Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Minggu, 26 Juni 2011

Munajat Sayyidina Ali R.a

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah sampaikan salawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad



Dengarlah doaku, ketika aku berdoa pada-Mu

Dengarlah seruanku, ketika aku menyuru-Mu

Hampiri daku, ketika aku memanggil-Mu



Aku telah lari menuju-Mu, berhenti di hadapan-Mu,

bersimpuh pada-Mu, berserah diri pada-Mu,

mengharapkan pahalaku dari hadirat-Mu



Engkau ketahui apa yang ada dalam diriku.

Engkau kenali segala keperluanku.

Engkau arif akan apa yang tergetar dalam hatiku.



Tak tersembunyi bagi-Mu urusan kepulangan dan kembaliku

dan apa yang ingin aku ungkapkan semuanya dari mulutku

dan aku ucapkan dengan keinginanku dan mengharapkannya untuk hari akhirku.

Sudah berlaku ketentuan-Mu padaku, duhai junjunganku, apa yang terjadi padaku sampai akhir umurku, baik yang tersembunyi maupun yang tampak padaku, pada tangan-Mu bukan pada tangan selain-Mu kelebihanku dan kekuranganku, manfaatku dan madaratku.



Tuhanku, jika sekiranya Engkau menahan rezekiku, maka siapa lagi yang memberikan rizki padaku. Jika Engkau mengabaikan aku, maka siapa lagi yang akan membelaku.





Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari marah-Mu dan terlepasnya murka-Mu



Tuhanku, jika aku tidak layak memperoleh kasih-Mu, Engkau sangat layak untuk memberikan anugrah kepadaku dengan keluasan karunia-Mu.





Tuhanku, seakan diriku telah tersungkur di hadapan-Mu, dan sebaik-baiknya

kepasrahaku padaMu telah menangui aku, lalu Engkau berkata apa yang layak Engkau katakan dan Kauliputi aku dengan ampunan-Mu.



Tuhanku, jika Engkau ampuni aku siapa lagi yang lebih pantas melakuakanya salain-Mu. Jika sekiranya ajalku sudah dekat,tetapi amalku tidak mendekatkanku kepadaMu, telah aku jadikan pengakuan dosa ini sebagai wasilahku kepada-Mu.





Tuhanku, aku telah berbuat zalim dalam memandang diriku.

Celaka sudah diriku, jika saja Engkau tidak mengampuninya.





Tuhanku, tidak henti-hentinya kebaikan-Mu mengalir padaku hari-hari hidupku,

maka jangan putuskan kebaikan-Mu padaku pada hari kematianku.





Tuhanku, bagaimana mungkin aku berputus asa pada pandangan baikku kepada-Mu

setelah kematianku, padahal Engkau tidak memberikan kepadaku selain yang indah saja dalam hidupku.





Tuhanku, perlakukanlah aku apa yang Engkau layak melakukannya. Kembalilah

kepadaku dengan karunia-Mu yang Kauberikan kepada pendosa yang sudah dipenuhi kebodohannya.



Tuhanku, jika telah Kaututupi dosa-dosaku di dunia, padahal aku sangat memerlukan penutupan pada hari akhirat nanti, karena Engkau tidak menampakkannya di hadapan orang-orang yang saleh, maka jangan mempermalukan aku pada hari kiamat dihadapan para saksi.





Tuhanku, anugrah-Mu meluaskan harapku; Maaf-Mu lebih utama dari amalku.



Tuhanku, bahagian aku ketika berjumpa dengan-Mu pada hari kautetapan keputusa di antara hamba-hamba-Mu.



Tuhanku, permohonan maafku kepada-Mu adalah permohonan seseorang yang sangat memerlukan penerimaan permohonannya. Terimalah permohonan maafku. Wahai yang paling pemurah untuk dimohonkan oleh para pendosa.



Tuhanku, janganlah kautolakkan keperlianku, jangan Kausia-siakan kedambaanku,jangan kau putuskan dariMu harapanku dan cita-citaku.



Tuhanku, sekiranya Engkau ingin menjatuhkan aku, tentulah Engkau tidak memberikan petunjuk kepadaku; sekiranyn Engkau ingin mempermalukanku, tentulah Engkau tidak menyelamatkan daku.





