat belajar Marxisme, ikut perdebatan-perdebatan dan menjadi seorang teoretisi Marxis terkemuka. Di sana ia mematangkan Marxismenya. Ia meyakini dirinya sebagai bagian dari kelas proletar. Dia yakin, hanya sosialisme lah yang dapat memberikan kemerdekaan sejati dan keadilan sosial. Marxisme bukanlah hanya sebuah sistem teoritis untuk mengatasi semua persoalan, lebih daripada itu, dia merupakan metode menguji proses perubahan ekonomi pada masing-masing tahapan dari perkembangan sejarah beserta semua hasil dari kepentingan, gagasan, tujuan dan aktivitas politik masing-masing kelompok dalam masyarakat.
   Luxemburg berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu politik dengan menulis karya ilmiah tentang perkembangan kapitalisme di Polandia. Sebuah  gelar yang dianggap sebagai di luar kelaziman, lantaran pada waktu itu belum pernah ada perempuan yang sampai tingkat doktor.
1892, adalah titik awalnya secara total berserah diri dalam politik. Luxemburg mendirikan Partai Sosialis Polandia, namun beberapa waktu kemudian dia berselisih dengan para pimpinan Partai tersebut, yang dianggapnya terlalu berkompromi dengan nasionalisme borjuis.
Selanjutnya pada tahun 1893, bersama-sama dengan Leo Jochiches ia  mendirikan Partai Sosial Demokrat, yang bersifat lebih revolusioner. Masih sebagai organisasi bawah tanah, Luxemburg pergi ke Paris dan bekerja sebagai editor koran partai Sprawa Robotnicza. Selain sebagai penulis, ia lebih menyukai posisinya sebagai orator, sedangkan Leo lebih berkonsentrasi pada kerja-kerja organisasi. Dia menjadi seorang tokoh penting dalam Partai Sosial-Demokrat Jerman tanpa meninggalkan peranannya sebagai seorang pemimpin gerakan revolusioner Polandia.
Luxemburg mendapat kewarganegaraan Jerman tahun 1898 setelah menikah dengan Gustav Lubeck, seorang pimpinan sayap kiri SPD. Ia berpartisipasi pada Internasional Kedua dan pada revolusi 1905 di Rusia bergabung dengan partai Sosial Demokrat.
Seorang Petarung Sejati
Rosa Luxemburg adalah sang petarung sejati. Seorang visioner yang mempunyai pikiran jauh ke depan. Tak pernah gentar berhadapan dengan para pengkritiknya, berdebat dengan sesama orang revolusioner, dan tidak jarang berbeda pendapat dengan Lenin, karena keadaan di Rusia amat berlainan dengan kondisi di Jerman waktu itu, sehingga kaum Bolsyevik mengembangkan stategi dan taktik yang berbeda pula.
Ia selalu melawan unsur-unsur nasionalis dalam gerakan kiri Polandia. Waktu itu sebagian dari wilayah Polanda dikuasai oleh Rusia. Pada dasarnya Lenin setuju bahwa semua nasionalisme harus dilawan. Namun Lenin melihat masalah itu dari sudut pandangan seorang warga Rusia, yaitu seorang warga dari bangsa penindas, dan dia berusaha menyadarkan kaum buruh Rusia yang mesti menjamin hak rakyat Polandia untuk merdeka. Hanya dengan menjamin hak ini kaum buruh Rusia bisa ikut membantu dalam mengatasi nasionalisme di Polandia, karena nasionalisme muncul sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh administrasi Rusia.
Luxemburg menganggap sikap Lenin ini sebagai kompromi dengan nasionalisme. Perdebatannya kompleks, karena sebetulnya Luxemburg juga ingin menjamin hak tersebut untuk sejumlah bangsa tertindas lainnya. Pada dasarnya pendekatan Lenin harus dinilai lebih benar karena lebih dialektis. Dia menyimak perjuangan nasional dan perjuangan kelas dari dua sisi: "Kami orang Rusia harus menekankan hak rakyat Polandia untuk merdeka, sedangkan kawan-kawan Polandia harus menekankan hak mereka untuk bersatu dengan kami."
Luxemburg juga mengecam sepak terjang kaum Bolsyevik setelah mereka mengambil alih kekuasaan. Kritik ini, dalam sebuah naskah yang ditemukan setelah dia meninggal dunia, terkadang disalah artikan. Rosa dengan antusias mendukung revolusi Oktober yang dipimpin oleh Partai Bolsyevik: "Pemberontakan Oktober tidak hanya menyelamatkan Revolusi Rusia dalam kenyataan, tetapi juga menyelamatkan nama baik gerakan sosialis internasional ... masa depan kita di mana-mana diperjuangkan oleh kaum Bolsyevik."
Kritiknya yang ketiga menyangkut soal demokrasi. Sebelum Oktober, kaum Bolsyevik menuntut agar majelis konstituante (yang mewakili rakyat dengan cara parlementaris borjuis) mesti dipanggil. Setelah insureksi Oktober, ketika soviet-soviet (dewan-dewan utusan buruh, tentara dan petani) mengambil alih kekuasaan, pihak Bolsyevik tidak lagi mendukung majelis konstituante yang didominasi oleh pihak reformis dan borjuis itu.
Ketika majelis itu akhirnya berkumpul, malah dibubarkan oleh kaum Bolsyevik. Menurut Luxemburg tindakan ini tidak demokratik Tapi yang harus dimengerti di sini adalah perbedaan antara demokrasi borjuis dan demokrasi buruh (sosialis). Dalam prinsip, soviet-soviet adalah lebih unggul karena berdasarkan kaum buruh yang memilih wakil-wakil mereka di tempat kerja.Dalam kenyataan, soviet-soviet merupakan kekuasaan kelas buruh, sedangkan majelis konstituante dikuasai oleh pihak kontrarevolusi. Jika kaum Bolsyevik mau mempertahankan kekuasaan kelas buruh, mau tidak mau majelis konstituante harus dibubarkan.
Cukup jelas, bahwa salah satu kesalahan terbesar Rosa adalah ketidakbersediaannya untuk membangun sebuah partai tipe Bolsyevik beberapa tahun terlebih dahulu. Namun kita tidak boleh membandingkan Lenin dan Luxemburg begitu saja. Lenin mengembangkan sebuah partai tipe baru karena harus menghadapi kondisi baru di Rusia. Sebelum tahun 1914 dia tidak pernah menuntut agar Rosa keluar dari Partai Sosial Demokrat Jerman. Malah Lenin lebih percaya pada para pimpinan partai itu. Baru ketika perang dunia meledak, dan para pimpinan sosial demokrat mengkianati kelas buruh dengan mendukung perang tersebut, Lenin akhirnya mengakui: "Rosa Luxemburg terbukti benar: sudah jauh-jauh hari dia sadar bahwa Kautsky adalah seorang teoretisi oportunis."
Pada tahun 1905, revolusi Rusia yang pertama meledak. Di sini, pemogokan massa menjadi motor revolusi, dan fenomena itu memberikan pengertian baru yang mendalam untuk memahami hubungan erat antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Para pimpinan sosial-demokrat seperti Bernstein dan juga Karl Kautsky (yang waktu itu masih mengaku sebagai seorang revolusioner) tidak setuju dengan pemogokan massa, karena mereka menganggap aksi-aksi semacam itu kurang politis. Namun Luxemburg menekankan bahwa di masa revolusi, perjuangan ekonomi berkembang serta meluas menjadi perjuangan politik, dan sebaliknya: Gerakan semacam ini tidak hanya bergerak ke satu arah, dari sebuah perjuangan ekonomi ke politik, tetapi juga dalam arah sebaliknya. Setiap aksi massa politik yang penting, setelah mencapai puncak, menimbulkan sejumlah pemogokan ekonomi massa. Dan prinsip ini bukan hanya relevan untuk pemogokan massa secara terpisah, tetapi juga untuk revolusi secara keseluruhan. Dengan perluasannya, klarifikasi dan intensifikasi perjuangan politik, perjuangan ekonomi bukan hanya tidak surut, bahkan sebaliknya berkembang luas sekaligus menjadi lebih terorganisir dan lebih intensif. Ada pengaruh timbal-balik antara kedua macam perjuangan itu.”
Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya.
Puncak pemogokan massa adalah "pemberontakan terbuka, yang hanya akan terealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin tampaknya ‘gegabah’)." Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini: Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik dan ekonomi yang akan datang.”
Serangan yang gagal dari sayap kiri dari Partai Sosial Demokrat, "Liga Spartakus", di bawah kepemimpinan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht, telah menyeretnya ke penjara --Spartakus adalah seorang budak yang memberontak pada zaman Romawi kuno; Liebknecht adalah satu-satunya anggota parlemen Jerman yang melawan Perang Dunia I semenjak awal--, di tahun 1916 sampai 1918.
Dari balik tembok penjara lah ia justru menemukan kekuatannya. Disini ia berjuang keras melewati masa-masa depresi, ia tak mengeluh mengatakan berjuta penderitaannya. Selain menulis tentang Revolusi Rusia, satu-satunya hal yang membahagiakan adalah bisa menulis surat untuk Leo-nya, yang berselisih 15 tahun, yang kemudian dijatuhi hukuman mati lantaran mengedarkan seruan mogok bagi para para tentara dan buruh pabrik senjata. Sebelum kematiannya, dia telah memutuskan dengan Clara Zetkin dan Mathild Jacob untuk mempublikasikan tulisan-tulisan karya Luxemburg.  Hanya pada Leo lah ia nyatakan kepedihan hatinya: Jika saat ini, nyawaku mendahului pergi, aku tak sanggup lagi berkata-kata sebagai ungkapan perpisahan, dan hanya bisa menerawang dengan tatap kosong keputusasaan. Sejatinya, aku jarang sekali berkehendak untuk bicara. Minggu-minggu berlalu tanpa mendengar suaraku sendiri”.
Surat-suratnya terus mengalir dari penjara. Luxemburg, seseorang yang mempunyai kecintaan yang dalam pada kehidupan, dia juga meluangkan waktu dengan merenungkan “burung-burung, hewan serta puisi.”
Tentang Perjuangan Perempuan
Kendati secara khusus jarang menulis tentang gerakan perempuan, terhadap gerakan perempuan sikapnya jelas. Baginya, kebebasan perempuan adalah bagian dari pembebasan dari penindasan kapitalisme. Ia menentang pemisahan terhadap gerakan perempuan dan gerakan politik. Sebagai ketua partai ia lebih menempatkan dirinya sebagai pimpinan revolusioner dari laki-laki dan perempuan. Ia berdiri mutlak diantara  pertarungan politik.
Menurutnya, perempuan dapat mencapai kemerdekaannya secara penuh hanya dengan memenangkan revolusi sosial dan menyingkirkan perbudakan ekonomi mereka pada institusi keluarga, dan dia mencurahkan seluruh energinya untuk dipersembahkan pada revolusi. Luxemburg menolak pandangan tentang peran-peran stereotip perempuan yang biasanya, yang lazimnya ada di organisasi.
Ia tak pernah tertarik pada fungsi-fungsi administratif, keuangan, dan kerja-kerja pengorganisiran.Ia lebih suka berpidato dan menulis.Ia memahami pentingnya mengorganisir perempuan untuk menjadi bagian dari perjuangan revolusioner, dia tetap menolak untuk dipaksa dalam beberapa peranan tradisional perempuan ke dalam partai. Luxemburg memandang perempuan sebagai bagian yang terekspoitasi, termasuk di dalamnya kelas pekerja, bangsa-bangsa minoritas dan petani. “Seorang perempuan, harus berani untuk terlibat dalam politik, sebuah wilayah yang hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki”, demikian ungkapnya.
Dalam sebuah surat yang ditulis yang ditulisnya di penjara, dia meminta Sophie  Liebknecht untuk meneruskan bacaannya. “Engkau harus terus-menerus mengasah batinmu, dan hal tersebut akan sedikit mudah untukmu jika fikiranmu senantiasa segar dan lentur”.
Dalam sebuah pidato pada Rally Perempuan Sosial Demokratik Kedua, 12 Mei 1912, Luxemburg menyatakan bahwa hak memilih kaum perempuan adalah sasaran yang tepat. Dia berpendapat bahwa “gerakan massa untuk memperolehnya bukanlah (sekedar) tugas bagi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat proletariat. Lemahya hak-hak yang diberikan oleh pemerintah Jerman adalah hanya salah satu rantai belenggu yang menghalang-halangi kehidupan masyarakat. Lemahnya hak-hak pada kaum perempuan menjadi alat yang paling penting dari klas kapitalis yang berkuasa.”***    


