Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Minggu, 10 Juli 2011

Cakrawala Nademkra


Awalnya adalah sejarah. Keprihatinan atas krisis mendasar dan menyeluruh yang dialami rakyat Indonesia mendorong kita semua untuk memaknai pergerakan tidak semata-mata dalam bingkai kepentingan sebuah sikap politik melainkan dalam pengertian yang lebih utuh sebagai praksis dari sikap sejarah. Kita tahu, saking lama dan kronisnya praktek penindasan, ia tidak lagi tampil dalam ujud sistem yang represif dan menghisap. Praktek penindasan itu bahkan telah menampilkan dirinya selayak monster gurita yang penuh kasih (!) yang menghantui bukan saja alam sadar tetapi juga dunia bawah sadar kita sebagai bangsa. Meminjam perspektif psikohistoris foucouldian, hubungan yang sudah terlampau “intens” antara sang penindas dengan mereka yang tertindas melangsungkan bukan saja rentang dominasi atau hegemoni. Lebih jauh, kita semua telah dan sedang mengenyam episode sosial yang dapat kita istilahkan sebagai homogenisasi, suatu keadaan mental dan material yang lahir dari peristiwa identifikasi kolektif dari mereka yang tertindas kepada mereka yang menindas. Pada episode ini, tidak ada perbedaan mendasar antara sikap dan angan politik golongan tertindas dengan kaum penindas.
Pembaruan pengertian perubahan dengan munculnya sekelompok garda depan harus berhadapan dengan ‘sial’-nya homogenisasi. Jelas tertayang dalam layar keseharian politik kita pasca 1998, garda depan atau para pelopor ini ternyata tak sanggup untuk mengelak dari dua ekstrimitas: antara menjadi bagian dari skema umum praktek penindasan-penghisapan atau terlempar sama sekali dari logika dan arus umum jagat politik Indonesia[1].  Lebih gawat lagi, tanpa maksud memandang nyinyir terhadap siapa melakukan apa terhadap Indonesia beberapa tahun terakhir, ada sedikit kekhawatiran bahwa mereka yang dengan suara lantang dan tindakan keras menentang penindasan sekalipun belum tentu bersih dari nilai-nilai, norma, atau paling tidak angan-angan, yang pernah ditanamkan kaum penindas sebagai bagian dari upaya sadar melanggengkan penindasan.
Tanpa pretensi mengejek suatu golongan, lewat kesempatan ini saya mengajak kaum pergerakan Indonesia sebagai pembaca (!dan dalam hal tertentu juga ‘pelaku’) ideologi-ideologi besar dunia untuk melanjutkan adagium V.I. Lenin yang menyatakan “tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner” dengan sebuah coretan kecil: “sampai kapanpun, maksud-maksud gerakan revolusioner tidak akan tercapai tanpa kesadaran revolusioner”.
Jauh lebih sulit dari manusia sadar manapun yang pernah mengalami Indonesia di masa lalu, kita sekarang menjadi generasi yang hidup di belantara ironi. Campur aduk kepahaman intelektual kita tentang realitas sosial dan kegelisahan yang tak kunjung padam menyangkut cita-cita minimal yang masih mungkin kita terapkan pada tata sosial ekonomi politik kita, mendorong kita untuk terus bertanya: adakah pengalaman kerja ideologis dan kesanggupan akademis yang bisa dijadikan alas memahami secara persis kunci-kunci sejarah yang memungkinkan kita lepas dari belenggu masa lalu dan masa kini keterasingan?
Sungguh. Untuk bebas dari dan apalagi membebaskan Indonesia dari sejarah keterasingan, kita butuh kesadaran, bukan sekedar teori. Darimanakah kesadaran? Buku bertumpuk-tumpuk dan diskusi berbusa-busa itu mungkin belum memuaskan atau memenuhi hajat kita. Sederet statemen politik dan bahkan agenda aksi barangkali juga belum dapat mengurai buhul-buhul ketersesatan dalam praksis wacana dan wacana praksis kita. Apa yang salah? Di mana yang benar?
Tulisan pendek ini tidak berpretensi menyelesaikan problem-problem dasar yang saat ini meliputi kaum pergerakan. Maksud tulisan ini sederhana: menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Bisa jadi apa yang kita gagas dan cita-citakan tidak punya cela walau tetap saja tidak mungkin bisa sempurna. Akan tetapi kronoaksi yang kita lakukan untuk mewujudkan gagasan dan cita-citakan itu, mungkin masih banyak mengundang cela. Karena itu, bukan keinginan mengkoreksi gagasan atau cita-cita yang mendorong lahirnya tulisan ini. Tulisan ini “disusun” sebatas dalam rangka mengenali secara lebih teliti politik wacana, pengorganisiran gagasan, yang selama ini dilakukan kalangan pergerakan di Indonesia terhadap dirinya dan terutama berkaitan dengan keadaan di luar dirinya. Harapannya, dengan pengenalan dimaksud, kita semua dapat menghindari terjadinya jungkir balik teori dan lintang pukang aksi, misalnya, dengan memahami yang sebenarnya teklap menjadi ideologi atau strategi dan demikian sebaliknya. Atau menghindari salah perlakuan: hal politik diperlakukan (diatasi) dengan pendekatan etis sementara hal etis diselesaikan secara politis.
Maka, kita perlu kejujuran. Selubung pergaulan, baik karena arogansi maupun karena perasaan tidak kenal dengan asal usul gagasan sesama kawan, harus kira terima apa adanya untuk kemudian kita bersihkan bersama. Yang jelas, kalau pergerakan memiliki cita-cita, maka bukan saja apa cita-cita pergerakan yang penting untuk bisa diterima. Tidak kalah penting dari itu semua adalah cara pergerakan menempuh cita-cita. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menyalahkan seseorang atau suatu golongan untuk bercita-cita. Tapi orang atau segolongan orang bisa saja dipersalahkan sampai tujuh turunan karena salah memilih cara menggapai cita-cita. Lebih buruk lagi, kita harus sadar dan menghindari kemungkinan bahwa cara kita menempuh cita-cita justru menjauhkan kita dari cita-cita semula.
Setelah cara, baru kemudian kita bicara alat, perkakas, yang akan memudahkan kita mewujudkan cita-cita. Sampai di sini, kita menemukan sekurang-kurangnya empat faktor yang penting bagi masa kini dan masa depan pergerakan. Pertama, orang-orang atau manusia yang bukan saja mensepakati tetapi juga meyakini jalan politik pergerakan. Kedua, gagasan atau cita-cita sebagai software sekaligus senjata kaum pergerakan menghadapi musuh-musuh di dalam diri dan di luar dirinya. Gagasan dan cita-cita ini sekali-kali harus dibedakan dengan utopia. Walaupun untuk banyak keperluan ia harus bisa dirumuskan secara teoritis, ia juga bukan semata-mata teori. Gabungan dialektis antara refleksi sejarah dan kesadaran ekonomi politik merupakan isi (content) dari cita-cita pergerakan. Ketiga, cara atau metode yang diturunkan dari rumusan gagasan pergerakan. Faktanya, cara tidak boleh mengorbankan tujuan. Taktik tidak boleh memakan strategi. Di sini, kemampuan untuk mengklarifikasi mana cara dan apa itu tujuan sangat penting bagi kaum pergerakan. Keempat, alat atau perkakas pergerakan. Dalam arti dasar, perkakas ini bisa dicukupkan dengan organisasi. Akan tetapi pada pengertian pergerakan sebagai suatu operasi sosial, apapun –baik berupa kondisi ataupun fakta-fakta sosial kemasyarakatan­­­­­ bias-- dijadikan alat. Organisasi hanyalah bentuk perpanjangan tangan yang memudahkan kita menjangkau ruang dan kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan kita menggerakkan mesin besar bernama sejarah.
Memahami keempat faktor di atas secara utuh akan memungkinkan kita melihat pergerakan secara wajar. Artinya ia bisa berurusan dengan perkara-perkara “besar” berkaitan dengan katakanlah perubahan sejarah masyarakat sekaligus berhubungan dengan perkara-perkara “kecil” berkaitan dengan cara pandang (subyektif) kita atas diri sendiri, masyarakat, negara, perubahan dan lain sebagainya. Besar dan kecil di sini dijajar bukan dalam skala prioritas tentang mana yang lebih dan mana yang kurang penting. Keduanya bisa sama-sama penting dan mungkin juga sama-sama tidak penting. Karena itu, di samping memiliki keharusan untuk mempertautkan diri dengan ide-ide besar perubahan dan pergerakan, kalangan pergerakan diharuskan selalu mengkorespondensikan dirinya dengan kenyataan pokok di mana dan sebagai apa dia hidup. Di sini, menghubungkan secara rasional (artinya menyadari) kesenjangan yang selama ini tercipta antara ancangan politik dengan keberadaan diri menjadi sesuatu yang penting.
Jelas, kita harus menghindari kejadian yang dialami banyak golongan bahwa mereka terasing dari keberadaan diri dan juga masyarakatnya hanya karena kekeliruan memperlakukan gagasan atau pengertian yang ia atau mereka sadari. Sekaranglah waktunya pergerakan menyusun bukti-bukti bahwa kalau ia (pergerakan) berpolitik, ia tidak berpolitik di dunia lain, misalnya, di dunia buku-buku atau catatan teori. Selaput tipis yang menjaraki kita dengan realitas (kita sering menipu diri dengan menyebut selaput tipis ini sebagai jarak antara idealisme dengan kenyataan, antara das sein dan das solen) harus segera kita tabrak atau lampaui dengan sejenis keberanian bahwa sesungguhnya kita tidak berbeda dengan mereka (orang-orang) yang sehari-hari kita fahami sebagai masyarakat.
Ya. kita ini masyarakat. Politik kita ya politik masyarakat. Ideologi kita ya ideologi masyarakat. Begitu juga angan dan cita-cita kita. Mampukah kita memulai orbit pergerakan dari pengertian ini? Berbeda dengan orbit pergerakan yang selama ini, secara sadar maupun tidak, terposisikan sebagai pejuang masyarakat yang diidealisasikan berjarak dengan masyarakat sebagai keutuhan, sepertinya kita sudah layak mengharuskan diri kita menghapuskan benak atau psikomotorik politik sebagai pejuang. Bahwa cita-cita pergerakan masih harus diperjuangkan itu benar adanya, akan tetapi tentu bukan kesalahan besar kalau bersama dengan perjuangan yang kita lakukan, kita juga membangun keterpautan dengan sebentuk kerendah-hatian untuk mengakui bahwa bukan cuma kita yang saat ini sedang dan terus berjuang.