Tuhanku, tak pernah aku mengira Engkau akan menolak keperluan yang untuk

memperolehnya dari sisi-Mu telah kuhabiskan seluruh umurku.



Tuhanku, bagi-Mu segala sanjung dan puja, selama-lamanya, sanjugan yang kekal abadi, berlansung terus, takpernah habis, sanjung-puja seperti yang Engkau cintai dan Engaku ridhai.





Tuhanku, jika Engkau menuntutku karena kesalahanku,aku akan menuntut-Mu dengan maaf-Mu; jika Engkau menuntutku dengan dosaku, aku akan menuntutmu dengan ampunan-Mu; jika Engaku memasukkan aku kedalam neraka, aku akan memberitahukan kepada para penghuninya bahwa aku mencintai-Mu.

(Mafatihul Jinan, bab2)

Oleh Oleh dari Langit

malam itu dingin.

angin kencang menyambar badan

gemuruh guntur diiringi kilat.

hujan pun menyirami bumi.

uhh seram..seru temanku.



ah, tapi malam ini aku tetap bergembirah..

berusaha tidak naif memahami alam..

kilat menyambar tidaklah maslah..

mmm. ayolah kita nikmati malam ini..



hmm, mereka tertidur lelap.

menuduh hujan sebagai pengacau..

aneh, padahal hujan itulah yang menghadirkan kelelapan tidurnya.



aku diam..

dan menikmati irama gemuruh angin..

getaran guntur menghantam kalbu.

oh. malam,



aku tidak tau,

apakah ini bencana bagi sudaraku dibawah kaki merapi?

akupun tidak tau..

apakah ini anugerah bagi para petani ?

yang kupahami dalam kalbuku, inilah oleh-oleh dari langit.

guntur membawa getaran sinyal untuk mengingat akan azab sang kekasih.

kilat memperlihatkan betapa pedihnya siksaan sang kekasih.

hujan mengingatkan ku akan karunia sang kekasih.



terima kasih tuhan, atas kiriman oleh-olehmu.

aku sungguh senang menikmatinya.



amin.



Rabu 04 mei 2011

Sejarah dan menyejarah

Membaca untuk memahami

memahami untuk mencari

mencari untuk mengukuhkan keyakinan

keyakinan untuk bertindak



berproses bukan dalam khayal,

dari indrawi menjadi imahinasi

dari imajinasi dirangkai menjadi yakin

dan yakin menuntun tindakan.



ayolah bertindak, selagi nafas masih melekat pada paru-paru

ayolah berbicara, selagi darah masih mengalir dalam nadi

ayolah jangan cukupkan iman dengan memahami

ayo, memahami bukan mema'afkan, namun bertindak sesuai dengan kata yakin

Sejarah bukan hanya dipahami

namun yang terpenting adalah keterlibatan dalam sejarah dan menyejarah sepanjang hayat

"DOUBLE U - EI" (WA)



DOUBLE U - EI


Dari mata Turun ke hati
dari ide menjadi bukti
ini cerita negeri yang tak pernah mati
dalam hikayat ibu pertiwi


ini persuasif harapan
oleh pemuda masa depan
kata - kata membawah sebuah kepastian
kepastian atas harapan memperpanjang nafas perjuangan

perjalanan akan segerah usai
karna kita tau, surga tinggal beberapa langkah
maka kami tidak cukupkan perjalanan sampai di coretan ini
semoga auliya memberkati jiwa insani

ABOUT TEKNIK SIPIL (Civil Enggeneering)

coretan singkat ini saya dedikasikan untuk calon mahasiswa baru yang ingin ambil jurusan teknik sipil.


A. Persiapan Pra-Kuliah

awal saya memilih teknik sipil sebagai disiplin akademik tahun 2005 karena hoby saya dengan gambar-gambar. disamping itu, waktu SMA saya memang sangat suka dengan hitungan. bagiku dua point yaitu suka gambar dan perhitungan (suka menghitung) adalah salah satu modal dasar untuk bergelut didunia ke-tehnik sipilan. sehingga proses untuk menggeluti dunia sipil kemudian bisa dinikmati dan dijalani dengan nyaman. namun dua hal tersebut tidak mutlak, karena memang dalam beberapa kasus tertentu butuh kerja keras dan usaha latihan untuk bisa lebih matang. itu mungkin tahap awal untuk sukses menjalani proses pembelajaran akademik dijurusan teknik sipil.