Term of Reference Ceramah Insadha



TEMA:
“Saatnya Pemuda Bergerak sebagai agen Pembaharu”
Sesi Analisa Sosial
Dalam pengertian yang sangat sederhana Analisa Sosial atau biasa disingkat Ansos adalah metode populer yang efektif untuk membantu kita menemukan akar penyebab dari proses sosial yang sedang berlangsung serta mencoba mengenali diri kita sendiri dalam mekanisme tersebut. Maka seringkali Ansos biasa di fasekan melalui beberapa tahap[1] yaitu : Pertama, Identifikasi permasalahan atau mulai melihat sekian permasalahan yang sedang menggejala di tingkatan masyarakat; Kedua, menemukan unsur-unsur yang mempengaruhi sekian permasalahan tersebut berdasar atas struktur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang ada; Ketiga, melakukan analisa atas unsur-unsur yang mempengaruhi bersandar atas cara pandang (Ideologi) yang lahir atas pengetahuan yang berkembang di masyarakat, sejarah dan realitas yang masyarakat hari ini; Keempat, Positioning Diri, dalam hal ini, individu mampu “sadar” atas realitas yang terjadi dan mampu menempatkan diri sebagai manusia yang dibekali akal-budi dalam realitas sosial tersebut; Kelima, refleksi iman, yaitu bagaiman iman dari keyakinan kita masing-masing sebagai manusia dalam memandang positioning diri kita dalam masyarakat Indonesia.
Pembicara diharapkan mampu mengajak mahasiswa baru untuk menganalisa bersama-sama tentang realitas sosial yang sedang berkembang. Baik lewat pendekatan kesejarahan atau alat baca yang lain. Memaparkan hingga menarik benang merah dari sesi diskusi Ansos ini. Serta tidak lupa mengajak untuk berefleksi bersama sebagai motivasi awal seorang pemuda untuk segera bergerak dalam sekian disiplin ilmu dan skillnya untuk menuntaskan sekian problem yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Diskusi bisa dimulai dari berbagai perspektif untuk misalnya mempermudah pembacaan. Misalnya dari pendidikan, budaya, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Untuk diingat peserta  adalah mahasiswa baru maka pembicara juga diharap menyesuaikan dengan keadaan psikologis sampai pemahaman wacananya.
Dalam diskusi nanti diharapkan memakai alat baca lokalitas, nasionalitas, globalitas. Lokalitas dimaknai sebagai segala hal yang terlihat disekitar atau lingkungan sosial baik dalam pengertian ruang kesadaran masyarakat hingga munculnya sekian permasalahan yang ada. Nasionalitas dipahami sebagai ruang kecenderungan umum masyarakat hingga ruang aktifitas aparatus negara sebagai penyelenggara kehidupan berbangsa dan bernegara baik yang terlihat dalam bentuk kebijakan. Globalitas merupakan segala hal yang mempengaruhi konteks Indonesia sebagai sebuah Nation-State baik berupa ide-ide sampai aktifitas Internasional yang mempengaruhi Indonesia. Artinya lokalitas, nasionalitas sampai globalitas adalah satu kesatuan alat baca yang sampai hari ini mempengaruhi terbentuknya suatu realitas sosial di Indonesia.
Batasan untuk materi kurang lebih seperti yang ada di bawah ini :
Dalam sejarah modern Indonesia ternyata hingga sekarang belum mampu mencapai pembebasan Indonesia sebagai suatu nation-state yang seutuhnya. Dikumandangkanya proklamasi pada 17 Agustus 1945 sebagai momentum politik merengkuh kedaulatan untuk mencapai kesejahteraan rakyat Indonesia (baca : Respublica), ternyata tidak benar-benar terlaksana. Praktis selama sekian puluh tahun merdeka manusia Indonesia belum pernah merasakan luar biasanya kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah.
Jikalau kita lihat sekarang mulai terjadi adanya massifikasi sekian problem yang terjadi di tingkatan masyarakat. Saat ini rakyat sebagai masyarakat sipil semakin terbelit dengan problem kerakyatan, bukan malah keluar dari belenggu ketertindasan seperti yang telah dijanjikan. Mulai dari biaya pendidikan yang semakin mahal, upah buruh yang rendah dan maraknya PHK massal, perampasan tanah atas petani, sampai kasus penggusuran, persoalan TKI yang tak kunjung usai yang diakibatkan lapangan kerja yang tidak memadai dan lain sebagainya.
Di tingkatan negara sendiri sebagai penyelenggara keberlangsungan adanya kehidupan berbangsa dan bernegara justru semakin sibuk untuk berebut kue-kue kekuasaan. Silih bergantinya pemerintahan ternyata tidak melahirkan suatu tatanan masyarakat yang sejahtera, akan tetapi justru malah semakin mengkhianati rakyat yang telah memilihnya lewat proses demokrasi semu yaitu pemilihan umum. Dan akhirnya malah menimbulkan sekian kebijakan-kebijakan yang ternyata secara subtansial masih sama dengan pemerintahan sebelumnya, malahan semakin menambah penderitaan rakyat. Lahirnya sekian undang-undang privatisasi sumber daya alam seperti air, tanah maupun udara. Belum lagi kebijakan tentang pemotongan subsidi sektor publik, seperti BBM, Pendidikan, Kesehatan dan lain sebagainya.
Belajar dari sejarah bangsa ini maka sebenarnya benang merah dari sekian permasalah ini adalah terjadinya ketergantungan negara ini dengan modal internasional. Kolonialisme yang dimulai sejak masuknya bangsa-bangsa barat ke bumi nusantara untuk terus mengeruk keuntungan yang berlimpah dari proses perdagangan ternyata tidaklah membuata mereka puas. Akan tetapi justru semakin memacu untuk terus menguasai negeri ini dengan melakukan proses kolonialisme itu sendiri. Hal ini ternyata berlangsung hingga saat ini dengan model penjajahan gaya baru yakni dengan mengkondisikan Indonesia sebagai sebuah negara mengalami proses ketergantungan secara politik. Artinya negara dalam keadaan tidak benar-benar berdaulat atas kebijakan politiknya. Hal ini betul-betul dimanfaatkan oleh modal atau kapitalisme internasional sebagai ruang dominasi pengambilan kebijakan baik secara politik maupun ekonomi sehingga menyebabkan setiap kebijakan yang ada tidak pernah berpihak kepada rakyat bangsa ini sebagai pemegang kedaulatan bangsa ini. Proses ketergantungan melalui kebijakan jebakan utang luar negri  merupakan alat legitimasi bagi kapitalisme internasional untuk mengobok-obok kondisi politik ekonomi bangsa ini. Jauh dari  itu, utang yang ditawarkan dalam bentuk dana segar selalu saja meminta tumbal berupa perubahan terhadap kebijakan negara (Structural Adjustment Programme) yang antara lain berupa privatisasi BUMN, deregulasi ekonomi dan pembukaan peluang investasi di semua sektor serta pengurangan subsidi pokok yang dimaksudkan untuk mengurangi peran negara dalam menjamin sektor publik guna memuluskan agenda Neo-Liberalisme (globalisasi/pasar bebas).
Situasi di atas menandakan bahwa karakter negara hari ini masih bersifat semi kolonial (baca: setengah terjajah), dimana terjadi lemahnya posisi tawar menawar negara ini di hadapan Kapitalisme Internasional dengan segala perangkat lembaga internasionalnya dari Bank Dunia, WTO, TNC-MNC sampai IMF. Kondisi ini malah diperparah dengan merajalelanya praktek-praktek kapitalisme birokrasi yang kemudian berujung pada pembentukan kekuatan demokrasi yang bersifat oligarki politik, yang hanya mencari keuntungan pribadi atau golongannya di tengah derasnya arus neoliberalisme sehingga menyebabkan sekian peristiwa sosial selalu saja bersumber dari konstelasi politik demi perebutan kue kekuasaan semata.