II

Musuh mengepung kita. “Mereka” menghadang kemanapun langkah kaki melangkah. Sejak kapan “ia” menjadi “mereka”? Sejak kita tak tahu siapa “kita”,  siapa “saya” sehingga berusaha mengetahui siapa “kita”, siapa “saya”, dengan mencari-cari siapa “ia”, siapa “mereka”. Jelas musuh kita hanya satu: ketidakmengertian kita atas diri kita: sebagai individu dan kolektif politik. Maka, sekarang kita dikepung ketidakmengertian itu: mereka begitu banyak. Berhimpun di dalam fikiran kita dan “pengetahuan” kita. Bahkan mereka memasyukkan kita dalam mimpi-mimpi indah tentang cinta, revolusi, perubahan, kebangkitan, kemenangan, kejayaan, dan seluruh jaringan cita-cita sejarah yang mulia dan terkadang memabukkan.
Sejak kita lahir di bumi Indonesia, musuh itu meyelusup dalam diri pribadi dan mengelabui kita dengan himbauan-himbauan suci memusuhi mereka di luar diri kita. Di sinilah dapat kita temukan geneologi lupa yang merupakan pangkal segala bencana. Bencana rasa, bencana jiwa. Saya lupa, Anda lupa, mereka lupa, kita semua lupa. Pangkal sejarah luka parah bangsa ini adalah lupa. Lupa pada diri sendiri, pada asal dan tujuan hidup merdeka. Tidak ada kawan tidak ada lawan, tiba-tiba kita merasa berkawan dan melawan. Mungkin kita berkawan dengan mereka atau dia yang sesungguhnya cuma anggap sebagai kawan dan lalu menggempur habis-habisan mereka atau dia yang kita sangka sebagai lawan. Darimanakah duga sangka itu kalau bukan dari lupa?
Pikiran, cita-cita, gagasan adalah cara kita mengenali dan mungkin memperkenalkan siapa diri kita. Tapi ia –pikiran, cita-cita, dan gagasan itu, bukan diri kita. Ideologi adalah alat kita mengkomunikasikan kepada masa depan kita dan khalayak di luar diri kita tentang apa yang harus, akan, pernah, dan sedang kita lakukan. Siapa diri kita tidak bisa hanya ditemukan dengan melihat dan memandang apa gagasan kita. Seutuhnya diri kita hanya mungkin kita temui dalam rangka kejujuran menelanjangi diri sendiri di hadapan nurani. Asal usul geografis dan historis (kita dari kota X dari angkatan y) sudah waktunya kita terobos dengan bilah kesadaran bahwa kita, manusia, tidak mungkin ditepatkan pada kontek ruang-waktu instrumental tanpa kita menyentuh ruang-waktu substansial.
Kita, berbeda dengan binatang, adalah makhluk yang menyejarah. Dibentuk dan membentuk sejarah. Momentum penciptaan (kesadaran) kita yang nirkala dan keberadaan kita yang jatuh dalam jerat kala meniscayakan bangunan diri yang siap melampaui segala bentuk verbalisme komunikasi nilai-nilai dan praksis kehidupan baik itu bernama agama, ideologi, ilmu pengetahuan, teori sosial, faham politik, dan lain-lain. Salah satu kapasitas yang kita miliki sebagai manusia adalah melintasi batas-batas ide, sejarah, apalagi batas negara dalam arti teritori. Lampaui itu semua, mari kita bicara sebagai manusia. Merdeka!!!
Di atas manusia ada manusia lain. Di bawah manusia lain, ada manusia. Ada manusia gagal, ada manusia berhasil. Yang dulu pernah gagal, dipersilahkan mencoba kembali sekarang. Mempertuhankan manusia kita tahu akibatnya. Membarangkan (reifikasi) juga kita tahu asal-usulnya. Mari kita temukan kemanusiaan kita pada titik tengah di antara kedua ekstrimitas yang lahir dari akar ekonomi politik yang sama itu. Di situlah letak nusantara dalam peta gagasan dunia, sayangku.