B. Proses Perkuliahan

secara garis besar, materi perkuliahan teknik sipil bisa dikategori sebagai berikut, seperti Analisis struktur (mekanika rekayasa), Irigasi, jalan raya (transportasi), Gedung bertingkat, dan ilmu tanah.

Analisis Struktur adalah mata kuliah yang sangat penting diteknik sipil. bisa dibilang mata kuliah ini adalah Tulang Punggung Teknik Sipil. hal ini dikarenakan hampir semua bangunan konstruksi melalui tahap analisis struktur bangunan, baik itu bangunan air maupun bangunan gedung dan jalan raya. analisis struktur adalah mencari keseimbangan bangunan terhadap gaya-gaya yang bekerja pada struktur bangunan. ada banyak metode yang digunakan sesuai karakteristik bangunan maupun geometrinya. untuk turunan aplikasi nya bisa diterapkan pada struktur rangka baja, struktur beton bertulang, maupun struktur kayu.

Irigasi adalah mata kuliah yang berhubungan dengan seluk beluk bangunan air, seperti Bendungan, cek dam, saluran drainase, pengolahan limbah, dll.

Jalan Raya adalah mata kuliah yang berhubungan dengan Perencanaan dan perancangan jalan raya. dari perkerasan jalan, geometri jalan, serta perangkat bangunan pendukung jalan raya.

Transportasi adlah mata kuliah yang berhubungan dengan aktivitas transportasi lalulintas, seperti perencanaan Lampu merah atau Light traffic, managemen parkiran, managemen angkutan umum, dll. semua itu bertujuan untuk memperlancar aktivitas lalulintas. transportasi juga bisa berhubungan dengan jembatan, maupun pelabuhan (transportasi laut), dan bandara.

Gedung Bertingkat adalah mata kuliah yang sifatnya aplikatif, yaitu perencanaan. kenapa saya bilang aplikatif, karena disinilah kita menggabungkan beberapa mata kuliah seperti beton bertulang, rangka baja, managemen proyek, managemen peralatan konstruksi, analisis struktur, pondasi dan ilmu tanah.


menjalani perkuliahan teknik sipil, tidaklah sama dengan disiplin ilmu eksata maupun non eksata. teknik sipil mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakanya dengan disiplin ilmu lainnya. mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa teknik sipil sangat syarat dengan "angka-angka" yang bikin pusing kepala. hehehhe (pantesan aja banyak yang kabur).. namun bagiku itulah ciri khas teknik sipil, disatu sisisecara teoritis membiasakan kita dengan study kasus analisis dan lebih matang dalam logika matematik. disisi lain, berhubungan dengan angka-angka seperti itu mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan, yaitu penguatan secara mentalitas. hal ini disebabkan kebiasaan menahan beban pikiran (analisis matematic) sehingga penerapan dipraktik kehidupan membuat kita terbiasa dengan proses berpikir.


C. Pasca Kuliah

prospek lapangan kerja untuk sarjana teknik sipil cukup luas. kalau ingin jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) banyak instansi yang membutuhkan tenaga teknik sipil. seperti dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Tata Kota, Dll. .. jika ingin bekerja di perusahan swasta, ini banyak sekali yang membutuhkan tenaga teknik sipil, seperti konsultan, kontraktor, perusahan pertambangan,perusahan perbankan, dll. namun bagiku tidak cukup disitu, mengingat sarjana teknik sipil tidak sedikit, berarti kita punya banyak kompetitor yang jadi saingan kita. menurut aku, belajar yang giat, dan bekerja keras menjadi kunci keberhasilan. namun terlepas dari itu, keberhasilan adalah masalah nasib. biasanya yang sukses adalah "anak orang kaya" , "anak pejabat", "orang yang banyak teman (jaringan)". oleh karena itu, jika kamu bukan anak pejabat, dan bukan anak orang kaya, hendaklah perbanyak teman atau jaringan.. karena teman adalah aset berharga dikemudian hari.


GOOD LUCK !!!!!!!!!!!!!!!!!!