[1] Ansos Cakrawala Timur 26/06/03 h:4

REVOLUSI: PERNYATAAN KEBUDAYAAN



Agus S. Malma

Dalam salah satu kesempatan pertemuan Serikat Guru Kuba sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu, Pemimpin Revolusi Amerika Latin, Fidel Castro menyampaikan ungkapan yang bagi kita di Indonesia hari ini bisa menjadi rujukan klasik. Ungkapan yang dikutip Franz Fanon dalam satu artikel yang terkumpul dalam buku “TheWretched Earth” itu, Franz Fanon –tokoh Revolusi Kemerdekaan Afrika—Fidel mendiskripsikan élan vital revolusi sebagai ‘an extraordinary education process’, revolusi adalah proses pendidikan di luar kelaziman.
Antara Wretched Earth (Bumi yang Kerontang) yang dalam bingkai perjuangan kemerdekaan Afrika melawan imperialis-kolonialis Prancis merupakan final material consciousness atas kondisi tanah air Afrika yang terhisap sampai miskin dan ‘an extra ordinary education process’, kita di Indonesia hari ini menemukan satu tanya: apa pelajaran yang bisa kita ambil dari periode pembangunan (developmentalism) dengan tinggalan berupa hutang-hutang –ekonomi politik: sejarah—yang hampir bisa dikatakan nyaris tak terbayar?
Sejarah. Bidang sejarah apakah yang bisa memberi kita pelajaran? Masa lalu? Tokoh-tokoh? Kepala negara? Atau penulis sejarah itu sendiri? Apa yang telah kita bayar, sebagai bangsa, untuk sebuah periode bernama Pembangunan? Adakah oleh-oleh yang kiranya berguna untuk ini bangsa dari semua yang telah kita bayar-keluar-kan? Baik itu bernama kemajuan, kesejahteraan, kemerdekaan, harga diri, martabat? Apakah benar bahwa ladang pasir yang selama puluhan tahun tampak dalam kaca mata teori dan praksis politik pemalsuan sebagai pohon kemakmuran sejenis swasembada masih memberi kita kesempatan mengingat-menyadari apakah yang sebenarnya pernah, sedang, atau bahkan akan terjadi?
Belajar dari luka dalam di jantung kemanusiaan masyarakat-bangsa Indonesia sebagaimana tergulung dari kontrarevolusi 1965 yang memungkinkan kita memilih tidak mempercayai mata telinga di kita punya badan saking ngerinya itu peristiwa dan mata rantai exploitation de l’home par l’home yang susul menyusul di seantero negeri sebagai operasi penggusuran, pemerasan rasa, penculikan, pengusiran, penistaan anak-anak dan sumbu sejarah bernama ibu, mungkinkah kita punya kesiapan mental untuk melihat wajah kita sebagai masa depan? Mungkinkah kita dapat mengingat –menyadari secara jujur—tahun-tahun sia-sianya harapan, rendahnya cita-cita di tengah sebuah rezim yang mengajarkan bahwa kematian tanpa nama dan atau kuburan tanpa nisan bukanlah berita karena terlanjur dibiasakan sebagai resiko propaganda stabilitas? Mungkinkah kita berkaca tanpa membelah cermin melihat wajah diri individual dan naluri kolektif kita yang –di tengah pemakuan identitas sebagai masyaratakat paling bertuhan di antara bangsa-bangsa di seluruh dunia berdasar legitimasi Pancasila— meng-agamakan perdagangan dan memperdagangkan agama tanpa sedikitpun pengakuan atas dimestikannya manusia untuk bekerja?
Buruh Indonesia hanya mendapat uang makan, belum gaji. Begitu juga petani. Sehari penuh mereka bekerja. Dalam musim tertentu, para petani malah bekerja dan harus bermalam di ladang. Lalu, kalau modal asing itu masih bisa dipercaya sebagai benih dari sebuah kemakmuran negara dunia ketiga, apakah benih itu sudah menjadi pohon? Apakah pohon itu akan berbuah? Hitungan terakhir sejak badai moneter sepuluh tahun lalu, naga-naganya pohon itu kok hanya mendaun-rimbunkan bunga (utang). Padahal pohon itu bisa jadi lebih besar dari luas pulau-pulau yang termasuk wilayah kita punya negara dengan akar yang membelit bahkan sanggup menjebol kita punya tanah yang berisi harum darah pejuang revolusi kemerdekaan serta wangi keringat buruh tani dan juga tawa gembira anak-anak dan cinta para remaja atau kasih orang-orang tua.
Pengangguran atau kalaupun kerja, rata-rata rakyat Indonesia bekerja dengan kondisi yang jauh dari layak sehingga pada hitungan ekonomi teoritik berlangsung apa yang bisa disebut sebagai unvaluabled values (of work) dan menggelar barisan panjang kaum subsisten walaupun dalam ukuran ekonomi modern mereka adalah kelas pekerja tetap dengan pabrik yang megah dan produk serta merek gagah nan gemerlap. Secara matematik, kondisi masyarakat Indonesia berada atau terjebak di tengah micro economics disequlibrium dengan timpaan macro politics disorientation. Ketidakseimbangan mikro terjadi karena terdapat masalah besar bernama kegagalan negara yang merasuk kedalam individual realm, bobroknya negara yang menghantam keberadaan bangsa: barangkali tahun-tahun belakangan merupakan fase crucial-existencial crises paling gawat yang pernah dilewati bangsa Indonesia.
Pada garis ekonomi politik Marxian, micro disequlibrium di maksud terjadi ketika massa-rakyat Indonesia terjatuh dari dua belah kegagalan bernama sosialisme dan kapitalisme. Parahnya, dua kegagalan itu “diterima” massa-rakyat Indonesia sebagai resiko terakhir dari ekonomi politik cangkok yang dilangsungkan melalui proses mekanistik di luar ambang kesadaran otonom mereka. Sementara kebijakan depolitisasi-deideologisasi yang membuat massa-rakyat Indonesia, bahkan mereka yang berasal dari lapis terdidik, tidak diperkenankan mengenal logika sejarah bernama ideology yang dalam kamus filsafat modern disebut kapitalisme/sosialisme atau yang lain dan bahkan juga dibelokkan arah kesadarannya tentang agama serta budaya bangsanya, hari ini kita harus turut serta mengatasi dilemma ekonomi global yang dalam referensi Marxian standar disebut sebagai internal contradiction of capitalism.
Wacana dan praksis atau wacana praksis dan praksis wacana ekonom di Indonesia disibukkan dengan pembicaraan tentang recovery. Salah faham terbesar para ekonom di mana krisis kapitalisme internasional diaudit dengan bacaan atas kinerja pemerintah dan bukannya pada alur akumulasi dan sirkulasi modal internasional membuat tahun-tahun sia-sia penanggulan krisis berpadu dengan false anxciety (kerinduan semu) pada “tenang”-nya hidup bersama Orde Baru, sebuah ketenangan yang sebenarnya hasil rekayasa tentram menjadi tintrim (jawa: wingit, angker), menyeret kita pada gelombang pasang new wave  economy yang kalau tidak diantisipasi akan melahirkan ratusan juta pengangguran dan bulatan-bulatan kemiskinan masyarakat layaknya anak ayam mati di lumbung.