III

Ada problem psikologis yang harus segera kita atasi seiring berlalunya waktu dan keterlibatan kita dalam pergerakan. Problem tersebut berkembangbiak dari Kenangan Besar yang sering tanpa sadar kita pelihara berupa kenangan tentang (kita) yang pernah bersama ribuan atau bahkan jutaan massa di seluruh penjuru bumi nusantara memuntahkan tenaga besar yang mengguncang meja gambar politik Indonesia yang getarannya masih kita bisa rasakan sampai hari ini; kenangan bahwa (kita) selama bertahun-tahun --dimulai dengan merayap, berjalan tertatih-tatih, lari tunggang langgang, sampai berbaris tegap—pernah dan mungkin masih membangun kekuatan pikiran dan tindakan politik demi segera diluncurkannya program-program perubahan di Indonesia; kenangan bahwa (kita) pernah atau sering dan bahkan mungkin masih keluar masuk kampung-kampung, blusukan di gang-gang sempit perkotaan (juga dengan sempitnya kesempatan) mengorganisir apa yang menurut kita penting untuk diorganisir: pemuda, petani, pelajar, buruh, dan seterusnya dan seterusnya.
Bagaimana kalau kenangan itu kita lupakan? Lupakan bahwa kita pernah atau sedang beriringan dengan gerak kolektif massa-rakyat di Indonesia melawan praktek-praktek penindasan. Lupakan bahwa kita semua pernah dan sedang menghancurkan tirani. Lupakan bahwa kita pernah menjatuhkan fasisme-militeristik Orde Baru. Lupakan bahwa kita pernah melawan dan kemudian meruntuhkan (sebagian) sendi-sendi kekuasaan Soeharto. Kalau kita lupakan itu semua, apa yang tersisa di benak pikiran dan relung kesadaran kita?
Masihkan kita punya elan vital untuk tetap berbicara dan sadar-diri akan perubahan? Masihkah kita sanggup berdiri tegap dan menyatakan –paling tidak pada diri kita sendiri: “ya, saya manusia pergerakan”? Masihkah?
Jangan-jangan kita saat ini tengah tertidur di atas empuknya kenangan pergerakan dengan mimpi perubahan. Sungguh saya mohon maaf kalau asumsi ini terbaca seperti sebuah sinisme. Tapi dari sekarang mari kita jujur. Kalau benar saat ini kita tertidur (bisa jadi karena terbukanya kesempatan untuk tidur –ketika simbol despotisme Orde Baru turun tahta pada tahun 1998—setelah beratnya hari-hari perlawanan yang pernah kita lewati), mari kita bangun. Sudah hukum alam kalau –entah pada saat kita tertidur atau pada saat setengah terjaga—kita menyambut datangnya fajar yang kita rayakan dengan mendeklarasikan FPPI dan berseru-seru di bawah langit kegembiraan Indonesia satu rangkai kata NADEMKRA.
Sebagai alat komunikasi, FPPI adalah ‘kentongan’ yang menandai datangnya pagi. Sementara NADEMKRA adalah ingatan yang akan kita jadikan piranti mengisi hari-hari. Jadi, NADEMKRA bukanlah kenangan yang menyeruak begitu indahnya di saat kita lupa; ia adalah cita-cita yang tidak sedikitpun dimaksudkan untuk memuja masa lalu, betapapun indahnya, betapapun hebatnya. Beberapa simpul dalam NADEMKRA memang bersumber dari kolong-kolong penindasan yang paling dan pengalaman sejarah perlawanan masyarakat Indonesia, tapi ia sama sekali bukan masa lalu perjuangan melawan penindasan. Ia adalah kesadaran kita hari ini, sampai nanti. 

IV

Selamat membaca. Anda semua yang akan membuat tulisan ini berguna atau sama sekali tak bermakna. Terimakasih. Selalu jaga kesehatan.



[1] Kalau istilah penindasan-penghisapan di sini teranggap sebagai istilah yang arogan atau terlalu ngawu-awu, baiklah kita pakai ujaran anti-rakyat.

Kritik atas Mazhab Barat



 Ferry Hidayat

--------------------------------ËËË--------------------------------
 
 
 

‘Kuman’ Mazhab Barat

 
Jika Indonesia diibaratkan suatu rumah, maka rumah itu kini penuh sesak dengan berbagai mazhab pemikiran. Ada mazhab Islam, ada mazhab Barat, ada mazhab Timur, ada mazhab Indonesia. Dan di dalam mazhab itupun ada lagi fragmentasi: ada mazhab Islam-tradisional, ada Islam-modern, ada Islam neo-modern. Di dalam mazhab Timur, ada mazhab India, mazhab Jepang, mazhab Cina. Di dalam mazhab Barat, ada mazhab developmentalisme, mazhab sosialisme-demokrat, mazhab kapitalisme, mazhab komunisme, mazhab nasionalisme radikal. Di dalam mazhab Indonesia, ada mazhab Sumatra, mazhab Jawa, mazhab Sunda, mazhab Sulawesi, dan lain-lain. Mazhab Islam adalah mazhab yang amat agresif saat ini, tercermin dari tuntutannya untuk menegakkan Syari’at, mendirikan ‘Negara Islam’, dan menerima Islam sebagai satu-satunya mazhab yang benar yang mesti dipeluk semua orang di Indonesia. Untungnya, itu cuma tuntutan. Secara riil, mazhab Islam tidak berkuasa dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Adapun mazhab Barat, maka mazhab inilah yang memiliki kekuatan riil baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Mazhab Timur bermain-main dalam ruang pinggiran di sisi rumah, sedangkan di sisi satunya lagi di pojok rumah berada mazhab Indonesia.
 
                Mazhab Islam seperti seorang anak kecil yang merengek-rengek minta diberi makan dari Ibu Indonesia, sementara Ibu Indonesia menganggapnya ‘anak haram’, hasil pernikahan gelap Ibu Indonesia dengan Syekh Arab. Mazhab Barat seperti seorang anak kecil bongsor, gemuk, gempal, bahenol, dan jangkung, yang juga ‘anak haram’, hasil perkosaan Meneer Belanda atas Ibu Indonesia. Mazhab Timur, yang juga ‘anak haram’ hasil perselingkuhan dengan kaum Brahman India, seperti anak kecil yang terkena penyakit busung lapar, karena Ibu Indonesia jarang memberinya makanan. Sedangkan mazhab Indonesia ‘si anak kandung’, seperti anak kecil yang jarang dibelikan baju baru, uncivilized, terpinggirkan dan hanya boleh berteman dengan petani-petani miskin, kakek-kakek yang bau tanah, atau suku-suku primitif. Semua anak-anak kecil yang berbeda karakter dan kondisi ini sering bertengkar satu sama lain. Tapi yang dimenangkan Ibu Indonesia tentu saja selalu mazhab Barat. Karena selalu dimenangkan, mazhab Barat makin over-acting. Ia menyerobot makanan anak-anak lainnya. Ia merampas pakaian anak-anak lainnya. Ia menyerupai anak raksasa agresif, yang jika Ibu Indonesia tidak hati-hati, akan dibunuhnya pula di kemudian hari. Dan nampaknya, Ibu Indonesia memang tidak berdaya, hopeless, hanya membiarkan dirinya dikuasai mazhab Barat.
 
                Itulah perumpamaan sederhana kondisi Filsafat di Indonesia sekarang ini, dimana mazhab Barat mendominasi, sedangkan mazhab aslinya sendiri sudah terasing dan diasingkan oleh tanah-airnya sendiri. Mazhab aslinya hanya diangkat ke permukaan sebagai ‘suaka budaya’, yang dipertontonkan hanya pada saat kita mau menyombongkan diri di depan turis-turis asing bahwa Indonesia toh juga berfilsafat. Memang interaksi budaya takkan terhindari dalam pergaulan budaya global, tapi jika salah satu budaya memonopoli dan budaya itu ternyata pendatang yang asing pula, maka yang terjadi bukan interaksi tapi kolonisasi.
               
Secara kasat-mata, gejala-gejala kolonisasi budaya nampak pada remaja-remaja sekarang, misalnya dari etnik Jawa, yang jika ditanya ‘apa itu condro?’ atau ‘apa itu wirasat?’, mereka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka lebih tahu Vivid Interactive daripada Serat Centhini, lebih tahu MTV daripada lakon-lakon wayang kulit, lebih tahu berbikini daripada berkebaya, lebih tahu serial TV Friends daripada Babad Tanah Jawi, lebih tahu sejarah presiden AS daripada sejarah Erlangga, lebih tahu bahasa Inggris daripada bahasa Jawa, lebih tahu English Alphabets daripada Hanacaraka. Mereka tidak paham apa ‘Filsafat Injak Telur’ pada prosesi pernikahan Jawa, apalagi ‘Filsafat Manunggaling Kawulo-Gusti’.  Mereka terputus, tercerabut, terlepas dari masa lalunya sendiri, tak tahu asal keberadaannya sendiri.
 