By Ary Toteles ( 27 juni 2011)

Jumat, 24 Juni 2011

Bapak Tanggungan Anak

Bapak tanggungan anak.
Menanti anak tak kunjung tiba.
Harapan bapak dapat bersua.
Esok hari hidup bersama.
Janji diikat sebelum dewasa.
Alam yang luas siap sedia.
Alquranpetunjuk sudah ada.
Masa berlalu memisahkan kita.
Anak hilang entah kemana.
Janji dipegang tidak di lupa.
Hubungan rapat tiada dirasa.
Leka anak di arus dunia.
Bapak menanti di hujung sana.
Anak terlena dibuai nafsu.
Bapak berpesan ingat ia.
Jalan dilalu banyak berduri.
Jangan hilang tidak kembali.
Barang yang di amanah itu berharga.
Batu manikam di perut bumi.
Intan berlian di mahkota istana.
Jaga amanah bapak yang punya.
kalau subur ditanah rata.
Benih disemai menjulang tinggi.
Hilang ghaib kembali asli.
Pohon nyabebuah seratus kali.
Demikian kalau sudah menjadi.
Jikalau tidak hina dina dan rugi.
Tempat kembali panas sekali.
Berpisah lah bapak, berpisah lah anak.
Masing-masing membawa diri.
Nasib berubah mengikut sumpah.
Janji dahulu di khianati sudah.
Putus pertalian tidak berjumpa lagi.
Hanya menantikan generasi kita kalau ada.
Betul bela pelihara cucu dapat menyambung jasa.
Titah di junjung amanah disanjung.
Membawa pesan Rasul yang agung.
Akhir kata Assalamualaikum.

Buat renungan kita bersama.Sekian dahulu Wassalam.

Allah ada lah Dzat, Ibu segala nyawa.
Muhammad ada lah bapak segala Roh.
Adam ada lah bapak segala Tubuh.

Kita ada lah anak-anakAdam. Kita diingat kan ,"supaya jangan menyembah
syaitan?" "Sesungguhnya syaitan itu adalah "musuh yang Nyata bagi kita".
Barang dunia semua nyanyata.Terdedah.
Barang di akhirat semua nyaGhiab.Tertutup.
Ada lah tanggung jawab anak pada menolong Ibu Baba nya.

Salman Al-farisi Mencari Kebenaran

Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi. Namun dia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Pergolakan batin itulah yang mendorongnya untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya.

Kisah Salman diceritakan langsung kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas:

Salman dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar.

Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.

Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.

“Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.”

“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai salat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’”.

Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. “Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”

Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: “Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.”

“Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita,” tegas Salman.

Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya.

Salman tak kehabisan akan dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah.

Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: “Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan salat dengan anda.”

Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.

Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.

Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya.

Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.

Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.

Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau.

Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.

Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah karena idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang Khandaq. Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel. Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.

Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.

Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin.

Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.

Diolah dari Wikipedia, The Search for The Truth -by a Man Known as Salman the Persian karangan Dr Saleh as-Saleh, dan sumber-sumber lainnya. (jri)

Sumber: ramadan.okezone.com.

Nabi Musa A.s Pingsan

Nabi Musa ‘alaihis-salaam’ telah memenuhi panggilan Allah swt., ia pun menitipkan Bani Israil ke Nabi Harun as., saudaranya, untuk naik ke gunung Sinai (Thuursina), gunung Allah yang keramat itu. Setelah ia menyempurnakan 40 malam yang diisi dengan puasa dan beribadat sendirian di atas gunung itu, Allah swt. pun berfirman dan menurunkan Taurat kepadanya. Kemudian Nabi Musa as. pun sangat rindu untuk dapat melihat Wajah Sang Kekasih yang telah berkata-kata kepadanya, Wajah Rabb-nya.

“Dan tatkala Musa datang menurut waktu yang telah Kami tentukan, dan telah berfirman Rabb-nya kepadanya, berkatalah ia: ‘Ya Rabbi perlihatkanlah (Diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat memandang Engkau’. Berkatalah Allah: ‘Engkau sekali-kali tidak akan mampu untuk melihat-Ku, akan tetapi arahkanlah pandangan (engkau) ke gunung itu, maka jika ia tetap pada tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku!’.”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.