Secara paradigmatik, salah faham itu bermula dari penyederhanaan pukul-rata menyamadengankan gelembung kekayaan di beberapa negara industri utama sebagai over capital (kelebihan modal). Padahal yang terjadi secara persis adalah over nominal (kelebihan angka) sebagai resiko tak terelakkan dari ekonomi moneter yang –dalam prakteknya di Indonesia—tidak ditopang dengan fundamental ekonomi dan hanya mengandalkan “surat sakti” di mana dunia bank berkembang dalam alur yang terbalik dengan kelayakan logisnya. Regulasi perbankan dekade ‘80-an melawan hukum ekonomi dari buku apapun karena bank-bank itu mematok capital equity tidak berdasar asset yang mereka miliki dan hanya bersandar pada rencana yang “dipastikan” dengan surat-surat sakti itu. Secara global, Indonesia sejak saat itu merupakan lubang hitam ekonomi global yang menghisap semua yang bernama uang dari luar negeri dan menanggungkan tumpukan utang.
Kenapa disebut lubang hitam? Karena (pemerintah) Indonesia Orde Baru gagal atau memang tidak bermaksud mengisi ruang hampa antara bantuan luar negeri dengan Kerja yang disediakan bagi seluas-luasnya masyarakat. Barangkali, para petinggi serta arsitek ekonomi Orba menganggap cukup dengan hipotesis “tenang sajalah. Biar masyarakat bekerja di sawah di kampung masing-masing” dan tidak menyediakan sedikitpun pertimbangan bahwa kebijakan ekonomi moneter mereka dapat menghantam langsung bulir-bulir padi di sawah ladang Indonesia sebagai resonansi dari tren memihaknya beberapa negara yang secara internasional dikategorikan sebagai negara industri pada sektor pertanian seperti yang terjadi di Jepang dan kemudian sambung menyambung dengan menurunnya kualitas serta kuantitas petani sebagai bagian massa-pekerja maupun komoditas pertanian yang bisa menjamin peri hidup anak bangsa.
Dengan pendekatan sistemik alias bacaan struktural, hipotesa yang bisa dikemukakan dari uraian di atas adalah berlangsungnya gejala masyarakat yang –sadar tidak sadar—menghimpun serta mengelola dirinya sendiri dan negara yang tidak kenal wilayah pribadinya. Pintu dan jalan, hukum dan keteraturan, dilanggar justru oleh mereka yang memegang perkakas pertukangan membuat pintu mengeraskan jalan. Pada akhirnya, problem kebangsaan-kenegaraan Indonesia melampaui pembatasan keinginan dan membubung atau jatuh pada keniscayaan menjawab problem kemanusian dalam artinya yang paling mendasar: maju atau mundur dalam sejarah. Tentang dari mana mau kemana serta sedang ada di mana ini bangsa sebenarnya? Masihkah harapan kita aman di tengah labirin himpitan yang menyariskan deretan cita-cita Proklamasi tersudut di tepian luar lamunan yang menarik-narik kita semua pada situasi extreme impossibility? Sebentuk ekstrimitas kelas Juggernaut van Gidden yang beberapa waktu terakhir melemparkan kesadaran masyarakat-bangsa kita pada impian kebangkitan yang terlalu panjang untuk tidur zuur to macht kita yang baru sebentar atau mungkin baru terkantuk-kantuk.
Garis ideology pergerakan social di Indonesia mengajarkan kepada kita bahwa ada faktor-faktor non subyektif yang melahirkan kondisi mutakhir seperti diilustrasikan di muka. Highest intension of oppression yang dialami bangsa-masyarakat Indonesia –sejak dijajah oleh bangsa asing, dikhianati bangsa sendiri, sampai ditikam keterasingan yang menimpa baik bangsa sendiri atau bangsa asing—menjatuhkan kita semua di kubangan lumpur penghisapan-penindasan yang –maaf seribu maaf—menjadikan kita layaknya anak kecil yang menghisap dot karena sang pertiwi belum pulih benar dari apa yang digambarkan Franz Fanon dengan kekerontangan atau –kalaupun sudah pulih—ada banyak prasyarat sopan santun yang telah lama tidak kita patuhi sebagai anak-anak pertiwi sehingga –seperti yang pernah terjadi di masa lalu—pertiwi lebih memilih memberikan susunya kepada mereka yang mungkin tidak lahir dan menjadi dewasa di Indonesia tetapi punya keahlian rasional dan kemampuan nurani untuk mengurus pertiwi punya wilayah.
Dulu, ketika bangsa-bangsa di Indonesia belum berhadapan dengan same human condition seperti sekarang kita masih bisa meniscayakan kemungkinan bahwa someday they will come dan mengajarkan kepada kita bagaimana mengelola kekayaan –potensial maupun aktual, yang dimiliki ini bangsa. Tapi sekarang? Semua bangsa di semua negara sedang menghadapi keharusan yang sama: bagaimana keadilan dapat dirasakan semua orang, bagaimana kemerdekaan   


 

Trickle down effect tidak meneteskan kesejahteraan bagi massa-rakyat di negara dunia ketiga tetapi malah menetes di negara-negara perantara seperti Singapura dan juga perusahaan-perusahan multinational di sektor jasa, para pekerja –produsen kalah kaya dibanding makelar. Politik juga begitu.


     
Kepala Departemen Pertahanan dan Kebudayaan Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), tinggal di Banten.


Takdir Historis bagi Doktrin Karl Marx



Vladimir Lenin (1913)



Diterbitkan dalam Pravda No. 50, 1 Maret 1913
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stepan Apresyan (1963).
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim (November 1998).
Diterjemahkan dari teks dalam Marxists' Internet Archive.


Keutamaan doktrin Marx adalah ia memunculkan peran historis kaum proletariat sebagai pembangun masyarakat sosialis. Sudahkah jalannya kejadian-kejadian di seluruh dunia memperkuat doktrin ini sejak ia diuraikan oleh Karl Marx?
Marx pertama kali mengajukannya di tahun 1844. Manifesto Komunis Marx dan Engels, terbit tahun 1848, memberikan sebuah penjelasan terperinci yang integral dan sistematis dari doktrin ini, sebuah penjelasan yang bertahan sebagai yang terbaik hingga hari ini. Sejak itu secara jelas sejarah dunia terbagi menjadi tiga periode utama: (1) dari revolusi 1848 sampai Komune Paris (1871); (2) dari Komune Paris sampai revolusi Rusia (1905); (3) sejak revolusi Rusia.
Marilah kita melihat apa yang telah menjadi takdir dari doktrin Marx dalam masing-masing periode ini.

I.