                Otak-otak mereka lebih banyak berisi pengetahuan tentang bersenang-senang ala Barat, cara menjalani hidup ala Barat, cara bergaul ala Barat, cara memainkan musik Barat, cara berekonomi ala Barat, cara menjadi cantik ala Barat, atau cara memanfaatkan teknologi Barat daripada tentang cara menempuh hidup menurut budaya nenek-moyangnya sendiri, cara bergaul menurut tradisi aslinya sendiri, cara memanfaatkan alam menurut struktur filsafatnya sendiri. Segala saluran pengetahuan, seperti TV, film, iklan, radio, internet, perpustakaan, universitas, dan lain-lain sangat mendukung brain-wash yang amat disengaja ini. ‘Globalisasi’—nama lain dari ‘westernisasi’—yang sangat direka rapi ini. Filosof Indonesia dari mazhab Barat kini sedang tepuk tangan dan berpesta-pora, menikmati kemenangan program ‘peng-adab-an’, program ‘modernisasi’, program ‘pembangunan’ yang sudah mereka jalankan sejak awal abad 19 dengan dukungan penuh dari Gereja Reformasi dan Pemerintah kolonial Belanda. Mereka lebih bahagia lagi saat mereka tahu Susilo-Kalla juga pro-globalisasi. Mereka sudah tidak perduli lagi dengan Filsafat Indonesia, sebab memang mereka sudah tidak tahu ‘asal-mula’. Mereka cuma ‘anak haram’ yang tidak perlu meminta kejelasan asal-usul, karena itu memalukan. Kelahiran mereka disebabkan penjajahan bangsa asing atas bangsa Indonesia. Kelahiran mereka adalah kelahiran yang terkutuk, karenanya sengaja mereka lupakan.  
 
                Apakah mazhab Barat sungguh-sungguh telah berhasil dalam 2 abad ini membawa Indonesia ke dalam kondisi modern, yang secara kapitalistik makmur, yang secara filosofis rasional, yang bermoral penuh disiplin, yang secara akademik sekuler, yang secara administratif efisien dan tidak korup, yang secara politik egaliter dan demokratis, yang semuanya berkembang menurut standar blue-print dan skema perkembangan historis ala Barat, sebagaimana ia selalu janjikan? Tentu saja tidak seluruhnya berhasil. Krisis moneter yang terjadi sejak 1997, misalnya, adalah salah satu dari beratur-ratus buah pahit strategi pembangunan ala Barat. Proyek ambisius raksasa dari ‘modernisasi Soehartoistik’ jatuh berkeping-keping, walaupun keping-kepingnya yang tercecer sedang diperbarui bentuknya oleh Habibie, Wahid, Mega, dan Susilo. Mazhab Barat kini mulai memasuki jaman aus-nya.
               
Mengapa ‘modernisasi westernistik’ tidak berhasil, dan tidak akan sepenuhnya berhasil di Indonesia? Mengapa ‘hamburger Amerika’ tidak berhasil dicangkokkan pada ‘singkong Indonesia’? Untuk menjawab ini, saya meminjam kata-kata orang Barat sendiri, yang amat tahu rahasia peradabannya sendiri, yang amat paham struktur budayanya sendiri. Arnold Toynbee dalam karyanya The World and The West (1952) menyatakan bahwa apa yang disebut ‘Barat’ (The West) atau ‘Jalan Hidup Barat’ (The Western way of life) ialah…an indivisible whole in which all the parts hang together and are interdependent’ (hal.26). Teknologi Barat, persenjataan Barat, lembaga-lembaga sosial-politik Barat, filsafat Barat, sains Barat, seni Barat, moralitas Barat, dan agama Barat adalah indivisible whole. Semua itu lahir dari sejarah alamiah ‘Barat’ itu sendiri. Filsafat Komunisme, misalnya, lahir secara alamiah di Barat, karena Gereja Barat gagal merevitalisasi kembali prinsip-prinsip Kristiani dalam kehidupan sosial dan ekonomi dari masyarakat Kristiani Barat (hal. 13-14). Ide ‘nasionalisme’ dan ide nation-state lahir secara alamiah di Barat, karena kondisi Perang Dunia II memaksa komunitas Barat untuk mengalami perpecahan internal sehingga pecah ke dalam sekitar 40 negara-bangsa yang merdeka dan berdaulat (hal. 30). Menurut Toynbee, bukan cuma ‘Barat’ yang merupakan indivisible whole, tapi semua peradaban yang ada di dunia adalah juga indivisible whole. Jadi, budaya Indonesia juga suatu indivisible whole. Jika ‘Barat’ dicangkok oleh Indonesia, maka peradaban Indonesia akan pecah, tidak lagi suatu indivisible whole.        
 
Toynbee juga menyayangkan fakta mengapa orang Rusia, Islam, India, dan orang Timur-Jauh (Jepang) secara naif berupaya mencangkokkan produk budaya yang lahir dari sejarah alamiah Barat ke dalam struktur budaya mereka, padahal belum tentu produk Barat itu bisa dicangkokkan ke struktur budaya lain yang berjalan menurut sejarah alamiahnya sendiri. Yang lebih konyol lagi menurut Toynbee ialah jika pencangkokan mereka itu dilakukan secara setengah-setengah, adaptasionistik, tidak totaliter, ‘…to take just the minimum dose of Western culture that was calculated to keep…alive; and this grudging spirit caused one instalment of Westernizing reforms…after another to miscarry…(hal.25). Yang juga amat konyol ialah jika ternyata ‘modernisasi westernistik’ itu malah membawa mundur suatu peradaban yang dulunya telah maju. Orang Islam di masa Mustafa Kemal di Turki berhasil mengadopsi sistem pemerintahan parlementer-konstitusional dari Filsafat Pencerahan Barat, dan itu terbukti berguna untuk menggantikan sistem pemerintahan Islam yang absolutistik (hal. 29). Tapi, ketika orang Islam mengadopsi Nasionalisme Barat, itu menjadi malapetaka dan kemunduran filosofis, karena Filsafat Islam justru mengajarkan bahwa semua Muslim bersaudara, yang tak mengenal perbedaan ras, bahasa, dan habitat (hal. 30).
 
                Apa yang akan terjadi jika indivisible whole Indonesia pecah, karena kemasukan elemen Barat yang ditularkan terlepas dari miliu dan sejarah alamiahnya sendiri? Toynbee mengibaratkan elemen Barat yang terlepas dari sejarah alamiahnya dan ditularkan ke dalam struktur budaya asing sebagai particle (analogi dari fisika), bacillus (analogi dari ilmu medis), atau strand (analogi dari prisma). Kata Toynbee: ‘In escaping from its original setting, the liberated particle, bacillus, or culture-strand will not have changed its nature; but the same nature will produce a deadly effect, instead of a harmless one, now that the creature has broken loose from its original associations. In these circumstances, ‘one man’s meat’ can become ‘another man’s poison’ (hal.70). Maka, wajarlah jika kita dapati anak-anak kita sekarang memiliki identitas keindonesiaan yang samar-samar, blur. Kulitnya sawo-matang, tapi setiap hari ia menggunakan produk pemutih wajah Ponds dan Oil of Ulan. Cuaca di tempat tinggalnya panas, tapi setiap hari ia memakai jeans, sweater, jacket, dan tuxedo. Ketika cuaca di tempat tinggalnya berubah dingin karena selalu dituruni hujan, ia malah memakai bikini dan tank-top. Produk pertaniannya padi, tapi setiap hari ia memakan Big Mac. Di daerahnya banyak tanah yang subur untuk pertanian, tapi ia pergi ke sekolah belajar tentang teknologi NASA. Di bukunya ada Punakawan, tapi ia malah membaca Harry Potter. Di daerahnya ada pertunjukan wayang, tapi ia malah menonton pertunjukan Orchestra. Di daerahnya ada Dessy Ratnasari, tapi ia malah mengidolakan Sandra Bullock. Di leluhurnya ada Manunggaling Kawulo-Gusti, tapi ia malah belajar Enlightenment Philosophy. Di agamanya ada Mula jadi na bolon, tapi ia malah menganut ajaran romo-romo Katolik, Luther dan Calvin. Western man’s meat had been becoming another Indonesian man’s poison. Kuman sudah mulai merusak jiwa-raga Indonesia, tapi sebelum ia berhasil merusak semuanya, pasti muncul resistansi.                  
  
