Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Mencari Jejak Di alam

Saya Berenang di Samudra Kehidupan dan belajar menerjang setiap deruh ombak. sembari meneguk Hikmah hidup.

Kamis, 23 Juni 2011

Tanpa judul

bicara cinta dengan derita...

berpikir untuk memiliki cinta

namun ternyata hampa berakhir luka. .. ...

manusia dengan lantang bicara cinta,

namun luput dan memeluk seraka..

angkuh berhias nafsu,

bahasa pujian tak cukup obati derita..

pusaka cinta akan tetap bersemayam,

selama ikrar cinta belum dibuktikan dengan cinta.

karna bahasa yang terucap hanyalah ucapan gombal untuk pemuas dahaga nafsu

begitulah aku, kamu dan kita semua,

selalu mendandan cintanya dengan cerminan materi

akhirnya ambisi merajalela dalam kalbu...



refleksi aku manusia serakah.. Ary toteles

Selasa, 21 Juni 2011

Nusa Kura

Gunung huruano menjulang tinggi sebagai pasak bagi langit hatuhaha
Aliran sungai waelapia dan aumael jadi urat nadi kehidupan umat Muhammad
Titah para pandita jadi tarikh dunia akhirat

Makrifah kehidupan adalah adalah siyarat perjalanan
Tanupat para latu dan lebe sebagai symbol pelaksanaan titah
Hirarki masjid pertanda maqom
Moga sirri mencapai persinggahan akhir

Kitabu-kitabu mengajarkan mikraj para mukmin
Kami ikuti sesuai sabda para guru
Tebaran noktah di limah penjuru
Menyebar keselamatan bagi ummat Muhammad
Sebagai abdi bani adam kami menjalankan titah pandita
Sembah kami dengan mengikuti siklus nokotah noktah dari imam

Salamat salamat ummat Muhammad adzma’in.

Cinta ilahi

Kuburkan rasa segala rasa

Mainkan peran rahasia dalam diri

Cinta hadir tanpa diduga

Walau amal tak seberapa



Dunia adalah penghalang

Nafsu bermain di atas pundak keimanan

Cinta terinjak oleh harsat semu

Kebahagiaanpun menjadi sirnah dikemudian



Perang uhud saksi kepiawaian perang

Namun itu hanya isyarat untuk perang kedirian

Cinta akan kugapai setelah syahwat terperangi

Kemenanganpun menjadi indah di waktu depan



Cahaya ilahi tertancap menaungi kalbu

Cinta cinta semu tampak palsu

Dengan bashira kita membedakan segala sesuatu

Meraih cinta dengan cintanya jualah tempat kami berlabu

Hari Esok

membuka jalan untuk kehidupan.
jangan terkungkung dalam pikiran.
secercah cahaya rahmat ada di balik bongkahan hantu nafsu,
meneteskan air harapan untuk meruntuhkan kepongahan kebahagiaan palsu.
mesti tertatih menapak hari esokku
tetap teguh menapaki setapak yang telah ku tancapkan dalam kalbu
 inilah aku,
selalu bertahan dalam pendirianku,
takan lapuk oleh ejekanmu,
takan silau dengan tawaranmu.
karna ku yakin janji tuhanku
maka aku tetap berdo'a dan usaha untu capai ASA itu.
(ary toteles 19 /6/11)

refleksi mahasiswa yang tidak kunjung lulus


Aku, jika tidak kerja tugas kuliah, takut tidak lulus, takut diomelin dosen, dan bahkan perasaan itu begitu nyata bagiku.
kuliah memangkas waktu hidup dibangku kuliah, bergelut dengan masa depan tak pasti, hanya untuk selembar ijazah, namun anehnya kita begitu setia dan menekuni agar bisa mendapat pujian (penghargaan dengan standar nilai) dari kampus.
semua di kuras oleh fakultas dan materi-materi yang dirangkai oleh mahluk-mahluk hina. aku pernah berpikir, apakah aku terlahirkan untuk menjadi seorang insinyur? ataukah hanya untuk menghamba? pencipta segala maujud tidak pernah memaksa kita, bahkan karunianya selalu dahului oleh murkanya..apa pantas kita mengabaikan dia?

kadang terpikir olehku,bagaimana jika rahasia ilahi akan siksa neraka dan nikmat surgawi terlihat nyata (zahir maupun batin), oh aku tidak bisa membayangkan. rasa takut akan mahluk hina (dosen-dosen) saja begitu besar,apalgi kalau sudah bisa menyadari secara utuh keberadaan wujud? Rasa ini yangsulit terbayang, bahkan kata-kata terbatas untuk merangkai kedasyatan hal itu. oh penciptaku,maafkan hamba yang hina, hamba terperangkap dalam penjara lupa. mohon jadikan kita semua menjadi orangyang senantiasa mensyukuri hayat yang dikandung badan. dengan karuniamulah semua akan menjadi indah dan abadi. (. by Ary talaohu 08/06/2011)

Minggu, 27 Februari 2011

Untuk Ayah



kita jauh, namun dekat.
kita terpisah, namun menyatu.
kita berbedan amun sama.
kita dua, tapi satu jua.

do'amu akan menjadi senjataku untuk mengarungi dunia.
rahasiamu menjadi perisai untukku.
petuahmu akan menjadi penuntun hidupku.
kitau jauh, namun dekat.

engkau telah pergi ke persinggahan berikutnya.
sementara aku? masih mencari alamat persinggahan itu.
engkau kembali, ke asalmu.
sementara aku? masih mencari bagaimana kembali sebelum waktu kembali.
engkau menjanjikan sebuah kebersamaan di ama mo'omini rasulullah.
janjimu mengharuskanku untuk kembali ke amanusa paunusa.
engkau pergi meninggalkan janji, engkau pergi menyisahkan tugas.
sementara aku? harus mengemban amanah dari "ata ala paiya hahuri malesia".
walau kita terpisah, namun selalu menyatu dalam tugas dan tanggung jawab sebagai amanah Mani Adam.

kini jasadmu telah kembali menjadi tanah,
ruh mu kembali bangkin untuk melanjutkan perjalannya.
dan aku?! aku masih tetaplah segumpal darah dan dagimmu yang terus membengkak.
aku masih tetaplah "SETITIK RAHASIAMU"..

kemaren, engkau bernapas, akupun dmeikian.
kemaren, engkau makan, begitu juga aku.
kemaren, kita sama, kita manusia.
kita dua, namun sekarang engkau tiada, engkau berubah.
namun bagiku, kita sekarang menyatu.
aku dengan kesadaranku, engkau dengan perjalananmu..
kita menyatu dalam inalillahi wa innailaihi rojiun..

Syair Perahu (syeikh hamza fansuri)

Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.
Hamzah Fansuri

http://www.acehprov.go.id/Serba-serbi/19.147.1464/Syair-Perahu--Hamzah-Fansuri

Selasa, 09 November 2010

TUHAN BERSABDA LEWAT ALAM

TUHAN KEMBALI MEMPERINGATI MANUSIA LEWAT ALAM