Pada permulaan periode pertama, doktrin Marx sama sekali tidak mendominasi. Ia hanya satu dari banyak sekali kelompok atau trend sosialisme. Bentuk-bentuk sosialisme yang banyak mendominasi adalah dekat dengan Narodisme kita: ketidakpahaman terhadap basis materialis dari perkembangan sejarah, ketidakmampuan untuk membedakan peran dan pentingnya masing-masing kelas dalam masyarakat kapitalis, penyembunyian karakter borjuis dari reform-reform demokratik di balik bermacam-macam ungkapan sosialis-semu tentang "rakyat", "keadilan", "hak", dan sebagainya.
Revolusi 1848 telah memberikan pukulan yang mematikan pada segala bentuk sosialisme pra-Marxian yang riuh rendah, warna-warni, serta banyak lagak ini. Di semua negara, revolusi membuka kedok bagaimana kelas-kelas sosial yang beraneka ragam dalam tindakannya. Penembakan terhadap buruh-buruh oleh borjuasi republikan di Paris dalam Hari-hari Juni 1848 akhirnya menyingkapkan bahwa hanya kaum proletar yang berwatak sosialis. Kaum borjuis liberal merasa seratus kali lebih takut pada gerakan independen kelas ini daripada gerakan reaksioner macam apapun. Kaum liberal pengecut menyembah kepada golongan reaksioner. Kaum tani memuaskan diri dengan penghapusan sisa-sisa feodalisme, dan bergabung dengan para pendukung tatanan; mereka jarang sekali masih terombang-ambing antara demokrasi pekerja dan liberalisme borjuis. Semua doktrin mengenai sosialisme tanpa-kelas dan politik tanpa-kelas terbukti omong kosong semata.
Komune Paris (1871) melengkapi perkembangan perubahan borjuis ini; republik, yaitu bentuk organisasi politik yang di dalamnya hubungan-hubungan kelas muncul dalam bentuk yang paling tak tersembunyikan, konsolidasinya sepenuhnya berhutang pada heroisme kaum proletar.
Di semua negara Eropa lainnya, sebuah perkembangan yang lebih kacau dan kurang komplit menimbulkan akibat serupa – sebuah masyarakat borjuis yang telah mengambil bentuk definitif. Menjelang akhir periode pertama (1848-71) yang merupakan sebuah periode badai dan revolusi, sosialisme pra-Marxian mati. Partai-partai independen kaum proletar bermunculan: Internasional Pertama (1864-72) dan Partai Sosial-Demokratik Jerman.

II.

Periode kedua (1872-1904) dibedakan dari periode pertama oleh karakternya yang "damai", oleh tiadanya berbagai revolusi. Dunia Barat telah selesai dengan revolusi-revolusi borjuis. Dunia Timur belum muncul ke arah itu.
Dunia Barat memasuki fase persiapan "damai" bagi perubahan yang akan tiba. Partai-partai sosialis, yang secara mendasar proletar, dibentuk di mana-mana dan belajar menggunakan parlementerisme borjuis dan menggunakan terbitan harian mereka sendiri, institusi-institusi pendidikan mereka, serikat-serikat pekerja mereka, dan masyarakat-masyarakat kooperatif mereka. Doktrin Marx memperoleh sebuah kemenangan penuh dan mulai tersebar. Penyeleksian dan pengumpulan kekuatan-kekuatan kaum proletar, serta persiapannya untuk menghadapi pertempuran yang akan tiba mencapai kemajuan-kemajuan secara lambat tapi pasti.
Dialektika sejarah adalah sebagaimana bahwa kemenangan teoritis Marxisme memaksa musuh-musuhnya menyamarkan diri mereka sebagai kaum Marxis. Liberalisme, busuk di dalam, mencoba untuk membangkitkan kembali dirinya dalam bentuk oportunisme sosialis. Mereka menafsirkan periode penyiapan kekuatan-kekuatan untuk pertempuran-pertempuran besar sebagai penolakan terhadap pertempuran-pertempuran ini. Kemajuan kondisi-kondisi kaum budak untuk melawan perbudakan upah kerja mereka mengerti sebagai penjualan hak atas kemerdekaan oleh para budak demi uang dalam jumlah kecil. Dengan kecut hati mereka mengajarkan "perdamaian sosial" (yaitu perdamaian dengan para pemilik budak), penolakan atas perjuangan kelas, dan lain sebagainya. Mereka memiliki amat banyak pengikut di tengah kaum sosialis yang menjadi anggota parlemen, beraneka pejabat dalam gerakan kelas pekerja, dan kaum cendekiawan yang "menaruh simpati".

III.

Namun kaum oportunis baru saja memberi ucapan selamat pada diri mereka sendiri atas "perdamaian sosial" dan atas tidak perlunya pergolakan-pergolakan sosial di bawah "demokrasi", ketika sebuah sumber baru dari pergolakan besar dunia terbuka di Asia. Revolusi Rusia diikuti oleh revolusi di Turki, Persia, dan Cina. Dalam era yang penuh badai dan "akibat-akibatnya" di Eropa inilah kita sekarang hidup. Bagaimana pun juga nasib Republik Cina besar dalam melawan berbagai macam hyena "beradab" yang sekarang tengah mengasah gigi geligi mereka, tak ada kekuatan di atas bumi dapat menempatkan kembali perbudakan yang lama di Asia ataupun memusnahkan demokrasi yang heroik dari massa di negara-negara Asiatik dan negara-negara semi-Asiatik.
Orang-orang tertentu, yang kurang memperhatikan kondisi-kondisi bagi persiapan dan perkembangan perjuangan massa, terperosok dalam keputusasaan dan anarkisme akibat penundaan panjang dalam perjuangan yang menentukan melawan kapitalisme di Eropa. Sekarang kita dapat melihat bagaimana gelap mata dan patah arangnya keputusasaan kaum anarkis ini.
Fakta bahwa Asia, dengan penduduk yang berjumlah 800 juta jiwa, telah terseret ke dalam perjuangan demi ideal-ideal yang sama dengan halnya ideal yang diimpikan oleh orang Eropa, harus menginspirasi kita dengan optimisme dan bukan keputusasaan.
Revolusi-revolusi di Asia telah memperlihatkan lagi kepada kita tentang lemah lunglainya dan betapa rendah budinya liberalisme, pentingnya independensi gerakan massa demokratik, dan demarkasi yang tegas antara kaum proletar dengan segala jenis borjuasi. Setelah pengalaman baik Eropa dan Asia, sembarang orang yang bicara mengenai politik-politik non-kelas dan sosialisme non-kelas, selayaknya tanpa basa basi diletakkan dalam sebuah kandang dan dipamerkan berdampingan dengan kanguru-kanguru Australia atau makhluk sejenis itu.
Setelah Asia bergerak, Eropa telah mulai bangkit pula, meskipun tidak dengan cara Asia. Zaman "damai" antara 1872-1904 telah berlalu dan tak akan pernah kembali. Tingginya biaya hidup dan tirani perusahaan-perusahaan konglomerat sedang menimbulkan penajaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perjuangan ekonomi, yang telah membuat bergerak bahkan para buruh Inggris yang paling dikorup oleh liberalisme. Kita melihat sebuah krisis politik timbul bahkan di Jerman, negara Junker-borjuis yang paling "keras kepala". Persenjataan yang hingar-bingar dan kebijaksanaan imperialisme sedang menjelmakan Eropa modern menjadi sebuah "kedamaian sosial" yang lebih mirip sebuah tong mesiu. Bersamaan dengan pembusukan partai kaum borjuis, pematangan kaum proletar membuat kemajuan yang konstan dan terus menerus.
Sejak kemunculan Marxisme, tiap periode dari tiga periode besar sejarah dunia telah membawa konfirmasi baru serta kemenangan-kemenangan baru kepada Marxisme. Tetapi masih ada sebuah kemenangan lebih besar menantikan Marxisme, sebagai doktrin kaum proletar, dalam periode sejarah yang akan tiba.


KAPITALISME




berbicara tentang kapitalisme tentunya kita tidak bisa melepaskannya dengan perkembangan sejarah umat manusia itu sendiri, yang dalam hal ini adalah sejarah perkembangan ekonomi karena kapitalisme sendiri sebenarnya adalah seuah system ekonomi yang merupakan buah dari dialektika antara kondisi – kondisi obyektif yang terjadi di dalam masyarakat. Sesungguhnya yang berhasil menguraikan kapitalisme scara lebih mendalam dan sistematis adalah seorang filsuf yang bernama Karl Heinrich Mark tetapi saya tidak akan langsung membahas kapitalisme melalui kerangka – kerangka teoritik yang digagas oleh Mark, karena kapitalisme sendiri sesungguhnya sudah muncul sebagai sebuah sisitem ekonomi sebelum Mark membuat DAS KAPITAL (uraian panjang Mark mengenai kapitalisme ) saya akan lebih memulai tulisan ini dari kurun waktu sekitar abad ke 17 di mana pada masyarakat eropa telah mucul gagasan – gagasan ekonomi dari zaman merkantilisme yang merupkan tahap pendahulu sebelum kita memasuki mazab klasik yang diidentikan dengan lahirnya kapitalisme.