 

Wujud-Wujud Resistansi

           Resistansi terhadap Mazhab Barat sudah dimulai oleh Ki Hajar Dewantara, 7 dasawarsa yang lalu, ketika beliau berpolemik dengan kelompok budayawan Pujangga Baru seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan lain-lain, yang dikenal dalam sejarah sastra sebagai Polemik Kebudayaan 1935. Polemik ini dimulai oleh Sutan Takdir, yang mengritik sistem pendidikan ‘Taman Siswa’ yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai melestarikan ‘Filsafat Indonesia Kuno’ yang feudalistik dan tidak terbuka pada ‘Filsafat Barat Modern’ yang lebih dinamis. Ki Hajar menjawab kritikan tersebut dengan kritikan-balik bahwa sistem pendidikan Belanda di Indonesia justru merupakan sistem yang represif, karena menekan kecenderungan alamiah anak-anak pribumi untuk memuaskan rasa ingin tahu dan berkreasi. Sistem pendidikan Barat yang ada di Indonesia, menurut Ki Hajar, terlalu menekankan kedisiplinan yang justru melahirkan dua sikap yang sama jeleknya: sikap tunduk atau sikap membangkang terhadap tradisi lokal, tradisi yang selama ini ‘membesarkannya’ sejak kecil. Pendidikan Barat di Indonesia, tulis Ki Hajar, didasarkan pada ‘regering, tucht, orde’ (perintah, disiplin, keteraturan). Sedangkan ‘sistem pendidikan Indonesia-asli’ yang ia kembangkan justru menekankan kebebasan, dalam artian, memberikan pengajaran hanya sebatas bimbingan (sistem among) dan selanjutnya membiarkan si anak mengembangkannya sendiri.

  Ki Hajar tinggal lama di Belanda dan mengkonsumsi sejak lama ‘keju Belanda’ selama ia tinggal di sana. Di darahnya telah mengalir lemak-lemak dari keju itu dan telah menyatu dengan seluruh metabolisme tubuhnya hingga ia wafat. Tapi otak dan hatinya tetap otak dan hati Indonesia, buatan asli sel telur dan sperma sejoli Indonesia. Sedangkan Sutan Takdir hanya beberapa kali ke negeri Eropa dan tidak sempat tinggal seperti lamanya Ki Hajar di Belanda, tapi otak dan hatinya sudah diracuni ‘beer’ dan ‘whisky’ Barat, sehingga kesadarannya yang tertinggal hanyalah kesadaran Barat, sementara kesadaran Indonesianya telah lama terjangkit amnesia.
  ‘Ingat the axis of history! Ingat die Achsenzeit! Ingat zaman poros sejarah!’ teriak Sutan Takdir dengan lantangnya. Di zaman itu, kata Takdir, lahirlah 4 peradaban besar yang hampir bersamaan. Di zaman itu, yakni di abad 5 S.M., lahirlah di Cina Konfusius, Moti, dan Laotze, lahirlah di India para pengarang Upanishad, Mahavira, dan Buddha, lahirlah di Timur-Tengah nabi-nabi Yahudi yang membangun pertamakalinya monoteisme Semitik, lahirlah di daerah Mediterrania filosof Yunani seperti Heraklitos, Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Bagaimana dengan Indonesia? Pada era itu, jelas Takdir, orang Indonesia sedang asyiknya mengarungi lautan, mencari pulau-pulau baru yang bisa dihuni. Mereka tidak ‘sempat’ berfilsafat. Mereka baru mulai berfilsafat ketika 4 peradaban besar telah matang. Mereka tinggal ‘menuai’ apa yang filosof-filosof dunia pikirkan, lalu membuat sintesa menakjubkan, yang tentunya berlainan dengan ide asli sebelumnya. Maka, berdirilah bangunan Borobudur—sebuah karya arsitektural sintetis dari beberapa peradaban besar dunia, yang bukan merupakan bangunan Buddhistik, juga bukan Hinduistik.
  Apakah dengan sintesa, peradaban Indonesia menjadi besar, sebesar 4 peradaban dunia itu? Takdir malu-malu menjawab, lalu bisiknya ‘Tidak. Jika peradaban Indonesia besar, mengapa ia kalah menghadapi perang melawan pasukan Belanda—suatu negeri Eropa yang paling miskin dan paling goblok?Jika peradaban Indonesia sungguh-sungguh hebat, sebagaimana dibela Ki Hajar, mengapa ia kalah dalam perang melawan kolonial kere semacam Belanda? Itu membuktikan sendiri, bahwa peradaban kita belum maju. Lalu, bagaimana biar Indonesia maju? Takdir menjawab dengan segera, ‘Ikuti saja ‘budaya progresif’ negara-negara Barat itu!Modernisasi adalah kata-kuncinya! Going West adalah solusinya!
  Ki Hajar segera terhenyak dan sadar, bahwa dunia di sekitarnya telah berubah. Kraton telah digenggam Belanda, lembaga sosial-politik tradisional telah disulap menjadi lembaga kolonial modern, agama-agama asli Indonesia telah dikutuk habis-habisan oleh Gereja Reformasi, lembaga pendidikan pesantren dan lembaga pendidikan tradisional yang mirip sistem gurukula di India juga telah ditinggalkan dan digantikan oleh sekolah-sekolah Belanda modern, bahasa-bahasa asli Indonesia tidak lagi diajar dan digantikan bahasa Belanda, dan kelompok elit Kraton telah digantikan perannya oleh kelompok elit baru hasil didikan sekolah-sekolah Belanda itu. Sutan Takdir adalah salah satu murid sekolah itu. Mengabaikan realitas adalah tindakan sia-sia, jika bukan tindakan gila, pikir Ki Hajar. Maka, ia stop berpolemik dalam polemik yang tidak mungkin dimenangkannya. Yang masih diteruskan adalah ‘perlawanan dalam diam’, melestarikan tradisi Indonesia asli di ‘Perguruan Taman Siswa’, walaupun dengan itupun ia harus menghadapi tuduhan Belanda mendirikan ‘sekolah liar’.
  Posisi ofensif Ki Hajar pun tidak menguntungkan. Dia salah seorang anak Kraton. Kritik apapun yang ia pukulkan kepada Filsafat Barat gampang sekali dicurigai sebagai pembelaan terhadap etnis Jawanya yang kental. Ia gampang dicurigai melakukan semua kritik itu untuk merestorasi ‘Kosmos Jawa’ yang mulai menjadi chaos sejak Belanda menguasai Jawa. Sebelum dia pun sudah banyak orang Jawa yang hendak merestorasi kewibawaan Kraton, salah satunya yang paling terkenal ialah Diponegoro. ‘Perang Jawa’ yang dipimpinnya sungguh nampak sebagai perang antara orang Jawa dengan Belanda, bukan antara orang Indonesia dengan Belanda. Istilah ‘Perang Jawa’ sendiri mengkonfirmasinya.          

Serahkan Bangsa ini , di tangan Pemuda !!!