Setelah mendengar permintaan Nabi Musa as. itu, kemudian Allah swt. berfirman: “Wahai putra Imran, sesungguhnya tidak akan ada seorang pun yang sanggup untuk melihat-Ku, kemudian ia mampu untuk tetap hidup!”

Nabi Musa as. berkata: “Rabbi, tidak ada sesuatu pun yang menyekutui-Mu, sesungguhnya melihat-Mu dan kemudian mati itu lebih aku sukai daripada aku terus hidup dengan tanpa melihat-Mu! Rabbi, sempurnakanlah nikmat, anugrah, dan hikmat-Mu kepadaku dengan mengabulkan permohonanku ini, setelah itu aku rela mati!”

Ibnu Abbas ra., sahabat Rasulullah saw., meriwayatkan bahwa ketika Allah swt. mengetahui bahwa Nabi Musa as. ingin sekali permohonannya dikabulkan, maka berfirmanlah Allah swt.: “Pergilah engkau, dan lihatlah batu yang ada di atas puncak gunung itu, duduklah engkau di atas batu itu, kemudian Aku akan menurunkan balatentara-Ku kepadamu!”

Nabi Musa as. pun melaksanakan perintah Allah swt. tersebut. Dan ketika ia telah berada di atas batu itu, Allah swt. pun memerintahkan balatentara-Nya, para Malaikat hingga langit ketujuh, untuk menampakkan diri kepadanya.

Diperintahkan-Nya para Malaikat penghuni langit dunia untuk menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. Mereka pun berlalu di hadapan Nabi Musa as. sambil mengeraskan suara tasbih dan tahlil mereka, bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar.

Kemudian, para Malaikat penghuni langit kedua diperintahkan-Nya untuk menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as., mereka pun melaksanakannya. Mereka berlalu di hadapan Nabi Musa as. dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam. Mereka ini bersayap dan memiliki raut muka, diantara mereka ada yang berbentuk seperti singa. Mereka mengeraskan suara-suara tasbihnya.

Mendengan teriakan suara itu, Nabi Musa as. pun merasa ngeri, dan kemudian berkata: “Ya Rabbi, sungguh aku menyesal atas permohonanku. Rabbi, apakah Engkau berkenan untuk menyelamatkan aku dari tempat yang aku duduki ini?”

Pimpinan dari kelompok Malaikat tersebut berkata: “Hai Musa, bersabarlah atas apa yang engkau minta, apa yang engkau lihat ini baru sebagian kecil saja!”

Allah swt. kemudian memerintahkan para Malaikat penghuni langit ketiga agar mereka turun dan menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. Lalu, keluarlah Malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya dengan beragam bentuk dan warnanya. Bentuk mereka ada yang seperti api yang menjilat-jilat, mereka memekikkan tasbih dan tahlil dengan suara yang hiruk-pikuk.

Mendengar suara ini semakin terkejutlah Nabi Musa as. dan timbullah rasa su’udzdzan dalam dadanya, bahkan berputus asa untuk hidup. Kemudian pemimpin para Malaikat dari kelompok ketiga ini berkata: “Wahai putra Imran, bersabarlah hingga engkau melihat lagi apa yang engkau tidak sanggup lagi untuk melihatnya!”

Allah swt. kemudian menurunkan wahyu kepada para Malaikat penghuni langit keempat, “Turunlah kamu sekalian kepada Musa dengan mengumandangkan tasbih!”

Para Malaikat langit keempat ini pun turun. Diantara mereka ada yang berbentuk seperti kobaran api yang menjilat-jilat, dan ada pula yang seperti salju. Mereka mempunyai suara yang melengking dengan mengumandangkan tasbih dan taqdis. Suara mereka berbeda dengan suara Malaikat-malaikat terdahulu. Kepada Nabi Musa as. ketua dari kelompok ini berkata: “Hai Musa! Bersabarlah atas apa yang engkau minta!”

Demikianlah, penghuni dari setiap langit hingga penghuni langit ketujuh satu demi satu turun dan menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. dengan warna dan bentuk yang beragam. Semua Malaikat tersebut bergerak maju sambil cahayanya menyambar semua mata yang ada. Mereka ini datang dengan membawa tombak-tombak panjang. Setiap tombak itu panjangnya sepanjang sebatang pohon kurma yang tinggi dan besar. Tombak-tombak itu bagaikan api yang bersinar terang-benderang melebihi sinar matahari.