Pada abad ke 17 masyarakat politik di eropa telah menemukan suatu gagasan mengenai nation state ( negara bangsa ) yang diasumsikan memiliki wewenang kekuasaan atas wilayah yang lebih luas, situasi politik dan situasi ekonomi pada kenyataanya akan saling mempengaruhi satu sama lain. oleh karena situasi yang politik yang berembang tersebut akhirnya mempengaruhi situasi ekonominya yang dalam hal ini adalah kegiatan usaha masyarakat, sebelum masyarakat eropa mengenal gagasan mengenai nation state kegiatan usaha masyarakat pada saat itu terdiri dari satuan usaha – usaha kecil yang tergabung dalam asosiasi yang bernama guilds, distribusi produksinya atau daerah pemasaranya hanya terbatas pada linkup wilayah yang kecil tetapi ketika gagasan mengenai nation state tadi timbul maka guilds dianggap tidak lagi relevan dengan perkembangan ekonomi yang sudah mengacu pada perdagangan antar bangsa karena iti pokok dari ajaran merkantilisme adalah perdagangan luar negri atau perdagangan antar bangsayang yang dapat menghasilkan surplus ekspor daripada impor dan surpls yang dimaksud adalah dalam bentuk logam mulia ( emas dan perak ) dan hal tersebut memerlukan dukungan kuat dari pemerintah denagn memberikan proteksi – proteksi dan subsidi serta melakukan pembatasan impor kecuali dalam hal impor bahan baku yang nantinya akan diolah menjadi produk ekspor. 

Bertentangan dengan gagasan ekonomi kaum merkantilis kaum fisiokrat memandang bahwa kegiatan pertanian yang seharusnya menjadi sumber kemakmuran atau sumber kekayaan suatu bangsa karena sesungguhnya hanya sector pertanian yang menghasilkan surpluss produksi secara netto dalam arti ada selisih jumlah antara hasi produksi dan konsumsi karena tanah diasumsikan memiliki kemampuan untuk mengahasilkan surplus produksi dalam jumlah yang melebihi peralatan – peralatan dan bahan – bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi dalam sebuah industri sedangkan kaum saudagar tidak menghasilkan kelebihan bersih tetapi hanya mentransformasikan nilai yang sebelumnya sudah ada dengan mengolahnya menjadi barang manufaktur. Dalam mazab fisiokrat inilah yang nantinya akan melahirkan benih – benih teori yang akan berkembang menjadi pondasi dari sebuah bangunan sisitem ekonomi yang bernama kapitalisme, misalnya teori tentang pembagian surplus tentang harga barang dll.

Selanjutnya adalah mazab klasik, di dalam mazab klasik kita akan menemui dua orang yang paling menonjol dalam zaman ini, adam smith dan david richardo yang perlu dikaji dalam pemikiran ekonomi adam smith adalah uraiannya tentang harga barang. Adam smith menyatakan bahwa harga dari suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi barang tersebut selanjutya adalah sewa tanah dan modal yang ditanamkan oleh pengusaha, tiga komponen tersebut yang nantinya akan terkait dalam pembagian surplus dari produksi barang dalam proses distribusi hasil produksi tetapi nanti kita akan melihat ketimpangan dalam proses distribusinya dan ketimpangan tersebut yang merupakan pokok bagi system ekonomi kapitalis semisal mengenai upah yang merupakan komponen dari proses produksi, teori mengenai upah yang dipaparkan oleh adam smith adalah sejumlah uang yang diperkirakan cukup bagi buruh untuk mempertahankan hidup, inilah yang disebut sebagai teori upah berdasarkan kebutuhan hidup. Lalu kemana larinya sejumlah surplus yang bersal dari nilai yang diciptakan oleh buruh ? surplus inilah yang kemudian masuk ke dalam kantong si kapitalis yang diasumsikan sebagai upah atas jasa modal  


Selanjutnya apabila kita berbicara mengenai mazab klasik maka kita tidak dapat melepaskannya dari seorang yang bernama david richardo sesungguhnya antara david richardo dengan pendahulunya yang bernama adam smith tidak terdapat perbedaan – perbedaan yang cukup mencolok mengenai konsepsinya tentang ekonomi, mengenai hal pembentukan harga david richardo juga mengemukakan bahwasanya harga suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi barang tersebut. Konsepsinya nengenai harga barang itu akan berimbas pada teorinya tentang upah, bahwasanya upah buruh hanya disesuaikan dengan kebutuhan sang buruh untuk mempertahankan hidupnya tidak kurang tidak lebih itulah yang dinamakan hukum besi david richardo kalaupun dalam kenyataanya upah buruh naik menurut david richardo hal itu hanya bersifat temporary atau sementara saja karena menurut david richardo hukum besi merupakan harga keseimbangan bagi buruh. tetapi yang kemudian menarik di sini adalah teori tentang perdagangan internasional yang merupakan salah satu pokok dari pemikiran ekonomi david richardo hal ini sangat berkaitan dengan penekanan upah buruh tadi dalam logika perdagangan internasional akan ditemukan konsepsi mengenai keunggulan komparatif yaitu kemampuan suatu bangsa untuk memproduksi suatu barang yang biaya produksinya relative lebih murah apabila dibandingkan dengan negara lain yang memproduksi barang yang sejenis dan apabila dikaitkan dengan penekanan upah buruh tadi akan terlihat bahwa buruhlah yang dijadikan keunggulan komparatif tersebut 

Apabila pada mazab klasik kita telah melihat mengenai perkembangan pemikiran ekonomi adam smith dan david richardo kita akan menemui kecenderungan – kecenderungan pada system ekonomi yang kapitalistik maka pada masa mazab ekonomi neo klasik kita akan menemui kritik terhadap system ekonomi yang kapitalistik tersebut seperti yang telah disebutkan diatas orang yang mampu mengupas kapitalisme adalah Mark kritik mark akan lebih mendasarkan pada pencurian terhadap surplus distribusi barang produksi pengusaha terhadap buruh, mark menamakan teorinya ini treori nilai lebih. Mengenai harga barang  Mark juga sepakat dengan adam smith bahwa harga suatu barang ditentukan oleh banyaknya kerja pada proses produksi dan mark menggunakan tolak ukurnya adalah jam kerja. Mengenai teori upah yang digagas david richardo mark menemukan adanya kecurangan yang dilakukan oleh kaum pengusaha semisal pengusaha membeli buruh untuk jam kerja selama 8jam dengan gaji 10 ribu sebenarnya untuk mendapatkan upah sejumlah 10 ribu buruh cukup bekerja selama 6 jam tetapi karena buruh tadi telah dibeli tenaganya selama 8 jam maka sisa 2 jam tadilah yang merupakan surplus yang seharusnya dinikmati oleh buruh tetapi pada kenyataanya surplus tadi masuk ke kantong pengusaha.  

Mark kemudian tidak berhenti pada tahap itu saja kritiknya kemudian berlanjut hingga tahap ramalan mark mengenai runtuhnya kapitalisme akibat adanya over produksi, mark yakin bahwasanya kapitalisme pasti akan runtuh karena dia melakukan analisa terhadap kondisi obyektif yang terjadi di dalam masyarakat pembagian upah yang didasarkan pada hukum besi david richardo pada saatnya akan membawa kapitalisme pada keruntuhannya sendiri akibat daya beli masyarakat yang menjadi menurun karena upah yang diberikan hanya terbatas pada jumlah yang dibutuhkan untuk tetap mempertahankan hidup akibatnya buruh tidak mampu melakukan konsumsi barang produiksi yang dihasilkan oleh pengusaha. selanjutnya adanya persaingan diantara perusahaan kapitalis yang berlanjut pada pemacuan untuk memproduksi barang yang banyak yang pada akhirnya akan membawa dampak terhadap penuhnya pasar atas barang – barang produksi akhirnya pasar menjadi jenuh dan berakhir pada menurunya tingkat konsumsi masyarakat yang berlanjut pada keruntuhan kapitalisme

MAO Tse Tung



Diambil dari  buku Memperhatikan Kehidupan Massa dan Cara Bekerja,
Pustaka Bahasa Asing, Peking, 1953.