oleh: Pimpinan Nasional FPPI

“Untuk apa melahirkan sekian ratus Sarjana, jikalau nantinya toh akan menindas rakyat miskin dan tak berdaya” demikianlah ungkapan yang sempat dilontarkan seorang rohaniawan Romo Mangun Wijaya Pr, yang secara tegas menyatakan bahwa hari ini  ternyata dunia pendidikan belum mampu menyelesaikan problem-problem sosial yang sedang  berkemelut ditengah-tengah realita masyarakatnya. Jika kita hendak mengamati secara Implisit sejarah lahirnya institusi pendidikan di Indonesia yang diawali pada tahun 1900, berbarengan dengan jalannya Ethiek Politiek (baca: Politik Etis) atau yang lebih familiar dan kita kenal sewaktu mempelajari sejarah di SD, SMP,& SMU sebagai Politik Balas Budi [1], yang secara fundamental membuat 3 kebijakan dalam hal: Edukasi, Irigasi dan Emigrasi.
Ketiga hal tersebut oleh pemerintahan kolonial dijadikan sebagai ruang legitimasi untuk tetap mempertahankan ekspansi ekonominya secara membabi-buta. Selaku mahasiswa yang sering disebut dengan agent of change, sudah selayaknya kita mengerti dan dapat menguraikan tentang peran kebijakan dibidang Edukasi tanpa harus meninggalkan dua kebijakan di belakangnya yang sangat mempunyai keterkaitan.
Hal pertama yang ingin coba saya paparkan adalah bahwa kebijakan di ruang Edukasi ternyata sangat mempunyai otoritas yang cukup dominan dalam membangun konstruksi berpikir masyarakat Indonesia ke depan, di Era kolonial kita mengenal adanya cultuurstellsel yang di dalamnya terdapat suatu bentuk Eksploitasi yang dijalankan bersama antara Pemerintahan Kolonial selaku pemilik modal dan Tuan Tanah selaku komprador (baca:pengkhianat) / pemegang otoritas lahan produksi dalam suatu daerah. Sasaran utama atas monopoli ekonomi adalah rempah-rempah dan kekuasaan daerah jajahan, maka dalam hal ini untuk meningkatkan efisiensi eksploitasi pada daerah jajahan didatangkan berbagai macam mesin di antaranya adalah Kereta Api, yang seiring pula dengan meletusnya Revolusi Industri di Inggris. Ternyata kerakusan kaum kolonial tidak hanya sampai pada monopoli perdagangan dan kekuasaan jajahan, namun penghancuran sendi-sendi berpikir masyarakat dengan memberikan ruang pendidikan pada para anak Bangsawan dan Priyayi, agar tradisi Feodalisme yang selama ini menguntungkan pihak Kolonial tidak akan lenyap.
Sarana yang diberikan pada anak-anak Priyayi, dalam hal pendidikan ternyata tidak lebih hanya menghasilkan tenaga operasional / administratif dalam menjalankan mesin-mesin yang digunakan pemerintah kolonial untuk meningkatkan efisiensi monopoli ekonominya, namun Infrastruktur yang mengatur tetap Pemerintah VOC. Maka seiring dengan penindasan yang terjadi di tubuh kaum terdidik pri-bumi/anak bangsa, beberapa dari mereka menyatakan untuk melakukan perlawanan dilandasi semangat Nasionalisme yang begitu kuat seperti : Tirto Adi Suryo, Mas Marcokartodikromo, Kartini, Ki Hajar Dewantara, Soekarno dan Tan Malaka. Mereka sadar karena telah menjadi korban praktek pendidikan kolonial untuk semakin mempersempit ruang kesadaran masyarakat terhadap makna kemerdekaan 100%.
***
Konteks intelektual, yang mana dia sadar pada proses penindasan dan melakukan pembebasan melalui basis kemampuan Intelektualnya dengan ruh atas jiwa Nasionalisme yaitu, berdaulat secara utuh terhadap ruang Ekonomi dan Politik demi kemerdekaan yang telah tercerabut oleh kekuatan dominatif Imperalisme, yang oleh seorang Neo-Marxis asal Italia “Antonio Gramsci” dinamakan Intelektual Organik [2]. Bentuk perlawanan yang diberikan kaum terdidik Pri-Bumi ter-akumulasi dalam pola Pergerakan, yang dalam kamus besar bahasa Indonesia ialah “Perubahan” yaitu dengan membuat Novel, Puisi, Pemboikotan Pabrik dan mendirikan Sekolah Rakyat.
Paradigma pendidikan yang di Era kolonial memakai orang-orang Pribumi sebagai tenaga operasional dan administratif VOC, ternyata hari ini mengalami semacam proses Reinkarnasi, yaitu Institusi pendidikan ditingkat pusat maupun daerah melalui Otonomi Daerahnya semakin menampakkan taring komersialisasi yang secara hakekatnya ialah Etos kapitalisme melalui sistem Edukasi. Tercerabutnya mental dan semangat dalam membangun bangsa ini ternyata banyak mendapat warna dari kekuasaan pemimpinnya, jika kita tengok pasca hengkangnya kolonialisme di Indonesia, yang menyisakan banyak semangat perlawanan untuk memerdekakan Nusantara. Ternyata angin Demokrasi yang didambakan setiap kepala manusia Indonesia tidak terwujud, situasi obyektif yaitu di Era soekarno memakai paradigma politik sebagai panglima untuk membangun bangsa ini, namun ternyata kandas oleh kekuasaan tunggalnya selaku panglima besar Revolusi Indonesia dengan sistem Demokrasi Terpimpin-nya. Masa transisi demokrasi yang dibarengi dengan meletusnya peristiwa Gerakan 30 September yang sampai hari ini masih menjadi sejarah kejahatan HAM di tanah Nusantara dan proses cuci otak masyarakat Indonesia akan isu Komunisme yang sarat dengan tindakan anarki serta tidak ber-Tuhan. Tirani / kekuasaan yang dipimpin oleh Soeharto pasca penurunan Soekarno melalui SUPER SEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret) di tahun 1966, menggunakan kiblat Ekonomi sebagai Panglima dengan nuansa Developmentalisme atau Pembangunan-isme [3].
Gelombang perubahan akan nasib bangsa ini ternyata masih terseok-seok, ketika presiden Soekarno sangat menentang habis Imperalisme dalam wujud bantuan Internasional, namun saat kepemimpinan di pegang oleh Soeharto liberalisasi ekonomi tahap ke-2 memulai bentuknya, yang dengan kasat mata dinamakan sebagai Orde gagah-gagahan melalui sekian proyek mercusuar-nya yang tidak signifikan. Melalui putaran Tokyo tahun 1966 (Tokyo Around) , yang darinya Indonesia mendapat kebaikan negara-negara maju untuk menjadwal ulang hutang-hutang yang diwariskan Orde Lama, adalah penjualan Tanah Air Indonesia sebagai jaminan utang Orde Baru. Keterlibatan Indonesia dengan Internasional dalam rantai pertukaran timpang (unequal exchange) dimulai dari sini, dikenal sebagai Peraturan Oktober, yang dilandasi oleh kerakusan sekaligus kebodohan para penguasa, lagi-lagi  punggung rakyat Indonesia kembali ditimpa kemiskinan akibat Kapitalisme Internasional. Dengan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, oleh ibu Tien Soeharto. Mahasiswa menolak keras sebab, masyarakat tidak perlu pembangunan berlebihan namun lebih mementingkan makan hari ini. Ditandai lahirnya Tri-Tura (Tiga Tuntutan Rakyat) sebagai ekspresi kekecewaan masyarakat yang diwakili oleh massa mahasiswa, dikenal sebagai peristiwa MALARI (Malapetaka 15 Januari) dengan penggebukan beberapa aktivis dan pendudukan kampus oleh Tentara.
Pasca demontrasi yang dilancarkan, praktis semua kegiatan kampus yang berbau politis dan mengganggu stabilitas Nasional, diberangus melalui Paket NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus). Yang mana produk hukum ini membelenggu berbagai ekspresi yang keluar dari mahasiswa ditambah pula kondisi sosial masyarakat yang menggambang atas ruang Ideologi dan Politik (Floating Mass) , sampai akhirnya banyak yang melakukan pola perlawanan dari dalam kampus dengan membentuk Pers-Ma, Kelompok-Kelompok Diskusi, LSM dsb, atas dasar kekecewaan pada situasi Nasional.
Yang sampai 1998 mendapatkan angin segar dan kembali turun kejalan, untuk menumbangkan tirani Kang mas Soeharto selaku Tonggak Stabilitas Nasional , yang sangat mempunyai watak dan karakter Otoritarianisme Birokratik. Namun yang sangat ingin saya jadikan pegangan dalam menilai Character National Building atau Bangunan Nasionalisme yang dimiliki oleh generasi terdahulu, dengan semangat sebagai tenaga terdidik pribumi yang sadar pada proses penindasan dan penghisapan oleh Kolonialisme.
Secara substansi, dapat dikatakan bukan pada semangat Patriotisme dan Romantisme sejarah, namun lebih merupakan paralelisasi atas realita yang terjadi disatukan dengan bekal basic keaneka-ragaman pengetahuan, diselimuti jiwa yang populis / merakyat dimana orientasi adalah menggali jiwa ke-Indonesiaan guna mendapatkan kedaulatan yang penuh atas yang namanya Tanah, Air dan Udara yang itu merupakan alat pertahanan kita dalam menjaga keutuhan bumi Nusantara dari cengkeraman NEKOLIM (Neo-Kolonialisme-Imperalisme).
Bentuk-bentuk NEKOLIM yang hadir dalam perwajahan pendidikkan kita hari ini yang berupa anjuran IMF terhadap pemerintah Indonesia untuk menghapuskan subsidi pendidikan [4], yang kemudian dilegitimasi dengan kemunculan UU Sisdiknas [5],  mampu membuat beberapa siswa sekolah dasar untuk bunuh diri, segerombolan siswa-siswi SMU 6 turun ke jalan dan masih banyak yang menikmati pendidikan dengan hanya bermimpi di siang bolong sebab harga pendidikan yang kian melambung tinggi setinggi langit. Kiranya semangat pendidikan kita kali ini masih sama dengan program Edukasi di Politik Etis bahwa yang dapat menikmati pendidikan hanyalah kaum priyayi. Maka bisa dikatakan bahwa mahasiswa hari ini mewakili semangat dari priyayi itu sendiri karena tidak semua bisa mengenyam pendidikan. Seperti kata seorang kawanku dari pelosok desa “buat apa menghabiskan sekian juta rupiah hanya untuk ilmu yang sebetulnya bisa kita dapatkan dengan gratis di perpustakaan-perpustakaan daerah”.   
Kemudian dimanakah letak ke”maha”annya seorang mahasiswa itu? Apakah terletak di dalam megahnya almamater yang kita gunakan saat ini atau terletak dalam Ilmu pengetahuan yang kita miliki hari ini untuk mendorong perubahan sosial di dalam masyarakat?  
Adalah pilihan bagi kita ketika hadir dibangku kuliah dengan orientasi mengejar nilai tanpa mampu mempararelkan dengan situasi yang terjadi, atau kita sadar bahwa bangsa ini menjadi tanggung jawab kita selaku Pemuda-Pemudi Indonesia dengan kalbu Nasionalime akan membawa pada perubahan yang didalamnya terjadi persatuan, pluralitas dan jiwa-jiwa kritis rasional.
Semoga menjadi pembacaan bagi kawan-kawan yang senantiasa mendambakan perubahan atas Tanah Nusantara seutuhnya, yang mana menjadi seorang Intelektual harus mempunyai keberpihakan pada masyarakatnya, bahwa kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya harus segera dikabarkan ke segala penjuru.
Semoga saya tak salah menaruh harapan ini kepada kawan-kawan semua….

“Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera,
kebenaran akan menjadi barisan depan mata dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.”
(Yesaya : 58:8)

MENDIDIK RAK’JAT DENGAN PERGERAKAN
MENDIDIK PENGUASA DENGAN PERLAWANAN


[1] Edukasi dalam Politik Etis ini bukanlah suatu politik balas budinya Belanda, melainkan kaum-kaum terdidik itu dipersiapkan untuk menjadi sekrup-sekrup industri kereta api bagi keberlangsungan eksploitasi Belanda.
[2] Intelektual Organik merupakan intelektual yang bergerak atas amanat penindasan rakyat, jadi dia bukan Intelektual Tradisional yang bagi Gramsci adalah seorang intelektual yang tanpa hati nurani dan konservatif pemikirannya.
[3] Suatu paham yang mengajarkan mengenai bentuk-bentuk modernisasi yang ditandai dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi dan symbol-simbol kemwahan yang lainnya yang sama sakali tidak dibutuhkan rakyat Indonesia kala itu.
[4] Dengan tidak adanya subsidi pendidikan ini praktek-praktek komersialisasi pendidikan mulai merajela. Hanya ada dua pilihan bagi institusi kampus untuk menghadapi ini, berbisnis atau menaikkan harganya.
[5] Kemunculan UU Sistem Pendidikan Nasional ini ditutupi dengan isu-isu SARA guna mengaburkan semangat liberalisasi dalam dunia pendidikan itu sendiri yang berupa otonomi kampus.

REVOLUSI

Kita bicara atas dengan Titah Pandita
tindakan kami, terjemahan titah
keputusan sudah ditetapkan
siapapun dia, tak berhak untuk merubah


zaman terus  berubah
semangat ini masih reinkarnasi zaman purbah
kami bicara hakikat istiadat
kalian cercah dengan gaya moderat


ini seruan, bukan guna-guna
kami ingin perubahan hingga titah pandita murni jadi pedoman
revolusi itu segera kita jadikan lebih nyata
biar para kutuk busuk bisa membusuk dalam pemikiran piciknya


salam kami, anak kapitang
pada waris pandita kami junjung
salam kami anak mo'mini
darah dan jiwa kami akan dikorbankan untuk bertarung


demi keberkatan
demi keselamatan
demi kekelargaan
demi kemenangan


Lessy yasello si paheta rawa wela
heu heu ee, titah heu heu eee


itulah bahasa terakhir yang hendak kami nyanyikan di medan
setlah bahasa, sabda, serta musyawarah tak lagi kalian pedulikan


Revolusi Harga Mati

Jumat, 08 Juli 2011

Pencari Hakikat

I.  Merantau Sejak Dalam Kandungan


Saat fajar mulai memecah sinar dari ufuk timur, kicauan burung-burung meramaikan angkasa. langit biru tampak terlihat, pagipun datang menyapa semua mahluk yang tertidur. pagi itu, tepat pada jum'at 15 november 1987, suara bayi mungil baru terdengar dari dalam serambi. wajah lugu sang bayi melukiskan senyum pada sanak famili. betapa bahagia ayah bayi itu, karena harapannya telah terpenuhi. penantian 9 bulan sang ayah tidak sia sia, hingga asa pun terwujud. bayi itu dinamakan arif talaohu. kedatangan bayi itu dalam keluarga sederhana ini, turut membawah cahaya harapan untuk ayahnya bisa kembali ke kampung halaman. tak disadari, anak bayi itu sudah merantau sejak dalam kandungan. berpuluh tahun ayahnya setia mendampingi ibunya ditanah rantau tempat ibunya dilahirkan, hingga membuat ayahnya tak tega meninggalkan mertunya sendirian. sabar, ikhlas menjalani hari hari jauh dari keluarga, sang ayah harus bisa bertahan. 

waktu terus bergulir, hari demi hari, keluarga itu harus bertarung menantang pahitnya hidup. sang ibu, sesuai rutinitas berangkat ke sekolah untuk mengajar, ayahnya pun menjalani profesi mandor diperusahan konstruksi. ary mulai tumbuh besar, dari merangkak sampai mampu bertumpu diatas kaki sendiri. mereka hidup dalam kesederhanaan, 3 kakaknya pun gembira menemani adik bungsu mereka bermain main.

kehidupan mereka sangat jauh dari kultur dan adat istiadat ayahnya. 4 bersaudara itu tumbuh besar dengan budaya leluhur ibunya, hingga mereka tak pernah menyentuh sedikitpun kearifan warisan ayahnya. ini yang membuah gundah perasaan ayah mereka. keharusan untuk bisa kembali menjalani hari tua, akhirnya memaksa sang ayah menabur harapan pada perjalanan si bungsu agar kelak dia bsia membawa ketiga saudaranya kembali menikmati dan melakoni kearifan leluhur mereka. sunatan kedua kakak nya pun dilakukan dengan adat istiadat leluhur ibunya. ayahnya resah, dan makin gelisah karena tak punya otoritas atas kehendak ibunda yang dikasihinya. 


waktupun berlajan seperti adanya, zaman bertambah maju, umur pun mulai menua. hingga batas harapan tak lagi bisa diwujudkan. ary mulai duduk dibangku pendidikan. seperti anak anak lainya, menikmati suasana keramaian dilingkungan sekolah. belajar bersama serta becanda dengan anak-anak sekelasnya. dibangku sekolah dasar, ary sudah menunjukan kepiawaiannya dengan logika, berpikir keras untuk bsia memecahkan suatu maslah ataupun mengejar yang dia sukai. ini yang membuat dia selalu mencoba memahami apa yang ganjal dipikirannya. 