Nabi Musa as diatas Gunung SinaiNabi Musa as. menangis sambil meratap-ratap, katanya: “Ya Rabbi, ingatlah aku, jangan Engkau lupakan diriku ini! Aku adalah hamba-Mu! Aku tidak mempunyai keyakinan bahwa aku akan selamat dari tempat yang aku duduki ini! Jika aku keluar, aku akan terbakar, dan jika aku tetap di tempat ini maka aku akan mati!”

Ketua kelompok Malaikat itu pun berkata kepada Nabi Musa as.: “Nyaris dirimu dipenuhi dengan ketakutan, dan nyaris pula hatimu terlepas! Tempat yang kamu gunakan untuk duduk inilah merupakan tempat yang akan kamu pergunakan untuk melihat-Nya!”

Kemudian turunlah Malaikat Jibril as., Mika’il as., dan Israfil as. beserta seluruh Malaikat penghuni ketujuh langit yang ada, termasuk para Malaikat pemikul Al-’Arsy dan Al-Kursi. Mereka secara bersama-sama menghadap kapada Nabi Musa as. seraya berkata: “Wahai orang yang terus-menerus salah! Apa yang menyebabkanmu naik ke atas bukit ini? Mengapa kamu memberanikan diri meminta kepada Rabb-mu untuk dapat melihat kepada-Nya!?”

Nabi Musa as. terus menangis hingga gemetaranlah kedua lututnya, dan seakan-akan luruh tulang-tulang persendiannya.

Ketika Allah swt. melihat semua itu, maka ditampakkan-Nya lah kepada Nabi Musa as. tiang-tiang penyangga Al-’Arsy, lalu Nabi Musa as. bersandar pada salah satu tiang tersebut sehingga hatinya menjadi tenang.

Malaikat Israfil kemudian berkata kepadanya: “Hai Musa! Demi Allah, kami ini sekalipun sebagai pemimpin-pemimpin para Malaikat, sejak kami semua diciptakan, kami tidak berani untuk mengangkat pandangan mata kami ke arah Al-’Arsy! Karena kami sangat khawatir dan sangat takut! Mengapa kamu sampai berani melakukan hal ini wahai hamba yang lemah!?”

Setelah hatinya tenang, Nabi Musa as. menjawab: “Wahai Israfil! Aku ingin mengetahui akan Keagungan Wajah Rabb-ku, yang selama ini aku belum pernah melihatnya”

Allah swt. kemudian menurunkan wahyu kepada langit: “Aku akan menampakkan-Diri, bertajalli pada gunung itu!”

Maka bergetarlah seluruh langit dan bumi, gunung-gunung, matahari, bulan, mega, surga, neraka, para Malaikat dan samudera. Semua tersungkur bersujud, sementara Nabi Musa as. masih memandang ke arah gunung itu.

“Tatkala Rabb-nya menampakkan Diri (bertajalli) di atas gunung itu, maka hancur luluh lah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.

Nabi Musa as. seakan-akan mati karena pancaran Cahaya Allah swt. Yang Mulia, dan ia terjatuh dari batu, dan batu itu sendiri terjungkal, terbalik menjadi semacam kubah yang menaungi Nabi Musa as. agar tidak terbakar Cahaya.

Kemudian Allah swt. mengutus Malaikat Jibril as. untuk membalikkan batu itu dari tubuh Nabi Musa as., dan membimbingnya berdiri. Wajah Nabi Musa as. memancarkan cahaya kemuliaan, rambutnya memutih karena Cahaya.

“Maka setelah Musa tersadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku sungguh bertaubat kepada-Mu, dan aku adalah orang yang pertama kali beriman!”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.

Nabi Musa as. bertaubat atas apa yang ia minta, dan ia berkata: “Saya beriman, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mampu melihat-Mu dengan mata lahir, kecuali ia akan mati!”

Diadaptasi dari terjemahan kitab “Mukhtashar Kitaabit-Tawwabiin“, karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisy.

Zamzam A J Tanuwijaya
Bintaro, 27 Oktober 2009.