MEMPERHATIKAN PENGHIDUPAN MASSA DAN CARA BEKERJA

Tulisan ini adalah sebagian dari kesimpulan yang dibuat oleh Kawan Mao Tse Tung dalam Kongres Buruh dan Tani Seluruh Tiongkok Ke 2 yang diselenggarakan pada bulan Januari 1934 di Juikin, Propinsi Kiangsi.
ADA dua masalah yang kurang diperhatikan oleh Kawan-Kawan dalam diskusi. Tentang ini, saya menganggap perlu untuk dibicarakan disini. 
Masalah yang pertama ialah masalah penghidupan massa. 
Tugas inti kita pada dewasa ini ialah memobilisasi massa luas agar mereka turut serta dalam perang revolusioner untuk merobohkan imperialis dan Kuomintang (KMT),  memperluas revolusi keseluruh negeri dan mengusir imperialis keluar dari Tiongkok. Barang siapa memandang rendah terhadap tugas inti ini, ia bukanlah seorang pekerja revolusioner yang baik. Jika kawan-Kawan kita dapat meninjau tugas inti itu dengan jelas, dan mengerti bahwa bagaimanapun juga revolusi harus diperluas sampai keseluruh negeri, maka sedikitpun kita tidak harus mengabaikan dan memandang rendah terhadap Masalah kepentingan massa luas yang langsung mengenai dirinja dan Masalah penghidupan massa. Karena perang revolusioner adalah perang massa, maka hanja dengan jalan memobilisasi massa dan hanya dengan menyandarkan diri kepada massa, barulah perang itu dapat dijalankan. 
Apabila kita hanya memobilisasi rakyat untuk menjalankan perang, tetapi sedikitpun tidak menjalankan pekerjaan lain, dapatkah kita mencapai tujuan untuk mengalahkan musuh ? Tentu saja tidak. Jika kita ingin mencapai kemenangan, kita harus bekerja lebih banyak lagi. Misalnya: memimpin tani dalam perjuangan agraria dan membagikan tanah kepada mereka; mempertinggi semangat tani dalam kerja, agar dapat memperlipatgandakan produksi pertanian; menjamin kepentingan buruh; mendirikan koperasi; memperkembangkan perniagaan dengan luar daerah; memecahkan soal-soal pakaian, makanan, perumahan, keperluan sehari-hari seperti kayu api, beras, minyak dan garam, serta soal kesehatan dan perkawinan dari massa. Dengan singkat, kita harus memperhatikan semua masalah penghidupan massa sehari2. Apabila kita memperhatikan masalah-masalah tersebut dan memecahkannja serta memenuhi keperluan2 massa, maka kita akan sungguh-sungguh menjadi organisator penghidupan massa, dan massa akan sungguh-sungguh berpusat disekitar kita dan dengan hangat menyokong kita. Kawan-Kawan, pada waktu demikian itu, dapatkah kita memobilisasi massa untuk turut berdjuang dalam perang revolusioner ? Dapat, pasti dapat. 
Diantara pekerja-pekerja kita tampak adanya kejadian2 seperti demikian: mereka hanja membicarakan tentang pengluasan Tentera Merah dan barisan pengangkut, pemungutan pajak tanah dan penjualan-penjualan obligasi; tetapi mengenai pekerjaan yang lain, mereka tidak membicarakannya dan juga tidak mengambil pusing, bahkan mereka tidak mempedulikan semuanya itu. Misalnya, pada suatu masa, Pemerintah Kota Tingchow hanja memperluas Tentera Merah dan memobilisasi barisan pengangkut, tetapi sedikitpun tidak mempedulikan masalah penghidupan massa. masalah-masalah dari massa dikota Tingchow pada dewasa itu ialah kehabisan kayu api, garam ditimbun oleh kapitalis hingga massa tidak dapat membelinya, sebagian massa tidak mempunyai tempat tinggal, kekurangan beras dan harga beras mahal. Inilah masalah-masalah se-hari2 dari massa rakyat kota Tingchow, dan mereka sangat mengharap bantuan kita untuk memecahkannya. Tetapi Pemerintah Kota Tingchow sedikitpun tidak mendiskusikan hal2 ini. Oleh karena itu, maka sesudah diadakan pemilihan baru dalam Kongres Buruh dan Tani Kota Tingchow, lebih dari pada 100 wakil enggan mengunjungi rapat dan selanjutnya rapat itupun tidak dapat diselenggarakan lagi; karena dalam rapat yang sudah-sudah hanya dibicarakan tentang pengluasan Tentera Merah dan memobilisasi barisan pengangkut, tetapi penghidupan massa sama sekali tidak dipedulikan. Oleh karena itu hasil pengluasan Tentera Merah dan hasil mobilisasi barisan pengangkutpun sangat kecil. Ini adalah satu macam keadaan.
Kawan-Kawan, barangkali Kawan-Kawan sudah membaca brosur tentang dua buah desa teladan yang diberikan kepada kamu sekalian. Keadaan didua desa itu adalah sebaliknja. Pengluasan Tentera Merah didesa Changkang [1] di Propinsi Kiangsi dan didesa Tsaiki [2] di Propinsi Fukien hebat sekali! Didesa Changkang, 80 dari tiap 100 pemuda dan pemudi serta orang-orang setengah tua masuk menjadi Tentera Merah; didesa Tsaiki, 88 dari tiap 100 orang telah masuk Tentera Merah. Penjualan obligasipun banyak laku: sedjumlah 4.500 yuan obligasi dapat terdjual didesa Changkang yang hanja mempunjai 1.500 penduduk. Lain2 pekerjaan juga mendapat hasil yang sangat besar. Apakah sebabnja ini ? Dengan beberapa contoh saja, hal ini akan dapat dimengerti. Satu setengah kamar dari rumah seorang tani yang miskin didesa Changkang telah terbakar; dengan segera pemerintah desa menggerakkan massa untuk mengumpulkan uang dan memberi bantuan kepadanya. Tiga orang kehabisan makanan; pemerintah desa dan Perkumpulan Saling Membantu mengumpulkan beras untuk memberi pertolongan kepada mereka. Pada tahun yang lampau, desa Changkang terancam bahaya kelaparan, pemerintah desa memberikan pertolongan kepada massa dengan membagi2kannja beras yang didatangkan dari kabupaten Kunglueh [3] yang jaraknja lebih dari 200 li [4]  Di desa Tsaiki pekerjaan demikian inipun dikerjakan dengan sangat baik. Pemerintah desa demikian ini adalah sungguh-sungguh pemerintah desa teladan. Cara memimpin dari pemerintah2 itu adalah sangat berlainan dengan cara2 birokrasi dari Pemerintah Kota Tingchow. Kita harus beladjar dari desa2 Changkang dan Tsaiki, dan menentang pemimpin2 birokratis seperti pemimpin dikota Tingchow itu!
Saya mengajukan kepada Kongres dengan sungguh-sungguh, bahwa kita harus memperhatikan masalah-masalah penghidupan massa dengan mendalam, dari masalah tanah dan kerja sampai pada masalah keperluan se-hari2, seperti kayu api, beras, minjak dan garam. Kaum wanita ingin belajar membajak dan menajak; siapakah yang diminta untuk mengajarnja ? Kanak-kanak ingin bersekolah; apakah sekolah rakyat sudah didirikan? Jembatan kayu didepan itu terlampau sempit dan orang-orang yang berjalan mungkin jatuh; apakah itu tidak perlu dibetulkan ? Banyak orang dihinggapi penyakit kulit dan jatuh sakit; tindakan apakah yang harus kita pikirkan? Semua masalah penghidupan massa ini harus dimasukkan dalam acara kita, dan kita harus mengadakan diskusi, mengambil keputusan, mendjulankannja dan memeriksanja. Kita harus bertindak agar massa mengerti, bahwa kita mewakili kepentingan mereka, dan kepentingan kita adalah erat berhubungan dengan kepentingan mereka. Dengan demikian, supaya berdasarkan atas hal-hal ini, mereka mengerti tugas yang lebih tinggi yang kita ajukan ialah tugas perang revolusioner, agar mereka menyokong revolusi, memperluas revolusi keseluruh negeri, menerima seruan politik kita dan berjuang sampai akhir untuk kemenangan revolusi. Massa di desa Changkang berkata: "Partai Komunis itu adalah sangat baik; ia dapat memikirkan segala masalah kami!" Ini adalah pekerja teladan desa Changkang, pekerja-pekerja desa Changkang yang terhormat! Mereka dicintai sungguh-sungguh oleh massa luas; seruan mereka untuk memobilisasi perang telah mendapat sokongan dari massa luas. Inginkah kita mendapat sokongan dari massa? Apakah kita menghendaki massa mencurahkan sepenuh tenaganya dalam front perjuangan? Apabila kita menghendaki semua itu, maka kita harus ber-sama2 dengan massa, menggerakkan kegiatan massa, memperhatikan kepentingan massa, berusaha sungguh-sungguh untuk kepentingan massa, memecahkan masalah produksi dan penghidupan massa, soal-soal garam, beras, perumahan, pakaian dan masalah bersalin; pendek kata, kita harus memecahkan segala masalah dari massa. Jika kita berbuat demikian, massa luas itu pasti menyokong kita, dan memandang revolusi itu sebagai jiwanya dan sebagai panji yang termulia. Apabila KMT menyerang Daerah Merah, maka massa luas itu akan melawan KMT dengan mati-matian. Hal ini tidak perlu kita sangsikan lagi; bukankah "pengepungan dan pembasmian" musuh yang ke-l, ke-2, ke-3 dan ke-4 itu telah sungguh-sungguh kita hancur-leburkan?