satu saat momentum kesadaran berbudaya sesuai titah leluhurnya itu muncul dalam benak ary. ketika itu dia di daftarkan pada perlombaan lukis siswa tingkat SD sekecamatan. seleksi ketat hingga akhirnya ary dan keempat temannya mewakili sekolah mereka dalam perlombaan tersebut. mm "pilihan yang sulit untuk seleksi siswa siswa berbakat"..ujar guru keseniannya. namun merekalah yang terbaik dari semua kandidat yang ada. setelah terpilih, ary kemudian mulai mencari-cari ide untuk dijadikan konsep lukisan diperlombaan nantinya. "huuuff .. apa kira-kira ide unik ya" kata ary. . . berjalan sembari menerawang, akhirnya dilihat suatu obyek yaitu patung yang berbentuk tarian adat cakalele. "wah.. kayanya gambar manusia menari cakalele lebih bagus", bagi dia jangkauan anak seumuran dia tidak mungkin berpikir tentang konsep tarian adat hingga dia jadikan ide itu sebagai konsep lukisan pada perlombaan esok.
malam sebelum menjelang lomba, ary bincang bincang dengan ayahnya....
ary : pak...besok ary mau ikut lomba lukis nie?
Ayah: memangnya adek (ary),udah bisa melukis?
Ary : wah, jangan anggap remeh donk yah, ary bsia ciplak foto papa loo..
ayah: mank bisa, coba buktiiin ke bapak skr..


ary pun mengiyakan untuk membolehkan kepiawaiannya melukin didepan ayah. mengikuti foto ayahnya sendiri... "kasih waktu 30 menit pak"..ujar si ary.


Ayah : iya, bapak kasih waktu sampe selesai. anggap aja bapak juri ya dek..hihihi
Ary : ah ga bisa, entar kalau foto papa jelek malah nilainya buruk lagi..papa kan ga bisa menilai dengan mata seniman..!!
Ayah: iya iya


setelah 30 menit kemudian, dia pun menyelesaikan ciplakan foto ayahnya. sang ayah terkesima, sekalipun tidak mirip, namun untuk ukura nak kecil dia mampu membuat gambar sebagus ini. pikir ayahnya... "ary bagus, ayah suka.. kalau di kasih nilai, dapat 100"...kata ayahnya..


Ayah : " jadi besok ary punya ide apa yang mau di gambar saat perlombaan".
Ary : " jadi gini papa, ary ingin gambar tarian adat cakalele seperti patung di samping rumah raja".
Ayah: "boleh juga tuh, kebetulan tarian itu juga ada di kampung papa".
Ary : " mank disana ada pa? kok papa ga pernah cerita? ceritain donk, sapa tau ary juga bisa gambar".


kemudian karena sang ayah melihat keingin-tahuan sang anak akan adat negerinya, ayahnya pun bercerita tentang adat cakalele dikampung leluhur ayahnya. setelah selesai bercerita, arypun tertarik untuk menjadikannya sebagai tema lukisan dilomba nanti. dia dapat gambaran ilustrasi ayahnya hingga tidak tidur hanya untuk berimaginasi mewujudkan cita rasa kearifan dalam gambar. 


malam makin larut, bulan terus bersinar menerangi bumi dalam kegelapan di ramaikan gemerlapnya bintang-bintang di angkasa. ary tertidur, setelah menyelesaikan gambarnya. sang ayah pun menengoknya diruang belajar. ada satu perasaan kuat dari ayahnya melihat hasil lukisan anaknya, sambil bicara sendiri "ini sudah jadi panggilan darah anak adat". ada sedikit harapan kuat, ayahnya makin yakin harapannya mampu tersalurkan lewat anak bungsunya.


matahari pagi kembali menebar kehidupan disemesta raya, tumbuh-tumbuhan menyambut berkah ilahi dengan sujud syukur nikmat atas karunia khalik. pagi itu terdengar alarm jam dinding, menandakan pukul 07:00 WIT, si ary bangun bergegas menuju kamar mandi. karena perlombaan akan segera dimulai dua jam kemudian. setlah mandi dan sarapan, ary langsung menuju sekolah. diperjalanannya, dia selalu terpikirkan dengan konsep yang akan dibawakan pada perlombaan nanti. senang dengan keunikan konsepnya, namun disisi lain dia juga sedih belum pernah lihat langsung pertunjukan tarian adat dinegeri bapaknya. tapi dia coba menyembunyikan perasaanya itu, berusaha konsentrasi pada gagasan dia anggap matang. 


suara sorak sorak meramaikan arena sekolahan, iring-iringan musik jadi pertunjukan untuk pelepasan kandidat lomba lukis. wajah ceria nampak pada para peserta, sembari sambil bicara soal tema apa yang hendak dibawa oleh masing-masing kandidat.


Bersambung................................................





Selasa, 05 Juli 2011

Perempuan

Aku terpesona dengan keindahanmu
kelembutanmu menjerat ingatanku akan tuhanku
tak sadar perasaanku terkoyak oleh kecantikanmu
bahkan kehangatanmu buat aku tak berdaya dalam pelukanmu

Dosaku sudah mampu ku ukur
tiap kali kurefleksikan, ternyata akumulasinya ada pada kalian
sunggu tdiak ada idiology yang mampu merubah cara pandangku terhadap kalian
birahi ku pun tak mampu ku cabut dari badan hina ini

terpukau dengan kelezatan bersenggama
terlelap dengan bahasa manja manismu hai kaum wanita
tapi itulah, satu satunya mahluk yang berasal dari diriku sebagai adam
aku tersipu malu jika mengingat pencipta kelezatan

huh, diberi pernikahan, aku takut melapalkan janji setia dengan kaum wanita
coba penjarakan syahwat dalam shaum, tetap saja aku tamak dengan makanan
aku ingin menikah, untuk bisa mengarahkan syahwatku pada jalur Agama
dengan memiliki perempuan yang akan ku anggap, kupilih dan ku patenkan sebagai hawa.
hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa memandang wanita dari kaca mata tuhan

Jumat, 01 Juli 2011

JEJAK KAPITANG

Setitik mani kapitang menyatu jadi  darah daging
cerita perjuangan dengan bahasa perang
terus berlari mengejar cita pengantar menang
mundur selangkah bukan sifat anak kapitang

sari pati sagu menjelma jadi raga kekar
sumsum ikan cakalang deng tuna mengokohkan  tulang
setiap nadi dialiri darah kapitang
ingatan penuh dengan petuah dan gagasan moyang-moyang
salawaku deng parang jadi alat pengukir kemenangan

Janji tetuah menjaga ukhuwah
di amanahkan dalam setiap langkah
pertahankan setiap janji yang sudah disabdah
walau nyawa bagai taruhan, jangan sampai menyerah

hikayat perjuangan bukan sekedar kenangan
generasi kami akan berkarya ala kapitang
sampai tuntas setiap penghalang
yang kami capai kenyamanan dan kemenangan

Jaya Kita
junjung petuah

Senin, 27 Juni 2011

Birahi batu lompatan menuju Arasy

tiada rasa melebihi birahi
tiada nikmat yang indah selezat sexual
itulah kata-kata nafsu menjerat rasa
terjebak dalam lumpur kehinaan

asalnya adalah halal
datang hukum membatasi geraknya
liar meragahi seluruh lembaga adam
menjadi musuh terasa nan samar

nisya'i jadi tawaran dari khaliq
mahluk berperang melawan kehendak bebas
kobaran perang badar tidak sebanding
tampak samar namun bukti ketangguhan sebagai musuh

tercipta berpasangan
kelola kehendak supaya manut pada tuan diri
birahi mengikat bak kenikmatan
namun hakikinya hanya ilusi nafsu

skali lagi, nisya'i mendorong diri menjadi takwa
akad nikah menjadi kunci borgol birahi
puasa membunuh tuan nafsu dalam lembaga adam
membawa diri menuju khalik

birahi terbunuh, sebagai capaian badan
kehendak tersalur pada ilahi,sebagai sasaran
mengenal allah denganmencari pencipta maha rasa
karena hakikinya indahnya birahi tak lebih indah dari penciptanya
itulah birahi, dijadikan batu pijakan melompat ke arasy illah
hingga cinta bersemaam dalam hati sanubari

(ary Toteles, 29-juny - 2011)