Kini KMT menjalankan politik kubunya [5] dengan mendirikan "sisik kura2" secara besar-besaran. Mereka mengira, bahwa kubu2 ini adalah benteng baja. Kawan-Kawan, apakah itu betul2 benteng baja ? Bukan, sedikitpun tidak benar! Perhatikanlah, semenjak beberapa ribu tahun yang lampau, bukankah benteng-benteng dan kraton-kraton dari raja-raja feodal itu cukup kuat? Namun sekali rakyat berdiri, robohlah semua itu satu demi satu. Tsar Rusia adalah kaum berkuasa yang paling bengis didunia, tetapi ketika revolusi proletariat dan tani pecah, masih adakah Tsar itu? Tidak ada. Dan benteng bajanja? Roboh. Kawan-Kawan, apakah benteng baja yang sesungguhnja itu ? Massa, berjuta-juta massa yang menyokong revolusi dengan sepenuh hati. Ini barulah benar2 benteng baja yang tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan apapun, yang samasekali tidak dapat dihancurkannya. Kaum kontra-revolusioner tidak akan dapat menghancurkan kita, tetapi sebaliknya kita dapat menghancurkan mereka. Berjuta2 massa bersatu di sekitar pemerintah revolusioner, memperkembang perang revolusioner kita, maka dengan demikian kita dapat membasmi segala kaum kontra-revolusioner dan dapat merebut seluruh Tiongkok.
Masalah yang kedua ialah masalah mengenai cara bekerja. 
Kita adalah pemimpin dan organisator perang revolusioner, juga adalah pemimpin dan organisator penghidupan massa. Mengorganisasi perang revolusioner dan memperbaiki penghidupan massa adalah dua tugas kita yang besar. Tentang masalah cara bekerja disini dengan genting sekali terbentang dihadapan kita. Bukan saja kita harus mengemukakan tugas, tetapi kita juga harus memecahkan cara mewudjudkan tugas itu. Misalnya, tugas kita ialah menyeberangi sungai, tetapi dengan tidak adanja jembatan atau perahu kita tidak dapat menyeberanginya. Apabila soal jembatan atau perahu itu tidak dapat dipecahkan, maka membicarakan soal menyeberangi sungai itu adalah omong kosong belaka. Bila masalah mengenai cara2 itu tidak dapat dipecahkan, maka membicarakan tugas itupun merupakan obrolan belaka. Apabila kita tidak memperhatikan pimpinan dalam memperluas Tentera Merah dan tidak mempelajari cara2 pengluasannya, meskipun seribu kali kita berteriak-teriak tentang "pengluasan Tentera Merah", tetapi akhirnja kita tidak akan dapat mencapainja. Dalam segala pekerjaan lainnja, misalnya penyelidikan sawah, pembangunan ekonomi, kebudayaan dan pendidikan, dan pekerjaan-pekerjaan di Daerah Bebas baru dan Daerah Perbatasan, apabila kita hanya mengajukan tugasnya, tetapi tidak memperhatikan cara-cara pelaksanasn pekerjaan itu; jika kita tidak menentang cara bekerja yang bersifat birokrasi dan sebaliknya memakai cara bekerja yang praktis dan kongkrit; jika kita tidak membuang perintahisme dan sebaliknya memakai cara-cara bekerja yang bersifat menginsafkan secara sabar, maka segala tugas itu tidak akan dapat diwudjudkannya.
Kawan-Kawan di kabupaten Hsinkuo telah menciptakan pekerjaan yang terbaik, maka mereka patut kita puji sebagai pekerja teladan. Begitupun Kawan-Kawan dibagian timur laut Propinsi Kiangsi. Mereka juga mempunyai ciptaan yang sangat baik; mereka juga adalah pekerja teladan. Kawan-Kawan di Hsinkuo dan di bagian timur laut Kiangsi itu semua dapat menghubungkan penghidupan massa dengan perang revolusioner, dan mereka dapat ber-sama2 memecahkan masalah-masalah cara bekerja dan tugas revolusi. Mereka mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, mereka memecahkan masalah-masalahnya dengan sangat cermat; terhadap revolusi, dengan sungguh-sungguh mereka telah menjalankan kewajibannya, dan mereka adalah pemimpin dan organisator perang revolusioner yang baik, juga pemimpin dan organisator penghidupan massa yang baik. Selain dari pada itu, juga Kawan-Kawan disebagian tempat seperti di-kabupaten2 Shanghang, Changting, Yungting dll. di Propinsi Fukien; di Sikiang dan lain-lain tempat di Propinsi Kiangsi Selatan; disebagian tempat di-kabupaten-kabupaten Tsaling, Yungsin, Kian dan lain-lain di Daerah Perbatasan Propinsi Hunan dan Propinsi Kiangsi; disebagian tempat dikabupaten Yangsin di Oaerah Perbatasan Propinsi-propinsi Hunan, Hupeh dan Kiangsi; di distrik dan desa di banyak kabupaten di Propinsi,Kiangsi, dan ditambah pula dengan kabupaten Juikin yang langsung berada dibawah pimpinan Pemerintah Pusat telah mendapat banyak kemajuan didalam pekerjaannya. Mereka itu patut kita puji.
Diseluruh daerah yang kita pimpin, dengan tidak ragu-ragu lagi terdapat banyak kader yang aktif dan kawan pekerja yang cakap yang muncul dari kalangan massa. Kawan-Kawan itu mempunjai suatu kewajiban, ialah harus memberi bantuan kepada daerah-daerah yang kekuatan bekerjanya lemah dan memberi bantuan kepada Kawan-Kawan pekerja yang masih belum pandai, agar mereka dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Pada dewasa ini, kita sedang menghadapi perang revolusioner yang besar. Kita akan menerobos "pengepungan dan pembasmian" musuh yang secara besar2an itu, dan meluaskan revolusi ke seluruh negeri. Semua pekerja revolusioner mempunyai kewajiban yang sangat besar. Setelah Kongres ini, kita harus memperbaiki pekerjaan kita dengan cara-cara yang praktis, daerah-daerah yang sudah maju harus lebih dimajukan lagi, dan daerah-daerah yang terbelakang harus menyusul daerah-daerah yang maju. Kita harus membuat beribu-ribu desa seperti Changkang, berpuluh-puluh kabupaten seperti Hsinkno. Ini adalah basis kita yang kokoh. Setelah kita menduduki basis-basis tersebut, maka dari situlah kita dapat menyerang keluar dan menghancurleburkan "pengepungan dan pembasmian" musuh, dan merobohkan kekuasan imperialis dan KMT diseluruh negeri.
*   *   *
Keterangan:
[1] Desa Changkang terletak dikabupaten Hsinkuo, Propinsi Kiangsi.
[2] Desa Tsaiki terletak dikabupaten Shanghang, Propinsi Fukien.
[3] Pada dewasa itu kabupaten Kunglueh, dengan kecamatan Tungku (terletak dibagian tenggara kabupaten Kian) sebagai pusatnja, adalah salah satu kabupaten di Daerah Merah Propinsi Kiangsi. Pada bulan Oktober 1931, Kawan Huang Kungluch, Panglima Tentera Merah Ke-3, telah gugur sebagai pahlawan ditempat tersebut, maka untuk memperingatinja disana didirikan kabupaten Kunglueh.
[4] Satu li adalah setengah km. (Penterjemah)
[5] Pada bulan Djuli 1933, dalam Konperensi Militer di Gunung Lushan, Propinsi Kiangsi, Chiang Kai-shek telah mengambil keputusan untuk mendirikan kubu2 disekitar Daerah Merah. Keputusan ini dijadikan taktik militer baru untuk menjalankan "pengepungan dan pembasmian" yang ke-5. Menurut angka2 statistik, hingga akhir bulan Djanuari 1934, di Propinsi Kiangsi telah didirikan 2.900 buah kubu'. Kemudian dalam perang melawan Tentera Ke-8 dan Tentera Ke-4 Baru di Tiongkok, kaum agresi Jepang juga menggunakan politik kubu Chiang Kai-shek itu. Menurut strategi perang rakyat dari Kawan Mao Tse-tung, politik kubu yang kontra-revolusioner itu dapat dihancurkan dan dikalahkan seluruhnya. Ini telah dibuktikan dengan nyata sekali oleh kejadian-kejadian didalam sejarah.